Inilah Jeritan Pilu Bocah Yang Disiksa Ayah Tirinya, Sempat Katakan Tak Mau Hidup dan Ingin Mati

oleh

Kudus, isknews.com – Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dilakukan oleh seorang ayah tiri kepada SW (9) sehingga meninggalkan bekas luka disekujur tubuh bocah siswa kelas 3 MI NU Basyirul Anam Jati Wetan Kudus, akan membuat pilu bagi siapa saja yang mendengar kisah hari-hari kekerasan yang dialaminya akibat siksaan Noviansyah (40) terhadap bocah malang berwajah tampan ini.

Luka bekas sayatan, sundutan rokok, tamparan, gigitan bahkan jotosan tangan yang seringkali dilakukan oleh sang ayah tirinya, menjadikan bocah pendiam ini tampak lebih sering terlihat murung dan berdiam diri.

Menurut penuturan Nur Aini, yang juga isteri ketua RT dimana keluarga Noviansyah indekos, kekerasan terhadap SW diperkirakan dilakukan sejak bulan Januari tahun ini, usai SW diambil dari pondokannya di sebuah pesantren di wilayah Kecamatan Dawe Kudus.

“SW seringkali dimarahi oleh ayah tirinya, meski saat didalam rumah tak terdengar suara tangisan atau rintihan, namun ketika keluar rumah terlihat anak itu penuh dengan luka-luka, biasanya SW beralasan katanya habis terjatuh,” ujar Nur, Jumat (28/02/2020).

Sementara itu sejumlah tetangga yang lain, menuturkan bahwa sebetulnya mereka sudah sangat curiga dengan kondisi bocah tersebut, SW sering kesini, dia ingin bermain dan berbaur dengan anak-anak sebayanya, namun selalu saja dilarang oleh ayahnya itu.

“Setiap dia berada disini dan bermain denga sebayanya, selalu saja tak lama kemudian ayahnya menyusul dan menyuruhnya pulang, anaknya sopan dan penurut, tapi sejumlah tetangga tahu kadang-kadang mereka memberinya makanan,” tuturnya.

Bahkan kepada salah satu tetangga yang lain, sebut saja Bunga ia menuturkan bahwa SW pernah mengatakan lebih baik mati saja, ia seperti merasa sudah tak tahan hidup.

TRENDING :  Petani Undaan Lor Meninggal Saat Membajak Sawah
SW saat disambangi oleh Kapolres Kudus AKBP Catur Gatot Efendi (Foto: YM)

“Bayangkan anak sekecil itu sudah mengatakan hal seperti itu, seperti sudah ada rasa frustasi untuk hidup, bahkan SW pernah mengatakan pingin diangkat anak oleh saya, makan pakai sambal juga ndak papa,” terang Bunga kepada sejumlah awak media yang menemuinya.

Bunga, sedih dan hanya mampu bilang maaf karena tak mungkin bisa melakukan itu, ia tidak bisa membantu korban keluar dari permasalahan yang terjadi di keluarganya.

“Apalagi ayahnya sering melayangkan ancaman kepada tetangga di sekitar indekosnya jika ketahuan memberikan uang atau makanan ke SW. Ayahnya akan usut dari mana asal semua itu. Saya bukan keluarganya. Saya hanya orang yang sering dimintai bantuan ibu SW. Jadi saya tidak bisa banyak membantu,” ujar Bunga bercerita kepada awak media seraya meneteskan airmata.

Memang menurut Bunga, sangat terlihat mencolok sekali perlakuan SW yang anak tiri dengan adiknya, balita yang merupakan anak kandung dari Noviansyah.

Kapolres saat meminta SW membuka baju dan melihat sejumlah luka disekujur tubuhnya (Foto: YM)

“Kepada adiknya dia sangat menyayangi sekali, namun hal itu berbeda sikap bila dengan SW yang terlihat sering dikerasi,” tutur Bunga yang diamini sejumlah tetangga yang lain.

“Bahkan SW pernah cerita kalau dia kelaparan, tidak diberi makan, karena tak ada yang bisa dimakan di kos-kosan itu,” ungkapnya.

Bunga mengaku tak percaya kalau SW suka mencuri seperti alasan ayahnya setiap habis menghajar dia.

“Karena anak itu selama disini baik, tak memperlihatkan tanda-tanda anak yang suka mencuri, anaknya justru sangat sopan ke orang,” tutur Bunga.

Menurutnya tadi pagi Bunga sempat menemuinya, dia meminta kepada SW untuk tegar menghadapi banyak orang yang kini akan datang menemuinya.

