Kudus, isknews.com — Demokrasi tidak selalu lahir dari ruang sidang atau mimbar kampus. Di Kabupaten Kudus, gagasan dan kritik justru mengalir dari meja-meja warung kopi. Ratusan mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) dan Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU) memadati sebuah kedai kopi dalam diskusi bertajuk Pemuda Progresif, Rabu (24/12/2025).
Dengan konsep ngopi bareng, forum ini menjadi ruang temu antara generasi muda dan pemangku kebijakan. Hadir dalam diskusi tersebut Anggota DPRD Jawa Tengah Akhwan, Ketua Bawaslu Kudus Moh Wahibul Minan, dosen UMK Mutohar sebagai pemateri, serta sejumlah tokoh kepemudaan.
Pemilihan warung kopi sebagai lokasi diskusi bukan tanpa alasan. Ruang ini dinilai merepresentasikan budaya anak muda sekaligus simbol kebebasan berpikir dan bertukar gagasan tanpa sekat formalitas.
Anggota DPRD Jawa Tengah Akhwan menyebut budaya ngopi di kalangan pemuda sejatinya memiliki potensi besar sebagai ruang pembentukan karakter dan kesadaran kebangsaan. Menurutnya, obrolan santai justru sering melahirkan gagasan kritis yang relevan dengan tantangan bangsa.
“Ngopi itu identik dengan anak muda. Tapi jangan berhenti di obrolan kosong. Dari forum seperti ini, kita ingin menyiapkan generasi penerus yang siap menerima estafet kepemimpinan, bukan hanya di pemerintahan, tetapi juga di bidang ekonomi, sosial, dan budaya,” ujar Akhwan.
Ia menegaskan, mahasiswa tidak cukup hanya bersikap kritis, tetapi juga harus mampu menawarkan solusi. Karena itu, dialog dengan kelompok pemuda terus dibangun agar kritik yang muncul memiliki arah dan pijakan yang jelas.
Akhwan menilai, tanpa ruang dialog dan pemahaman utuh tentang kondisi bangsa, generasi muda akan kesulitan mengambil peran strategis di masa depan. Forum diskusi santai dinilai efektif untuk menggali kepedulian dan kesiapan pemuda terhadap isu kebangsaan.
“Kalau hanya kritis tanpa memahami realitas, sulit melahirkan solusi. Di sini kita sampaikan kondisi yang ada, lalu dipantik dengan gagasan dari teman-teman mahasiswa,” jelasnya.
Dari jalannya diskusi, Akhwan melihat antusiasme tinggi peserta. Ia menilai mahasiswa saat ini memiliki keinginan kuat untuk terlibat aktif dalam proses kebijakan dan pembangunan.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga nilai-nilai dasar bernegara seperti Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Tantangan saat ini, menurutnya, bukan pada konsep, melainkan pada implementasi nilai-nilai tersebut agar tetap relevan dan berpihak pada kesejahteraan rakyat.
Menanggapi menurunnya kepercayaan publik, termasuk anak muda, terhadap kebijakan pemerintah, Akhwan menilai ruang partisipasi sejatinya sudah terbuka. Namun, ia menekankan kesiapan pemuda menjadi faktor kunci.
“Peluang lewat kebijakan dan regulasi sudah ada. Tinggal bagaimana anak mudanya siap. Kritik dan solusi harus berjalan beriringan,” pungkasnya.
Sementara itu, dosen UMK Mutohar menegaskan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas demokrasi. Sikap kritis, menurutnya, harus dibarengi dengan gagasan solutif dan keberanian terlibat dalam proses politik.
“Mahasiswa tidak cukup hanya mengkritik. Mereka harus mampu menawarkan solusi nyata bagi persoalan bangsa,” katanya.
Ia juga mendorong mahasiswa agar tidak bersikap apatis terhadap demokrasi. “Pemuda adalah penjaga masa depan demokrasi yang jujur dan berintegritas. Partisipasi mereka sangat dibutuhkan,” tegas Mutohar.
Salah satu peserta diskusi, mahasiswa UMKU Eka Rizkiana, mengaku konsep diskusi di warung kopi memberikan pengalaman berbeda. Menurutnya, suasana nonformal justru membuat diskusi lebih hidup dan mudah diterima.
“Biasanya diskusi itu kaku dan formal di kampus. Di sini beda, lebih fresh dan nyaman.Walaupun temanya serius, tapi karena tempatnya ngopi, otak jadi lebih segar. Rasanya seperti ngobrol, bukan diskusi yang menegangkan dan isinya anak-anak muda yang ingin berkembang dan berprogres,” pungkasnya. (YM/YM)







