KUDUS, isknews.com – Kelompok Tani (Kelomtan) Ternak Kerbau Mahesa Danu, Dukuh Karangturi, Desa Setro Kalangan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, kini sudah tidak aktif lagi, atau dengan kata lain, paguyuban yang beranggotakan peternak kerbau itu sudah bubar. Padahal, sekitar 10 tahun yang lalu, Kelomtan Mahesa Danu, pernah meraih juara pertama kelompok peternak kerbau terbaik, tingkat Provinsi Jawa Tengah. “Salah satu penyebab bubarnya kelomtan ternak itu, adalah setiap kali terjadi bencana banjir, buku-buku administrasi, selalu rusak terendam banjir,” kata Suyoto, (53 th), mantan Ketua Kelomtan Ternak Mahesa Danu, saat dihubungi isknews.com, Minggu (4/10), di tempat tinggalnya, di Dukuh Karangturi.
Menurut dia, pihaknya ditunjuk oleh kepala desa Setro Kalangan yang menjabat saat itu, pada 1997, untuk menjadi Ketua Kelomtan Mahesa Danu. Entah dengan pertimbangan apa, kepala desa mempercayakan jabatan itu kepadanya, padahal saat itu Suyoto tidak mempunyai kerbau satu ekor pun. Akan tetapi karena para petani ternak, khususnya pemilik kerbau juga menudukung dan tidak keberatan, jabatan itu pun diterimanya. “Memang selama saya jadi ketua , Mahesa Danu pernah jadi juara di Tingkat Kabupaten Kudus, bahkan menjadi juara satu pula di Tingkat Provinsi Jawa Tengah, sebagai kelompok tani ternak kerbau terbaik. Tapi entah tahun berapa, saya lupa, karena memang sudah lama sekali.”
Saat paguyuban itu sedang aktif-aktifnya, ungkapnya lanjut, jumlah anggotanya mencapai 22 orang peternak, dengan jumlah kerbau mencapai puluhah ekor. Kerbau-kerbau itu ditempatkan di kandang-kandang yang berada di satu tempat, yakni di sepanjang bawah tanggul Sungai Wulan. Setiap peternak mendapat satu petak, ukurannya sesuai jumlah kerbau yang dimiliki. “Keadaan berubah, saat dukuh ini dilanda banjir, sehingga para peternak menyelamatkan atau mengungsikan kerbaunya di atas tanggul, dan kemudian dengan alasan banjir terjadi setiap tahun, mereka pun membuat kandang di atas tanggul Sungai Wulan, sampai sekarang.”
Banjir itu pulalah yang menyebabkan kelomtan ternak Mahesa Danu, akhirnya bubar. Suyoto bercerita, saat terjadi musibah tahunan itu, yang dipentingkan warga termasuk dirinya, adalah menyelamatkan anggota keluarganya, berikut barang-barang berharga yang sempat dibawa. Surat-surat atau dokumen penting, tidak terpikirkan, termasuk buku-buku administrasi paguyuban peternak yang menjadi tanggung jawabnya. Bahkan dokumen penting, seperti ijasah sekolah pun tidak sempat diselamatkan.
“Sekarang, setelah paguyuban tidak ada, peternak memelihara kerbaunya secara pribadi, dan yang lebih banyak malah peternak musiman. Yakni membeli dan memelihara kerbau sampai besar, dan dijual untuk hewan korban badha besar (Hari Raya Idul Fitri).” (DM)
Kelomtan Mahesa Danu, Juara Propinsi Yang Tak Lagi Aktif Akibat Banjir
KOMENTAR SEDULUR ISK :






