Kudus, isknews.com – Di sebuah bedeng sempit berukuran sekitar 1×6 meter, seorang warga di Kabupaten Kudus harus menjalani kehidupan penuh keterbatasan bersama keluarganya. Kondisi hunian yang jauh dari kata layak tak menyurutkan tekadnya untuk terus bertahan demi keluarga.
Perempuan tersebut adalah Sutinah (49), warga Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati. Ia telah menempati bangunan sederhana itu selama kurang lebih enam tahun bersama suami dan anaknya.
Sutinah menceritakan, sebelumnya ia sempat tinggal di rumah kontrakan. Namun karena kondisi ekonomi yang semakin sulit, ia tidak lagi mampu membayar biaya sewa yang mencapai sekitar Rp1 juta per tahun.
Setelah bertahan hampir tiga tahun di kontrakan, ia akhirnya harus meninggalkan tempat tersebut. Keterbatasan keuangan membuatnya tidak memiliki banyak pilihan selain mencari tempat tinggal yang lebih murah, meski kondisinya jauh dari layak.
Bedeng yang kini dihuni awalnya merupakan tempat penyimpanan kayu bakar milik seseorang. Setelah dibersihkan, pemiliknya mengizinkan Sutinah dan keluarganya untuk tinggal di sana.
Dalam ruang sempit itu, Sutinah hidup bersama suaminya, Sulatin (48), dan anaknya yang saat ini duduk di bangku kelas 7 SMP. Seluruh aktivitas, mulai dari tidur, memasak, hingga berkumpul, dilakukan dalam satu ruangan yang sama.
Untuk kebutuhan mandi, ia harus menumpang di rumah tetangga. Sementara kegiatan memasak dan mencuci dilakukan di dalam bedeng dengan segala keterbatasan yang ada.
Kondisi bangunan yang ditempati juga memprihatinkan. Saat hujan turun, atap kerap bocor sehingga membuat mereka harus bertahan dalam keadaan basah.
Meski demikian, Sutinah tetap bersyukur masih memiliki tempat untuk berteduh. Ia mengaku berusaha menjalani kehidupan dengan sabar di tengah kondisi yang serba terbatas.
Dalam kesehariannya, Sutinah menjadi satu-satunya pencari nafkah bagi keluarga. Ia bekerja serabutan di bidang katering untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Yang bekerja hanya saya,” ujarnya saat ditemui, Selasa (5/5/2026).
Sementara itu, sang suami sudah sekitar 12 tahun menderita sakit dan tidak mampu bekerja. Bantuan disabilitas yang diterima pun sangat terbatas dan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sederhana.
“Bantuan itu biasanya untuk membeli jamu, karena obat tidak cocok,” tuturnya.
Sutinah mengungkapkan, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan rokok di Kudus sebelum akhirnya terkena pemutusan hubungan kerja. Uang pesangon yang diterimanya kemudian digunakan untuk membeli sebidang tanah.
Namun hingga kini, tanah tersebut belum bisa dibangun rumah karena keterbatasan biaya yang dimiliki.
Di tengah segala keterbatasan, Sutinah hanya memiliki harapan sederhana, yakni bisa memiliki rumah yang layak untuk ditinggali bersama keluarganya. Ia berharap ada perhatian dan bantuan dari pihak terkait agar kehidupannya dapat menjadi lebih baik di masa mendatang. (AS/YM)






