BPBD Kudus Imbau Warga Tak Bakar Sampah dan Hemat Air Jelang Puncak Musim Kemarau

oleh -478 Dilihat
Foto: Istimewa

KUDUS, ISKNEWS.com – Syarif Hidayah mengimbau masyarakat untuk tidak membakar sampah serta mulai menghemat penggunaan air sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang diperkirakan mencapai puncaknya pada September mendatang.

Menurut Syarif, kebiasaan membakar sampah berpotensi memicu kebakaran lahan maupun permukiman saat kondisi cuaca kering. Karena itu, seluruh jenis sampah, baik sampah rumah tangga maupun limbah kebun, sebaiknya diolah dan tidak dibakar.

“Sampah tidak boleh dibakar. Sampah apapun, baik sampah perkebunan maupun sampah rumah tangga, harus diolah. Residu yang tersisa kemudian dikirim ke tempat pengelolaan melalui petugas dinas atau pemerintah desa,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diminta mulai melakukan penghematan penggunaan air bersih. Langkah ini dinilai penting mengingat belum dapat dipastikan apakah ketersediaan air akan mencukupi hingga akhir musim kemarau, yang diperkirakan berlangsung sampai November, bahkan berpotensi lebih lama.

“Air yang biasanya dipakai untuk keperluan yang tidak terlalu penting sebaiknya dikurangi. Kita tidak tahu apakah persediaan air akan cukup sampai November nanti,” katanya.

Meski demikian, Syarif memastikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Kudus siap melakukan distribusi air bersih apabila terjadi kekeringan di wilayah terdampak. Penyaluran bantuan dilakukan bersama organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah desa, relawan, hingga perusahaan swasta.

Ia menjelaskan, kebutuhan air bersih selama musim kemarau akan dipenuhi sesuai permintaan masyarakat. BPBD telah menyiapkan sumber air yang memadai dan didukung berbagai pihak, di antaranya perusahaan swasta seperti PT Sukun, PT AM, PT Djarum, serta Nojorono, selain bantuan dari berbagai elemen masyarakat.

“Kalau ada permintaan dropping air bersih, kapasitas sumber air kami mencukupi. Kami juga mendapat dukungan dari banyak pihak sehingga penanganan bisa dilakukan bersama-sama,” jelasnya.

Dalam penanganan bencana, BPBD juga didukung jaringan relawan yang tergabung dalam Trauma Center Penanganan Bencana (TCPB).

Organisasi ini berdiri sejak 2023 dan beranggotakan berbagai unsur, seperti MDMC, LPBNU, PMI, IDI, IIDI, PPNI, TAGANA, MED-E, Banser, hingga organisasi relawan lainnya.

Syarif menyampaikan apresiasi atas kolaborasi tersebut karena sangat membantu penanganan bencana, terutama saat BPBD memiliki keterbatasan anggaran untuk pengadaan air bersih.

“Kami berterima kasih atas dukungan semua pihak. Kolaborasi ini sangat efektif, terutama saat dibutuhkan distribusi air bersih kepada masyarakat,” tuturnya.

BPBD Kudus juga telah memetakan sedikitnya 24 titik yang berpotensi mengalami kekeringan, di antaranya wilayah Menawan, Rahtawu, Colo, Kedungdowo, Tanjungrejo, serta sejumlah desa lain di kawasan perbukitan.

Data titik rawan tersebut juga telah disampaikan kepada Komando Distrik Militer 0722/Kudus sebagai bahan penentuan lokasi pembangunan sumur bor untuk mendukung kebutuhan air bersih sekaligus irigasi pertanian.

Sementara itu, hingga awal Juli ini BPBD menyebut belum menerima laporan adanya kekeringan yang disebabkan menurunnya sumber air.

Bantuan distribusi air yang sempat dilakukan di Desa Menawan selama empat hari bersama PT Sukun bukan karena kekeringan, melainkan akibat pipa jaringan air bersih mengalami kerusakan karena terdampak pekerjaan proyek.

BPBD mengimbau masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau dengan menghindari pembakaran sampah, menghemat penggunaan air, serta segera melapor kepada pemerintah desa atau BPBD apabila mulai mengalami kesulitan memperoleh air bersih.(YM/YM)