Dari Santri Untuk Negeri, PCNU Kudus Gelar Bedah Buku “Santri Membaca Zaman”

oleh -1,041 kali dibaca
Jpeg
Jpeg
Nampak Narasumber dari Bedah Buku “Santri Membaca Zaman” sedang memberikan argumennya

Kudus, Isknews.com – Semakin banyaknya karya karya para santri berupa buku, kitab dan temuan-temuan sains yang bermunculan, dalam rangka hari santri nasional, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama’ Kudus mengadakan diskusi dan bedah buku “Santri Membaca Zaman” yang sudah diluncurkan pada acara silaturahim nasional (Silatnas) Madrasah TBS (23/7) beberapa waktu lalu.

Acara diskusi dan bedah buku yang bertempat di Aula SMA NU Al-Ma’ruf Kudus (30/10) ini menghadirkan penulis buku tersebut sekaligus Narasumber, diantaranya, pertama H NUR SAID, MA., M.Ag. (Penulis/LTNU), kedua KH. SOFIYAN HADI, Lc., MA (Penulis/Pesantren Al Mawaddah). Pembahas oleh DR. H. KISBIYANTO, M.Pd. (ISNU) dan juga SITI MALAIHA DEWI, M.Hum. (Pembina FATAYAT NU).

Dalam kesempatan itu, dihadiri tamu undangan dari PC NU Kudus Beserta Lembaganya, diantaranya PC Muslimat NU, PC GP ANSOR dan Banser, PC FATAYAT NU, PC IPNU-IPPNU, MWC NU Se-kudus, Muslimat NU se-kudus, PAC GP ANSOR dan Banser Se-kudus, PAC FATAYAT NU se-kudus, PAC IPNU-IPPNU Se-kudus, Kepala MA NU Sederjat beserta 5 PK IPNU-IPPNU, dan Undangan untuk umum diantaranya dari paradigma STAIN Kudus, dll.

Buku yang berisikan 312 Halaman ini kehadirannya diharapkan menjadi pemanik bagi munculnya karya karya para santri baik berupa buku, kitab, temuan-temuan sains yang selama ini masih terpinggirkan.

Nur Said, ketua pusat studi gender, yang juga sebagai narasumber acara kepada Isknews.com menjelaskan, “Acara ini meneguhkan saatnya Santri itu KeReN (Kontekstual, Responsif dan Nulis). Buku tersebut menegaskan saatnya santri menjadi subyek sejarah bukan hanya obyek kajian orientalis. Menulis dan membaca bagai dua sisi mata uang untuk perubahan zaman. “maka menjadi santri harus menulis dengan membaca zaman dan sekaligus untuk perubahan zaman.”tandasnya.

Lebih lanjut, pihaknya menceritakan, Buku “Santri Membaca Zaman” ini berisikan 25 judul persembahan dari 25 Alumni TBS dari latar belakang dan profesi yang berbeda.

“Sebagai buku yang lahir dari Percikan pemikiran kaum pesantren ini merupakan refleksi para santri dalam membaca ayat-ayat nya baik qauliyah maupun kauniyah, sehingga melahirkan serpihan serpihan ilmu dan sekaligus sebagai konstruksi ide yang bisa dijadikan alternatif acuan dalam mengembangkan pendidikan Islam di pesisir utara jawa ini.”tandasnya

Nur Said membahkan, “Buku ini sekaligus menegaskan bahwa para santri sudah sepatutnya sebagai penjaga gawang Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja) untuk memagari nusantara agar teyap berdaulat dengan nuansa islam nusantara yang ramah dan toleran (tepa seliro) atau dalam bahasa aswaja sebagai islam yang tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawasuth (moderat/jalan tengah), dan i’tidal (menegakkan keadilan).”tandasnya.

Kudus, Isknews.com – Semakin banyaknya karya karya para santri berupa buku, kitab dan temuan-temuan sains yang bermunculan, dalam rangka hari santri nasional, Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama’ Kudus mengadakan diskusi dan bedah buku “Santri Membaca Zaman” yang sudah diluncurkan pada acara silaturahim nasional (Silatnas) Madrasah TBS (23/7) beberapa waktu lalu.

