Kemarau Panjang Diprediksi Landa Pantura Timur, Risiko Kesehatan hingga Kebakaran Mengintai

oleh -99 Dilihat
Foto : ilustrasi kemarau panjang

KUDUS, ISKNEWS.COM – Ancaman kekeringan perlu menjadi perhatian masyarakat di kawasan Pantura timur Jawa Tengah. Periode cuaca kering yang cukup panjang diperkirakan dapat menimbulkan sejumlah dampak, mulai dari berkurangnya pasokan air bersih, gangguan kesehatan, persoalan pertanian hingga potensi kebakaran.

Pengamat lingkungan asal Kabupaten Kudus, Hendy Hendro, mengatakan sejumlah daerah di Pantura timur berpotensi menghadapi musim kemarau yang berlangsung cukup lama dengan kondisi relatif kering.

Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Demak, Grobogan, Kudus, Jepara, Pati, Rembang dan Blora. Menurut Hendy, masyarakat di daerah tersebut perlu menyiapkan langkah antisipasi sejak dini untuk menghadapi keterbatasan air dan berbagai dampak yang mungkin muncul.

Ia menyebut kondisi kemarau tersebut dipengaruhi oleh fenomena El Nino. Dibandingkan musim kemarau yang diperkirakan berlangsung delapan hingga 10 bulan, periode penghujan disebut hanya berlangsung sekitar dua sampai empat bulan.

“Untuk itu perlu adanya kewaspadaan menghadapi musim kering ini, apalagi puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus-September 2026,” kata Hendy.

Menurut Hendy, salah satu dampak yang perlu diperhatikan adalah kondisi kesehatan masyarakat. Cuaca panas dan lingkungan yang lebih kering berpotensi meningkatkan sejumlah gangguan kesehatan, seperti infeksi saluran pernapasan, demam berdarah, diare, tifus, sakit mata hingga dehidrasi.

Untuk mengurangi risikonya, masyarakat disarankan menjaga kondisi tubuh dan kebersihan lingkungan. Penggunaan masker, memperbanyak minum air putih, membatasi konsumsi kafein serta pemberantasan sarang nyamuk dapat dilakukan sebagai langkah pencegahan.

“Bila sakit, segera periksakan ke puskesmas,” ujarnya.

Dampak kemarau juga berpotensi dirasakan petani. Keterbatasan air dapat mengganggu pertumbuhan tanaman hingga memicu gagal panen. Selain itu, biaya produksi bisa meningkat karena petani membutuhkan pompa air, sementara pola tanam juga berpotensi mengalami perubahan.

Serangan hama dan penyakit tanaman pun perlu diantisipasi. Hendy menyarankan petani mengoptimalkan penggunaan air melalui pompanisasi maupun irigasi berselang.

Pemilihan jenis tanaman yang lebih mampu bertahan pada kondisi minim air juga dapat menjadi alternatif. Petani juga dapat mempertahankan kelembapan tanah dengan penggunaan mulsa serta melakukan pengolahan lahan secara lebih efisien.

“Pengawasan terhadap organisme pengganggu tanaman juga perlu dilakukan secara rutin agar serangan dapat diketahui sejak awal dan segera dikendalikan,” bebernya.

Selain pertanian, ketersediaan air untuk kebutuhan masyarakat juga menjadi persoalan yang harus diantisipasi. Sungai dan sumur dangkal berpotensi mengalami penurunan debit ketika kemarau berlangsung lama, khususnya di daerah yang mengandalkan kedua sumber tersebut.

Masyarakat diminta mengatur pemakaian air agar persediaan yang ada dapat mencukupi kebutuhan selama musim kering.

“Untuk menghadapi kekeringan ini dibutuhkan penggunaan air secara hemat dan bijak, jangan boros,” jelasnya.

Menurutnya, upaya mempertahankan cadangan air tidak cukup hanya dilakukan ketika kekeringan terjadi. Penghijauan, pembangunan embung, pembuatan biopori dan sumur resapan hingga pemanfaatan air hujan menjadi sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat ketersediaan air.

Apabila kondisi kekeringan semakin parah, penanganan kebutuhan air bersih juga membutuhkan kerja sama berbagai pihak, termasuk pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat.

Potensi kebakaran menjadi persoalan lain yang harus diperhatikan ketika kondisi lingkungan semakin kering. Hutan, lahan maupun kawasan permukiman lebih mudah terbakar karena vegetasi mengering, suhu meningkat dan angin dapat mempercepat penyebaran api.

Kelalaian manusia juga berpotensi menjadi pemicu, misalnya membuang puntung rokok sembarangan atau melakukan pembakaran terbuka tanpa pengawasan.

Di lingkungan permukiman, warga disarankan rutin memeriksa instalasi listrik dan memastikan peralatan elektronik maupun kompor telah dimatikan setelah digunakan. Pembakaran sampah secara sembarangan juga perlu dihindari, sementara alat pemadam api ringan dapat disiapkan sebagai upaya penanganan awal.

Untuk kawasan hutan dan lahan, pencegahan dapat dilakukan dengan menghindari pembukaan lahan menggunakan metode pembakaran. Pemantauan kondisi lapangan dan titik panas juga penting dilakukan agar potensi kebakaran dapat diketahui sedini mungkin.

“Jika langkah pencegahan dilakukan sejak awal, risiko kekeringan dan kebakaran akibat kondisi kemarau dapat ditekan,” ungkapnya. (AS/YM).

No More Posts Available.

No more pages to load.