Dramatis, Bandung Tundukkan Tangerang 1-0 di Final HYDROPLUS Piala Pertiwi 2025 Kudus

oleh -612 Dilihat
Tim All Stars Bandung sukses menjadi kampiun HYDROPLUS Piala Pertiwi U14 & U16 2025 All Stars pada laga final yang diselenggarakan di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (13/7). Pasukan besutan pelatih Dian Nadia Mutiara sukses menundukkan skuad All Stars Tangerang dengan skor tipis 1-0 dalam pertandingan yang berjalan dramatis selama 2 x 30 menit. (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Kejuaraan HYDROPLUS Piala Pertiwi U14 & U16 2025 All Stars tak sekadar menjadi ajang kompetisi, tapi juga titik tolak pembinaan berjenjang sepak bola putri Indonesia. Dalam laga puncak yang berlangsung di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah, Minggu (13/7/2025), tim All Stars Bandung sukses menjuarai turnamen setelah menaklukkan All Stars Tangerang dengan skor 1-0 dalam duel ketat berdurasi dua kali 30 menit.

Namun kemenangan tersebut hanyalah bagian dari cerita besar: menemukan dan membentuk talenta pesepak bola putri masa depan. Selama lima hari penyelenggaraan, turnamen ini berhasil menyaring potensi dari berbagai daerah dan menjadi basis seleksi pemain Timnas Putri U-16 yang akan berlaga di Piala AFF U-16 2025.

“Turnamen ini adalah cikal bakal pertumbuhan sepak bola putri nasional. Semangatnya luar biasa, dan saya bersyukur banyak bibit unggul yang sudah kami kantongi untuk dipersiapkan masuk Timnas U-16,” ujar Vivin Cahyani Sungkono, Exco PSSI yang turut hadir menyaksikan laga final.

Vivin mengapresiasi peran Djarum Foundation dan HYDROPLUS dalam menyelenggarakan turnamen ini secara berjenjang dari usia 8 tahun hingga 16 tahun. Ia menyebut, Piala Pertiwi telah menjadi platform penting yang mengakomodasi talenta-talenta dari kota besar hingga pelosok.

“Harapannya tahun depan cakupan daerahnya lebih luas, agar bakat dari pulau terluar dan kota-kota kecil pun punya akses ke panggung nasional,” lanjutnya.

Laga final mempertemukan All Stars Bandung yang tampil dominan sejak awal melawan All Stars Tangerang yang tangguh dalam bertahan dan disiplin dalam formasi. Pertandingan nyaris berakhir tanpa gol, hingga akhirnya tendangan bebas dari Indira Fatima di menit ke-59 menjadi pembeda sekaligus penentu gelar juara bagi tim asal Jawa Barat itu.

“Pertandingan ini sangat menguras tenaga, pertahanan lawan susah ditembus. Tadi saya diminta pelatih untuk tendang ke kanan atas, dan saya kaget itu bisa gol,” ujar Indira, sang pencetak gol penentu.

Pelatih All Stars Bandung, Dian Nadia Mutiara, mengakui kekuatan lawan dan menyebut kunci kemenangan timnya terletak pada kesabaran dan rotasi pemain di waktu yang tepat.

“Pemain harus sabar bertahan dan menyerang di saat yang pas. Ada kelelahan, jadi rotasi penting untuk jaga tenaga. Dan hasilnya bisa kita manfaatkan saat lawan mulai menurun,” jelas Coach Dian.

Pelatih kepala Timnas Putri Indonesia, Satoru Mochizuki, yang secara langsung memantau sejak awal turnamen, mengakui banyak pemain potensial yang bisa dibina lebih lanjut. Salah satunya adalah Fadilla dari All Stars Sumut, top scorer turnamen dengan 10 gol.

“Gaya main dan insting mencetak golnya luar biasa. Tapi yang paling penting, semua pemain harus terus latihan dan punya pelatih yang bisa arahkan mereka untuk siap melawan negara lain,” kata pelatih asal Jepang itu.

Piala Pertiwi U14 & U16 All Stars kali ini memang menyisakan kesan kuat bagi semua pihak. Bahkan bagi mereka yang belum meraih kemenangan. Midfielder All Stars Tangerang, Yuri Maheswari Wijaya, mengaku bangga meski harus puas sebagai runner-up.

“Ini pengalaman luar biasa. Tahun depan kami pasti lebih siap. Kami tetap semangat, karena tujuan kita masih panjang,” katanya.

Sementara itu, pelatih All Stars Tangerang, Saronih, tetap mengapresiasi penampilan anak asuhnya.

“Skill mereka luar biasa. Tapi sepak bola juga butuh keberuntungan. Yang jelas mental dan semangat juang mereka luar biasa sejak awal turnamen,” ujarnya.

Atmosfer pertandingan final terasa sangat emosional. Suporter dari kedua tim memberikan dukungan luar biasa dari tribun, membuat suasana di Supersoccer Arena begitu hidup. Sejumlah orang tua pemain pun tampak hadir, memperlihatkan betapa kuatnya dukungan keluarga dalam perkembangan sepak bola putri sejak usia dini.

Pihak penyelenggara menyebut, turnamen ini diikuti oleh lebih dari 200 pemain dari berbagai provinsi. Proses seleksi awal dilakukan sejak bulan Mei melalui jaringan pengembangan yang dibentuk oleh Djarum Foundation bersama PSSI. Finalis yang terpilih mewakili daerah mereka sebagai bagian dari tim All Stars, menjadikan turnamen ini bukan hanya kompetitif, tetapi juga inklusif dan representatif secara nasional.

Koordinator Kompetisi Sepak Bola Putri Djarum Foundation, Andhika Budi, mengatakan bahwa turnamen ini dirancang sebagai sarana pembibitan jangka panjang yang terstruktur. Ia berharap model pembinaan seperti ini bisa menjadi contoh bagi daerah lain. “Kami ingin menciptakan rantai pembinaan yang terencana, tidak putus di tengah jalan, dan bisa terus didukung dengan infrastruktur serta pelatihan yang tepat,” katanya.

Turnamen ini juga mendapat atensi dari beberapa pencari bakat dan pelatih lokal yang datang langsung untuk melihat perkembangan pemain muda. Beberapa klub profesional bahkan telah mulai menghubungi penyelenggara untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai sejumlah pemain yang menonjol selama kejuaraan.

All Stars Bandung keluar sebagai juara, disusul All Stars Tangerang sebagai runner-up. All Stars Papua dan All Stars Sumut berbagi tempat ketiga. Fadilla dari All Stars Sumut menyabet gelar top scorer dengan 10 gol. Gelar pemain terbaik diberikan kepada Debby Alvani Zanaya dari All Stars Tangerang, sementara kiper terbaik diraih Elbian Defika Aryasatya dari All Stars Bandung. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.