Acara diskusi dan bedah buku yang bertempat di Aula SMA NU Al-Ma’ruf Kudus (30/10) ini menghadirkan penulis buku tersebut sekaligus Narasumber, diantaranya, pertama H NUR SAID, MA., M.Ag. (Penulis/LTNU), kedua KH. SOFIYAN HADI, Lc., MA (Penulis/Pesantren Al Mawaddah). Pembahas oleh DR. H. KISBIYANTO, M.Pd. (ISNU) dan juga SITI MALAIHA DEWI, M.Hum. (Pembina FATAYAT NU).

Dalam kesempatan itu, dihadiri tamu undangan dari PC NU Kudus Beserta Lembaganya, diantaranya PC Muslimat NU, PC GP ANSOR dan Banser, PC FATAYAT NU, PC IPNU-IPPNU, MWC NU Se-kudus, Muslimat NU se-kudus, PAC GP ANSOR dan Banser Se-kudus, PAC FATAYAT NU se-kudus, PAC IPNU-IPPNU Se-kudus, Kepala MA NU Sederjat beserta 5 PK IPNU-IPPNU, dan Undangan untuk umum diantaranya dari paradigma STAIN Kudus, dll.

Buku yang berisikan 312 Halaman ini kehadirannya diharapkan menjadi pemanik bagi munculnya karya karya para santri baik berupa buku, kitab, temuan-temuan sains yang selama ini masih terpinggirkan.

Nur Said, ketua pusat studi gender, yang juga sebagai narasumber acara kepada Isknews.com menjelaskan, “Acara ini meneguhkan saatnya Santri itu KeReN (Kontekstual, Responsif dan Nulis). Buku tersebut menegaskan saatnya santri menjadi subyek sejarah bukan hanya obyek kajian orientalis. Menulis dan membaca bagai dua sisi mata uang untuk perubahan zaman. “maka menjadi santri harus menulis dengan membaca zaman dan sekaligus untuk perubahan zaman.”tandasnya.

Lebih lanjut, pihaknya menceritakan, Buku “Santri Membaca Zaman” ini berisikan 25 judul persembahan dari 25 Alumni TBS dari latar belakang dan profesi yang berbeda.

Sebagai buku yang lahir dari Percikan pemikiran kaum pesantren ini merupakan refleksi para santri dalam membaca ayat-ayat nya baik qauliyah maupun kauniyah, sehingga melahirkan serpihan serpihan ilmu dan sekaligus sebagai konstruksi ide yang bisa dijadikan alternatif acuan dalam mengembangkan pendidikan Islam di pesisir utara jawa ini.

Nur Said membahkan, “Buku ini sekaligus menegaskan bahwa para santri sudah sepatutnya sebagai penjaga gawang Ahlussunnah Waljama’ah (Aswaja) untuk memagari nusantara agar teyap berdaulat dengan nuansa islam nusantara yang ramah dan toleran (tepa seliro) atau dalam bahasa aswaja sebagai islam yang tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawasuth (moderat/jalan tengah), dan i’tidal (menegakkan keadilan).terangnya.

“Lahir nya buku ini diharapkan bisa memotivasi santri untuk membaca dan menulis sebagai nafas dari kehidupan santri nusantara, “Hal ini sekaligus sebagai uji nyali para santri dalam menyongsong 100 tahun madrasah TBS 10 tahun kedepan” pungkas Said, editor buku yang juga menjabat sebagai Dosen di STAIN Kudus.”pungkasnya.(AS)

“Lahir nya buku ini diharapkan bisa memotivasi santri untuk membaca dan menulis sebagai nafas dari kehidupan santri nusantara, “Hal ini sekaligus sebagai uji nyali para santri dalam menyongsong 100 tahun madrasah TBS 10 tahun kedepan” pungkas Said, editor buku yang juga menjabat sebagai Dosen di STAIN Kudus.”pungkasnya.(AS)

KOMENTAR SEDULUR ISK :