Disnaker Kudus Catat Penurunan Drastis Pekerja Migran dalam 3 Tahun

oleh -205 Dilihat
Kabid Penempatan, Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja Disnakerperinkop-UKM Kudus, Albertus Harys Yunanto. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan UKM (Disnakerperinkop-UKM) Kabupaten Kudus mencatat adanya penurunan signifikan jumlah warga yang berangkat menjadi pekerja migran dalam tiga tahun terakhir. Dari tahun 2023 hingga 2025, tren keberangkatan terus menurun meski dilakukan melalui jalur resmi.

Tercatat, pada 2023 jumlah pekerja migran asal Kudus yang berangkat mencapai 281 orang. Angka ini turun menjadi 224 orang pada 2024, dan kembali merosot pada 2025. Hingga periode Januari–Juli tahun ini, hanya 144 orang yang tercatat berangkat ke sejumlah negara tujuan.

Negara yang menjadi tujuan pekerja migran asal Kudus antara lain Taiwan, Hongkong, Singapura, Malaysia, Korea Selatan, Bulgaria, hingga Uni Emirat Arab. Dari total 144 orang yang berangkat tahun ini, Taiwan menjadi tujuan terbanyak dengan 44 orang, disusul Hongkong 16 orang, Singapura 11 orang, dan Malaysia 5 orang.

Kabid Penempatan, Pelatihan dan Produktivitas Tenaga Kerja Disnakerperinkop-UKM Kudus, Albertus Harys Yunanto menjelaskan, pekerja migran asal Kudus tahun ini tersebar di semua kecamatan. Kecamatan Undaan tercatat paling banyak mengirim pekerja migran dengan 84 orang, diikuti Kecamatan Dawe 19 orang, Gebog 11 orang, Jati 8 orang, Bae, Jekulo dan Mejobo masing-masing 5 orang, Kaliwungu 4 orang, serta Kecamatan Kota 3 orang.

“Mereka berangkat secara legal dengan penyalur resmi. Nantinya, yang bertanggung jawab penuh atas pekerja migran adalah penyalurnya,” terang Harys.

Ia menambahkan, di Kudus hanya ada satu penyalur resmi. Selebihnya, warga Kudus bekerja sama dengan penyalur dari Kabupaten Pati dan Grobogan. Pemerintah daerah berperan menjalin komunikasi dengan penyalur serta memberikan sosialisasi ke desa-desa terkait hak dan kewajiban pekerja migran sesuai Undang-Undang.

Lebih lanjut, Harys menegaskan, dalam tiga tahun terakhir tidak ada kasus menonjol yang menimpa pekerja migran asal Kudus. Pemkab Kudus berkomitmen memberikan pendampingan penuh apabila ada masalah, baik bagi pekerja migran yang berangkat melalui jalur resmi maupun jalur ilegal.

Terkait faktor menurunnya jumlah pekerja migran, pihaknya belum dapat memastikan penyebab pasti. Menurutnya, bisa saja karena lapangan pekerjaan di Kudus bertambah, atau karena masyarakat mulai mengurangi minat bekerja di luar negeri lantaran faktor jauh dari keluarga dan tingginya risiko. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :