Kudus, isknews.com – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muria Kudus (UMK) terus memperluas jejaring kerja sama demi mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Terbaru, FKIP UMK resmi menjalin kolaborasi dengan Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK) Provinsi Jawa Tengah. Kesepakatan ini dituangkan dalam penandatanganan perjanjian kerja sama yang berlangsung pada Jumat (25/7/2025) di kampus UMK.
Perjanjian ditandatangani langsung oleh Dekan FKIP UMK, Dr. Erik Aditia Ismaya, S.Pd., M.A., sebagai pihak pertama, dan Ketua MGBK Jateng, Nurcahyo Adi Prasetyo, S.Pd., Kons., sebagai pihak kedua.
Dekan FKIP UMK, Dr. Erik Aditia Ismaya, menyatakan bahwa kerja sama ini menjadi langkah strategis untuk menguatkan implementasi Tri Dharma, terutama pada bidang pengajaran, pengabdian masyarakat, dan penelitian. Melalui kolaborasi ini, mahasiswa dan dosen UMK dapat lebih aktif terlibat dalam berbagai kegiatan di sekolah, seperti observasi, magang, hingga pendampingan pembelajaran.
“Ini menjadi landasan kuat bagi kami untuk mencetak lulusan yang tidak hanya berkompeten secara akademik, tetapi juga memahami dinamika pendidikan di lapangan, Kerja sama ini juga mencakup penguatan layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah,” jelas Erik.
Ketua Program Studi BK UMK, Edris Zamroni, menambahkan bahwa pihaknya menyiapkan enam tenaga ahli bergelar doktor yang masing-masing memiliki kompetensi spesifik, mulai dari psikopedagogi, konseling komunitas, evaluasi, hingga manajemen program ke-BK-an.
“Kami tidak hanya menekankan pada pembelajaran mendalam atau deep learning, tetapi juga ingin menghidupkan kembali layanan responsif yang menjadi ciri khas layanan BK,” ungkap Edris. “Ini penting karena saat ini pemerintah tengah melakukan revitalisasi besar-besaran terhadap peran layanan BK di semua jenjang pendidikan.”
Tim akademisi FKIP UMK akan memberikan masukan terhadap perangkat layanan yang telah disusun oleh MGBK, mulai dari aspek teknis, substansi, hingga teori konseling. Evaluasi juga dilakukan untuk memastikan bahwa pendekatan yang dibangun sejalan dengan “Tujuh Jurus BK Hebat” yang digaungkan oleh Kementerian Pendidikan.

Sementara itu, Ketua MGBK Jawa Tengah, Nurcahyo Adi Prasetyo, mengapresiasi sinergi ini dan menyebutnya sebagai kolaborasi yang penting untuk menyamakan persepsi para guru BK di Jawa Tengah.
“Selama ini, guru BK sering bekerja sendiri-sendiri tanpa panduan baku. Kami ingin ada panduan bersama agar tidak simpang siur,” terang Nurcahyo. “Karena itu, kami bekerja sama dengan UMK yang sudah terbukti kapabel dalam mendampingi pengembangan perangkat layanan.”
Nurcahyo menjelaskan, hasil dari kerja sama ini akan dituangkan dalam bentuk produk panduan atau dokumen digital yang dapat diakses secara gratis oleh seluruh guru BK di Jawa Tengah. Hal ini juga memungkinkan distribusi informasi dan kompetensi secara merata ke seluruh kabupaten/kota di provinsi tersebut.
“Harapan kami, tidak ada daerah yang tertinggal. Semua guru BK mendapatkan informasi dan penguatan yang sama. Kami juga menjaga agar tetap selaras dengan kebijakan nasional karena MGBK Jateng tidak bisa berjalan sendiri tanpa mengacu ke pusat,” imbuhnya.
Perjanjian kerja sama ini berlaku selama lima tahun dan dapat diperpanjang. Seluruh pelaksanaan teknis akan dituangkan dalam program operasional bersama kedua belah pihak.
“Melalui kerja sama ini, berharap tercipta ekosistem pendidikan yang lebih kolaboratif, adaptif, dan mampu menjawab tantangan dunia pendidikan secara relevan,” pungkasnya. (AS/YM)