“Jangan takut, kamu ceritakan saja apa adanya, kamu sekarang aman, banyak orang yang kini akan menjagamu, bapakmu sudah ditahan pak Polisi,” cerita bunga berkaca-kaca.

TRENDING :  KH.Anif,” Pemerintah bisa lebih bijak dan konsisten ”

Sementara ibunya jarang berada di rumah, dia berangkat subuh dan pulang malam karena memang sedang bekerja di sebuah pabrik Garment di Sayung Demak. Meski kondisi rumahnya sedang ramai bermasalah, tapi Siti Siti Solichah (35), warga Desa Lau, Kecamatan Dawe, pagi tadi tetap berangkat bekerja.

“Katanya dia takut diberi Surat Peringatan oleh Pabrik bila tak berangkat bekerja, Jadi memang hari-hari begini, isteriya kerja dan Noviansyah ngurus SW dirumah, karena dia jaga parkirnya malam,” terang Bunga.

Lalu siapakah sosok sang ayah tiri bernama Noviansyah itu. Berdasar data dari Kades Jati Wetan, Suyitno, ayah SW berasal dari Ngetuk Kecamatan Nalumsari Jepara.

Pria yang menurut Kades telah kehilangan satu tangan akibat sebuah kecelakaan itu, kini bekerja sebagai juru Parkir, kalau malam habis Maghrib di sebuah warung nasi sebelah selatan lampu merah Bejagan, lalu jelang dini hari pindah di warung lodeh barat lampu merah yang bukanya memang tengah malam hingga pagi.

“Mereka baru sekitar 2 bulan ini indekos di rumah kos Dukuh Barisan RT 01 RW III jati Wetan ini, sebelumnya mereka indekos di Dukuh Blolo Desa Karangampel Kaliwungu Kudus,” terang Suyitno.

Saat pagi tadi rumah indekos mereka dikunjungi oleh Kapolres Kudus, AKBP Catur Gatot Efendi, yang sengaja datang untuk menyampaikan empati dan memberikan bingkisan berupa mainan dan tas sekolah serta sebuah kotak besar yang entah apa isinya, wajah SW tampak sumringah, dia lancar menjawab pertanyaan Kapolres, meski masih terlihat suasana tampak tertekan.

“Ini wujud empati saya kepada SW. Semoga dia bisa lebih semangat dan tidak lagi menerima tekanan mental dari orang tuanya lagi,” ujar Kapolres.

TRENDING :  Innalillahi, Warga Jati Kulon ini Meninggal Dunia Akibat Kecelakaan Kerja

Dari pengamatan media ini, melihat usianya, SW bukan termasuk tipe bocah pemalu, saat sejumlah orang baik pejabat atau jurnalis yang tak dia kenalnya tiba-tiba berduyun-duyun datang ke kosan orangtuanya lalu menyalami dan ada yang sebagian memberikan sesuatu kepada dia. SW tetap bersedia menemui, meski lebih banyak diam tanpa kata, hanya bibir berhias darah kering menghitam yang sedikit menampakkan senyumnya.

Bersyukur kondisi SW mulai membaik. Bahkan bocah itu sudah bisa tersenyum kembali usai diajak menonton televisi.

“Katanya selama ini dia tidak penah lihat televisi. Tadi diajak nonton televisi dia senang sekali,” ujar pemilik kos kepada Kapolres.

Kini Noviansyah telah diamankan oleh Polres Kudus, dia sudah ditahan dan harus mempertanggung jawabkan atas kekerasan yang telah dia timpakan kepada anak tirinya itu.

“Jadi masyarakat harus bersabar dan menahan diri dari emosi, kini sudah dalam pemeriksaan dan pendalaman, saksi-saksi juga sudah kita panggil. Di antaranya ibu korban, perangkat desa, hingga tetangga sekitar kediaman tersangka, Kami masih mendalami hingga kini, sejauh ini kekerasan memang hanya dilakukan sang ayah tirinya,” ujarnya.

Ia mengatakan, akan mengenakan dua pasal dalam peristiwa ini yaitu Undang-Undang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman lima tahun penjara. Serta pasal yang mengatur tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) dengan ancaman hukuman sepuluh tahun penjara.

“Pemeriksaan pada kejiawaan tersangka pun bakal dijadwalkan segera. Hal tersebut dilakukan guna mengetahui kondisi psikis dari ayah tiri penyiksa anak tersebut. Kami akan segera jadwalkan pemeriksaan psikologinya,” tandas dia. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :