BPBD: Bencana Hidrometeorologi Kudus Mulai Reda, Dapur Umum Ditutup

oleh -238 Dilihat
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Jatmiko. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Kondisi bencana hidrometeorologi yang melanda Kabupaten Kudus sejak awal Januari 2026 mulai menunjukkan tanda-tanda mereda. Seiring menurunnya genangan dan berkurangnya jumlah pengungsi, seluruh dapur umum yang sebelumnya beroperasi kini resmi ditutup.

Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Kudus, Eko Hari Jatmiko, menjelaskan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang terjadi sejak Jumat (9/1/2026) sempat meningkatkan debit air sungai akibat kiriman dari wilayah hulu.

Situasi tersebut menyebabkan banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah. Air meluap hingga menggenangi permukiman warga, lahan pertanian, serta akses jalan dengan ketinggian antara 20 hingga 50 sentimeter,” jelas Eko.

Berdasarkan data BPBD per Sabtu (25/1/2026) pukul 17.00 WIB, pada kondisi awal bencana tercatat terdampak di 9 kecamatan dan 66 desa/kelurahan dengan total 70.610 jiwa dari 22.524 kepala keluarga (KK). Seiring kondisi yang membaik, saat ini dampak bencana tersisa di 3 kecamatan dan 8 desa/kelurahan, dengan 7.164 jiwa dari 2.264 KK yang masih terdampak.

Jumlah warga yang mengungsi juga mengalami penurunan signifikan. Dari sebelumnya mencapai 2.467 jiwa, kini hanya tersisa 11 jiwa dari 4 KK yang masih berada di lokasi pengungsian karena beberapa rumah belum sepenuhnya dapat ditempati kembali.

Sebagian besar warga sudah kembali ke rumah masing-masing setelah air surut dan lingkungan dinyatakan relatif aman,” ujarnya.

Dari sisi kerusakan, banjir sempat merendam 10.081 rumah pada awal kejadian. Hingga pembaruan terakhir, jumlah rumah terdampak tercatat 2.057 unit. Sementara itu, luasan lahan persawahan yang tergenang menurun dari 4.020 hektare menjadi 2.703 hektare.

Selain permukiman dan pertanian, sejumlah fasilitas umum juga terdampak. Fasilitas ibadah yang semula berjumlah 11 lokasi kini tersisa 4 lokasi, sedangkan fasilitas pendidikan menurun dari 75 lokasi menjadi 14 lokasi.

Untuk kejadian tanah longsor dan cuaca ekstrem, BPBD mencatat total 135 titik longsor serta sejumlah pohon tumbang dan kerusakan kendaraan pada awal bencana. Seluruh kejadian tersebut kini telah tertangani dan tidak lagi menimbulkan dampak lanjutan.

Seiring membaiknya kondisi lapangan, 23 dapur umum yang sebelumnya didirikan di berbagai desa telah dihentikan operasionalnya karena kebutuhan logistik pengungsi sudah menurun.

Meski situasi berangsur normal, BPBD tetap melakukan pemantauan dan siaga. Masyarakat kami imbau tetap waspada terhadap potensi hujan dan cuaca ekstrem susulan,” pungkas Eko Hari Jatmiko. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.