Jelang Lebaran, Produksi Madu Mongso di Kudus Kebanjiran Pesanan

oleh -11795 Dilihat
Proses packing madu mongso dilakukan dengan teliti sebelum dikirim ke pelanggan. Jelang Lebaran, pesanan meningkat tajam sehingga setiap kemasan disiapkan rapi demi menjaga kualitas dan cita rasa tetap legit saat sampai di tangan pembeli. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Menjelang Hari Raya Idulfitri, produksi madu mongso rumahan di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, kebanjiran pesanan. Permintaan yang terus meningkat membuat proses produksi dilakukan hampir setiap hari, terutama saat memasuki H-10 Lebaran.

Usaha bertajuk Madu Mongso Sumber Rizki ini dikelola Bu Nur Saadah (50), yang meneruskan usaha keluarga sejak 12 tahun lalu. Bisnis tersebut sebenarnya telah dirintis sang ibu lebih dari 30 tahun silam dan kini masuk generasi kedua.

Jika pada hari biasa produksi hanya dilakukan dua minggu sekali sekitar 17 kilogram, maka saat Ramadan ritmenya berubah drastis. Saadah bahkan memulai proses memasak sejak pukul 01.00 dini hari demi memenuhi pesanan pelanggan.

“Kalau Ramadan memang ramai. Apalagi sudah mendekati Lebaran, pesanan terus masuk, jadi kami harus stok sesuai permintaan,” ujarnya.

Bahan utama berupa ketan hitam premium, ragi, gula, dan santan dimasak menggunakan kayu bakar. Setelah melalui proses fermentasi, adonan dimasak kembali sambil diaduk selama tiga hingga empat jam hingga benar-benar tanek atau matang sempurna.

Menurut Saadah, proses panjang tersebut menjadi kunci tekstur legit sekaligus daya tahan produk. Ia menegaskan penggunaan kayu bakar turut memengaruhi cita rasa khas madu mongso buatannya.

“Kuncinya harus matang sempurna dan pakai kayu bakar. Kalau tidak, bisa cepat jamuran atau kalau dibelah jadi ‘pero’ (berair),” jelasnya.

Tanpa bahan pengawet, madu mongso produksinya mampu bertahan hingga satu tahun jika disimpan dalam wadah kedap udara. Jika penyimpanannya biasa, daya tahannya sekitar lima bulan.

Dalam proses produksi, Saadah dibantu enam pekerja. Pelanggannya pun tak hanya dari Kudus, tetapi juga dari Jepara, Pati, hingga Demak. Pemasaran dilakukan melalui pemesanan langsung, dititipkan ke pedagang, hingga promosi lewat media sosial seperti WhatsApp.

“Di luar Ramadan tetap ada pesanan, tapi produksinya dua minggu sekali. Sekarang bisa hampir setiap hari,” tambahnya.

Meski permintaan meningkat, harga tetap dipertahankan stabil yakni Rp 95 ribu per kilogram, sama seperti Ramadan tahun lalu karena harga bahan baku relatif tidak mengalami kenaikan signifikan.

Kini, Madu Mongso Sumber Rizki telah mengantongi sertifikat halal, PIRT, dan NIB, sehingga semakin memperkuat kepercayaan pelanggan menjelang momen Lebaran. (AS/YM)