HM Hartopo,“ Yatim Mandiri Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) Berpeluang Merangkul Generasi Milenial “

oleh
Wakil bupati Kudus, H.M. Hartopo menekankan perlunya motivasi dari bagi generasi milenial, utamanya motivasi yang tumbuh dari kesadaran diri sendiri. Dirinya menjelaskan, motivasi diri dapat timbul dari tiga aspek yang sangat berpengaruh, yaitu dari teman, lingkungan dan tempat. ( Foto : Istimewa )

KUDUS , ISKNEWS.COM – Diskusi publik bersama generasi milenial yang diselenggarakan oleh Yatim Mandiri Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) di rumah Dinas Wakil Bupati, dihadiri  Puluhan perwakilan akademisi dan pelajar dari seluruh universitas, perguruan tinggi, dan SMA se-Kabupaten Kudus, Minggu (31-03-2019).

Wakil bupati Kudus,H.M. Hartopo dalam sambutanya menyampaikan bahwa Generasi milenial sebagai generasi penerus bangsa sudah seharusnya memiliki prinsip hidup yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik ketika menuntut ilmu maupun bekerja terlebih saat ini teknologi informasi tak akan bisa dipisahkan dari segala sendi kehidupan. Oleh karena itu agama harus hadir dan mengambil perannya agar teknologi informasi digunakan sebaik mungkin.

Wakil bupati Kudus, H.M. Hartopo menekankan perlunya motivasi dari bagi generasi milenial, utamanya motivasi yang tumbuh dari kesadaran diri sendiri. Dirinya menjelaskan, motivasi diri dapat timbul dari tiga aspek yang sangat berpengaruh, yaitu dari teman, lingkungan dan tempat. ( Foto : Istimewa )

“ Meluasnya berbagai informasi disebabkan karena penggunaan gadget dan media sosial yang sudah menjadi suatu yang lumrah di kalangan masyarakat, terkhusus anak muda salah satunya generasi milenial. Disamping itu publik figur seeprti ustad, artis, pengusaha dan pejabat turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penerimaan masyarakat terhadap informasi.” Tandasnya.

TRENDING :  RSUD Kudus Gelar Donor Darah, Karyawan dan Pengunjung Antusias

Ditambahkanya, hal tersebut dapat menjadi peluang bagi Lembaga seperti Yatim Mandiri untuk merangkul generasi milenial dalam kegiatan amil zakat.Hal ini harus ditangkap lembaga zakat seperti Yatim Mandiri untuk semakin berinovasi dalam merangkul milenial sebagai muzakki, karena kita melihat kaum milenial secara langsung maupun tidak langsung dapat menguatkan, meningkatkan , menumbuhkan potensi zakat, infaq dan sodaqoh. Bahkan zakat bisa menjadi life style atau gaya hidup.

Dengan adanya lembaga amil zakat, juga diharapkan turut berperan dalam menyukseskan visi dan misi Kabupaten Kudus untuk bangkit menuju kabupaten yang modern, religius, cerdas dan sejahtera. “Saya berharap Kabupaten Kudus dapat dibangun dari beberapa aspek mulai dari APBD, CSR atau bantuan dari perusahaan seperti bina lingkungan, dan tentunya dapat digali pula dari aspek zakatnya,” katanya. Pada prinsipnya pembagian zakat harus bersifat edukatif, ekonomis, dan produktif sehingga pada akhirnya penerima zakat tidak memerlukan zakat lagi, bahkan menjadi muzakki. Tentunya hal tersebut dibutuhkan peran serta seluruh komponen masyarakat Kabupaten Kudus, karena sudah menjadi kewajiban bagi orang mampu untuk membantu orang yang kurang mampu. “Baik itu memberikan kontribusi tenaga waktu dan materi, karena sodaqoh tidak harus berupa uang,” imbuhnya

TRENDING :  Malam Ini Desa Medini Gang VII Banyak Polisi, Ada Apa ?? Ini Jawabannya.

Mengawali diskusi, H.M. Hartopo menekankan perlunya motivasi dari bagi generasi milenial, utamanya motivasi yang tumbuh dari kesadaran diri sendiri. Dirinya menjelaskan, motivasi diri dapat timbul dari tiga aspek yang sangat berpengaruh, yaitu dari teman, lingkungan dan tempat. “Memotivasi diri artinya membuat prinsip diri kita yang lebih baik, bagaimana orang hidup itu memang perlu cita-cita yang harus relevan jangan terlalu tinggi dan jangan terlalu rendah karena hidup itu mengalir, yang terpenting kita selalu bersyukur. Jadi orang yang punya prinsip apapun cita-citanya,” tuturnya.

Dirinya juga berpesan tiga hal yang harus menjadi pedoman generasi milenial. “Yang pertama jujur, disiplin dan loyalitas. Kejujuran dalam bekerja, kedisiplinan dalam waktu kerja, loyalitas pada atasan dalam urusan kerja. Tiga hal ini bisa untuk pegangan baik yang pegawai negeri, pegawai swasta, atau wirausaha,”. Jika ketiganya bisa terlaksana dengan baik maka ditambahkan komitmen untuk membina hubungan dengan rekan kerja, client, maupun perusahaan lain. “Jangan suka janji tapi diingkari sendiri, berteman saja kalau tidak ada komitmen pasti bermasalah,” imbuhnya.

TRENDING :  Rayakan HUT RI ke 71, Pelajar SD/MI Se Kecamatan Mejobo Adu Kreativitas Menghias Sepeda

Alex seorang alumnus Universitas Sebelas Maret asal Tumpangkrasak menanyakan tentang peran Pemerintah Daerah Kabupaten Kudus dalam membantu generasi muda dalam mengembangkan ide-ide kreatif. “Apakah dari pemerintah punya fokus untuk mengembangkan unicorn-unicorn baru atau e-commerce ?, soalnya dari teman-teman saya sendiri itu banyak ide tapi belum menemukan wadahnya,” ucapnya.

H.M. Hartopo menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah mempunyai program pelatihan wirausaha baru tiap tahun yang dibina oleh Dinas Tenaga Kerja, Perindustrian, Koperasi dan UKM Kabupaten Kudus. “Orang Kudus bisa mendaftarkan diri ke Disnaker setiap tahun, nanti buat proposal wirausaha apa yang harus dikerjakan dalam kelompok, terus dilatih di BLK, setelah dilatih dikasih modal oleh pemerintah sekitar 10 juta,” jawabnya. Sementara untuk wadah promosi UMKM, dirinya menambahkan, “Disini belum ada showroom UMKM, padahal home industri di Kudus sangat banyak, saya kira perlu wadah supaya orang di Kudus tahu semua.” ( Kominfo / ISKNEWS.COM )

KOMENTAR SEDULUR ISK :