Festival Ampyang Maulid Loram Kulon Kudus Perkuat Tradisi dan Kearifan Lokal

oleh -359 Dilihat
Peserta mengikuti Kirab Festival Ampyang Maulid 1448 H di Desa Loram Kulon, Kudus, Selasa (25/8/2026). Tradisi tahunan ini menjadi momentum memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus melestarikan budaya dan memperkuat kebersamaan warga. (Foto: ist)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Tradisi Ampyang Maulid kembali digelar Pemerintah Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa (25/8/2026). Kegiatan yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah itu menjadi momentum untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjaga budaya dan kearifan lokal masyarakat.

Festival Ampyang Maulid tahun ini diikuti sebanyak 43 peserta yang berasal dari lembaga pendidikan, musala, dan masjid dari Desa Loram Kulon maupun Loram Wetan. Peserta membawa tandu berisi berbagai kreasi ampyang yang kemudian diarak dari kawasan Alfamidi Loram Kulon menuju Masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon.

Kepala Desa Loram Kulon, Wahyu Saputra, mengatakan antusiasme masyarakat terhadap pelaksanaan Festival Ampyang Maulid terus meningkat. Hal itu terlihat dari semakin banyaknya peserta maupun warga yang datang untuk menyaksikan tradisi tersebut.

“Alhamdulillah untuk peserta Festival Ampyang Maulid tahun 2026 berjumlah 43 peserta. Terdiri dari lembaga pendidikan, musala, dan masjid dari Loram Kulon maupun Loram Wetan,” kata Wahyu saat diwawancarai, Selasa (25/8/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Loram yang telah berlangsung sejak masa Sultan Hadirin. Tradisi itu tetap dipertahankan hingga kini meskipun wilayah Loram telah terbagi menjadi Loram Kulon dan Loram Wetan.

Wahyu menyebut kreativitas peserta dalam membuat tandu ampyang juga semakin berkembang. Selain itu, semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat dinilai semakin kuat dari tahun ke tahun.

“Yang kita inginkan tentunya masyarakat bisa meneladani akhlakul karimah Nabi Muhammad SAW. Melalui kegiatan ini, kami berharap masyarakat Loram Kulon, Loram Wetan dan seluruh yang menyaksikan bisa mengambil nilai-nilai keteladanan beliau,” jelasnya.

Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam tradisi tersebut adalah nasi kepel. Makanan itu merupakan nasi sedekah yang dibawa warga ke masjid sebagai bentuk syukuran atas hajat tertentu, seperti ulang tahun atau weton.

Nasi kepel kemudian dibagikan kepada jamaah masjid maupun musafir. Isinya beragam, mulai dari nasi dan lauk tahu hingga daging, telur, maupun ayam.

Dalam Festival Ampyang Maulid tahun ini, lebih dari 500 bungkus nasi kepel disediakan masyarakat untuk dibagikan di Masjid Wali At-Taqwa. Warga mengirimkannya sejak pagi hingga siang dengan jumlah yang umumnya dibuat ganjil, seperti lima, tujuh, atau sembilan bungkus.

Wahyu menjelaskan penggunaan jumlah ganjil tersebut merupakan bagian dari filosofi budaya masyarakat setempat. Salah satunya, jumlah tujuh dikaitkan dengan makna “pitulungan” atau pertolongan, sehingga setiap nasi kepel yang dibawa warga memiliki niat baik dan harapan akan keberkahan.

Sementara itu, Anggota Komisi XI DPR RI, Musthofa, mengapresiasi keberlangsungan tradisi Ampyang Maulid yang terus dilaksanakan masyarakat Loram. Menurutnya, tradisi tersebut harus dijaga agar tidak berhenti sekadar menjadi tontonan tahunan.

Ia menilai terdapat tiga hal penting yang perlu ditekankan dalam pelaksanaan Ampyang Maulid, yakni keteladanan Nabi Muhammad SAW, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta pelestarian potensi budaya dan wisata desa.

“Generasi muda yang akan datang tentu tidak hanya sekadar melihat ramainya kegiatan ini. Substansi dari kegiatan harus dijelaskan, terutama bagaimana kita mengikuti sikap dan keteladanan Nabi Muhammad SAW,” ujarnya.

Musthofa juga mendorong agar pelaksanaan tradisi tersebut dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Menurutnya, keramaian festival dapat menjadi ruang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang.

Ia berharap potensi yang dimiliki setiap desa di Kudus dapat dipetakan dan dikembangkan secara bersama, sehingga mampu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus daya tarik wisata daerah.

“Jangan hanya sekadar ada desa wisata, tetapi potensi-potensi desa harus dipetakan. Nantinya bisa dikerjasamakan mulai dari kabupaten, provinsi sampai pusat,” katanya.

Menurut Musthofa, Masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon juga memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat sehingga layak terus diperkenalkan sebagai salah satu ikon daerah. Keberadaan masjid tersebut, kata dia, dapat dipadukan dengan tradisi Ampyang Maulid untuk memperkuat daya tarik wisata budaya Kudus.

Ia turut mengingatkan agar filosofi Gusjigang yang menjadi identitas Kudus tetap ditanamkan kepada generasi muda. Nilai tersebut, menurutnya, tidak hanya berkaitan dengan kemampuan berdagang, tetapi juga sikap dan perilaku yang baik.

“Generasi muda jangan hanya mengikuti perkembangan teknologi, tetapi perilaku, sikap dan keteladanan Nabi harus benar-benar dipegang. Pemimpin masa kini tanpa memberikan teladan yang baik bukan lagi seorang pemimpin,” tegasnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus, Abdul Halil, mengatakan Festival Ampyang Maulid juga menjadi bagian dari promosi wisata. Terlebih, Loram Kulon telah masuk dalam pengembangan desa wisata di Kabupaten Kudus.

Menurut Halil, pemerintah daerah akan terus memberikan pendampingan dan melakukan komunikasi serta pemantauan terhadap potensi wisata dan kegiatan masyarakat yang memiliki nilai budaya.

“Ini termasuk salah satu promosi wisata karena sudah masuk desa wisata. Sehingga perlu kita dampingi dan kegiatan ini juga perlu kita apresiasi sebagai wujud pemerintah hadir di tengah masyarakat,” ungkapnya.

Selain Festival Ampyang Maulid, rangkaian kegiatan di Loram Kulon juga dimeriahkan Expo yang berlangsung pada 17-23 Agustus 2026. Wahyu menyebut kegiatan tersebut diikuti lebih dari 120 stan yang terdiri dari pelaku UMKM dan pedagang dari luar daerah.

Menurutnya, keberadaan expo turut memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Penjualan para pelaku usaha disebut terus mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Dengan perpaduan antara tradisi keagamaan, budaya, dan aktivitas ekonomi masyarakat, Festival Ampyang Maulid diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga mampu memperkuat identitas Loram Kulon sekaligus menggerakkan potensi ekonomi dan wisata lokal. (AS/YM)