KUDUS, ISKNEWS.COM – Kelenteng Hok Hien Bio Kudus menggelar ritual King Hoo Ping, Minggu (6/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi momen bagi umat untuk memanjatkan doa bagi arwah para leluhur dan almarhum, sekaligus memohon agar mereka memperoleh ketenteraman di alam setelah kehidupan.
Pimpinan ritual, Liong Kuo Tjun, didampingi Tjan Ay Ling selaku panitia, mengatakan King Hoo Ping merupakan tradisi penghormatan kepada para leluhur yang telah meninggal dunia. Ritual ini juga dikenal dengan sebutan King Ho Ping atau Jokong, sedangkan dalam kalangan umat Buddha memiliki tujuan yang sejalan dengan Ulam Bana.
Menurut Liong, doa yang dipanjatkan dalam ritual tersebut merupakan bentuk permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar memberikan pengampunan serta ketenteraman kepada para leluhur. Mereka yang masih hidup juga berusaha memberikan pelimpahan jasa melalui berbagai bentuk kebajikan.
“Melalui kegiatan ini kami memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar ada pengampunan. Kami yang masih hidup memberikan pelimpahan jasa kepada para leluhur atau para pendahulu kita,” ujarnya.
Pelimpahan jasa tersebut tidak hanya dilakukan melalui sembahyang. Panitia juga mengisinya dengan kegiatan sosial sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitar Kelenteng Hok Hien Bio.
Liong menjelaskan, rangkaian ritual diawali dengan sembahyang kepada Tuhan Yang Maha Esa. Selanjutnya, umat memohon izin kepada para dewa yang berada di kelenteng serta menghadirkan dewa yang dipercaya menjadi penghubung antara alam kehidupan dan alam kematian.
Dalam prosesi tersebut, berbagai makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari turut disiapkan. Sajian itu menjadi simbol penghormatan sekaligus upaya memenuhi kerinduan para leluhur terhadap kehidupan duniawi.
“Kami percaya penghormatan seperti ini dilakukan setahun sekali sudah cukup. Karena mereka kadang masih memiliki kerinduan terhadap hal-hal duniawi, maka hari ini kami berusaha memenuhi melalui sajian makanan,” jelasnya.
Selain pelaksanaan doa, King Hoo Ping tahun ini juga dirangkai dengan pembagian bantuan sosial. Panitia menyalurkan beras kepada masyarakat yang berada di sekitar kelenteng sebagai bagian dari pelimpahan jasa.
Adapun beras yang disiapkan untuk kegiatan sosial tersebut mencapai sekitar 2 ton 175 kilogram. Bantuan diprioritaskan bagi warga lingkungan sekitar serta umat yang turut mengikuti prosesi sembahyang.
“Yang kami utamakan adalah warga di lingkungan sekitar. Beras yang dibagikan sekitar 2 ton 175 kilogram,” kata Liong.
Peserta ritual King Hoo Ping tidak hanya berasal dari Kudus. Sejumlah umat dari luar daerah juga hadir untuk mengikuti sembahyang, sementara beberapa pihak dari luar negeri turut menitipkan nama leluhur untuk didoakan.
Liong menyebut terdapat lebih dari 330 nama leluhur dan almarhum yang tercatat untuk didoakan dalam ritual tersebut. Nama-nama itu menjadi bagian dari rangkaian penghormatan kepada mereka yang telah meninggal dunia.
Ia berharap doa yang dipanjatkan dalam King Hoo Ping dapat memberikan ketenangan bagi para leluhur. Selain itu, mereka yang terlahir kembali diharapkan memperoleh kehidupan di alam yang lebih baik, sedangkan mereka yang telah mencapai kesempurnaan dapat menuju alam kesempurnaan yang abadi.
“Harapan kami agar mereka di alam sana lebih tenang dan tidak membawa kekacauan di dunia ini. Terutama negara kita agar bisa lebih aman, tenteram dan damai,” ungkapnya.
Liong juga berharap Indonesia senantiasa berada dalam kondisi aman dan damai serta terus diberikan kemajuan dan kesuksesan.
Sementara itu, Tjan Ay Ling selaku panitia menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan ritual King Hoo Ping. Dukungan tersebut dinilai turut membantu kegiatan keagamaan dan sosial itu berjalan dengan baik.
Pelaksanaan King Hoo Ping di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus pun menjadi momentum bagi umat untuk mengenang, mendoakan, sekaligus memberikan penghormatan kepada para leluhur melalui rangkaian ibadah dan kegiatan berbagi kepada sesama. (AS/YM)







