Kudus, isknews.com – Momen Maulid Nabi Muhammad SAW membawa berkah tersendiri bagi Fatimah (63), perajin keranjang golok-golok mentok asal Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Menjelang peringatan Mauludan tahun ini, orderan kerajinan anyamannya membanjir hingga ratusan buah.
Di kediamannya yang sederhana, Fatimah tampak sibuk menganyam keranjang berwarna merah hati dan hijau tua khas golok-golok mentok. Dengan cekatan, jemarinya merangkai bilah bambu halus menjadi wadah yang biasa dipakai untuk membungkus aneka makanan ringan saat peringatan Maulid Nabi.
Fatimah mengaku rutin membuat kerajinan tersebut setiap menjelang Mauludan. Tahun ini, ia mulai memproduksi sejak sebulan lalu. Hasilnya, sudah ada 600 keranjang yang laku, baik ukuran kecil maupun besar.
“Sejauh ini sudah laku sebanyak 600 keranjang golok-golok mentok. Banyak bakul yang ambil di tempat saya,” ujarnya, Rabu (3/9/2025).
Harga jualnya cukup terjangkau. Untuk keranjang ukuran kecil Rp 2.000 per buah, sedangkan ukuran besar Rp 2.500. Namun, Fatimah menjualnya secara borongan per sepuluh keranjang. “Kalau ukuran kecil seharga Rp 20 ribu per ompyok, sedangkan yang besar Rp 25 ribu,” jelasnya.
Ia bersyukur karena pesanan tahun ini terbilang ramai. Setiap hari ia mulai menganyam sejak pukul 09.00 WIB hingga malam. Dalam lima menit, satu keranjang bisa selesai dibuat. Keranjang kecil bisa memuat empat makanan ringan, sementara keranjang besar dapat diisi lima makanan ringan.
Fatimah menyebut Rabu (3/9/2025) ini sebagai hari terakhir dirinya memproduksi golok-golok mentok tahun ini, karena puncak peringatan Maulid Nabi jatuh pada Jumat (5/9/2025).
“Biasanya dari sekolahan atau musala beli golok-golok mentok untuk acara Mauludan. Setelah Mauludan selesai ya tidak ada pesanan lagi,” imbuhnya.
Tradisi keranjang golok-golok mentok ini pun menjadi bukti bahwa budaya lokal masih hidup di tengah masyarakat, sekaligus membuka pintu rezeki bagi perajinnya setiap datang bulan Maulid. (AS/YM)







