Khidmatnya Misa Kamis Putih di Kudus, Hadirkan Pesan Kasih dan Pelayanan

oleh -206 Dilihat
Umat Katolik saat mengikuti Misa Kamis Putih di Gereja Santo Yohanes Evangelista Kabupaten Kudus, Kamis (02/04/2026). (Foto: Istimewa)

Kudus, isknews.com – Suasana khidmat menyelimuti perayaan Misa Kamis Putih di Gereja Santo Yohanes Evangelista, Kudus, Kamis (2/4/2026). Ribuan umat Katolik mengikuti ibadat yang sarat makna tersebut, sekaligus meneguhkan pesan kasih dan semangat pelayanan dalam kehidupan sehari-hari.

Perayaan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian Trihari Suci dalam tradisi Gereja Katolik. Dalam momen tersebut, umat diajak untuk mengenang perjamuan terakhir Yesus Kristus bersama para murid-Nya sebagai wujud kasih dan pengorbanan.

Kabid Liturgi Dewan Paroki, Franciscus Xaverius Didik Setyawan, menjelaskan bahwa Kamis Putih memiliki makna mendalam bagi umat. Melalui perayaan ini, umat diingatkan akan pentingnya Ekaristi sebagai simbol kasih yang diberikan Yesus kepada manusia.

Perayaan ini menjadi awal Trihari Suci. Umat diajak merenungkan kasih dan pengorbanan Yesus yang dinyatakan melalui Ekaristi,” ujarnya.

Tingginya antusiasme umat membuat pihak gereja membagi misa dalam dua sesi, yakni pukul 17.30 WIB dan 20.30 WIB. Pada sesi pertama saja, jumlah umat yang hadir diperkirakan mencapai antara 1.500 hingga 1.800 orang.

Untuk mengakomodasi membludaknya jemaat, panitia menyediakan sejumlah ruang tambahan di area gereja. Hal ini dilakukan agar seluruh umat tetap dapat mengikuti jalannya ibadat dengan nyaman dan tertib.

Salah satu prosesi yang menjadi ciri khas Kamis Putih adalah pembasuhan kaki. Dalam ritual ini, 12 orang umat dipilih sebagai simbol para murid Yesus, yang menggambarkan sikap rendah hati dan kesediaan untuk melayani sesama.

Pembasuhan kaki melambangkan ajakan untuk saling melayani tanpa melihat latar belakang. Nilai ini penting untuk diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Didik.

Selain prosesi tersebut, misa juga diisi dengan perayaan Ekaristi dan penerimaan komuni oleh umat. Setelah ibadat selesai, dilanjutkan dengan perarakan Sakramen Mahakudus menuju altar khusus sebagai bentuk penghormatan.

Rangkaian perayaan kemudian ditutup dengan tuguran, yakni kegiatan berjaga dan berdoa bersama hingga tengah malam. Tradisi ini dimaknai sebagai bentuk kesetiaan umat dalam menemani Yesus menjelang peristiwa penyaliban.

Tema Paskah tahun ini mengangkat semangat menghadirkan masyarakat yang bahagia dan sejahtera. Pesan ini mendorong umat untuk tidak hanya aktif dalam kehidupan gereja, tetapi juga berperan di tengah masyarakat.

Didik menambahkan, umat diharapkan mampu mengimplementasikan nilai kasih dan pelayanan dalam kehidupan sosial, sehingga dapat menciptakan suasana yang harmonis dan penuh kepedulian.

Melalui perayaan yang berlangsung penuh makna ini, umat diharapkan semakin menghayati nilai pengorbanan, kasih, dan pelayanan, tidak hanya selama masa Paskah, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :