Kirab Tradisi Saparan 2026, Warga Ngembal Kulon Kudus Gaungkan Pesan Cinta Lingkungan

oleh -331 Dilihat
Kepala Desa Ngembal kulon, Moh Hanafi bersama Peserta Kirab Tradisi Saparan 2026 mengangkat isu pelestarian lingkungan saat melintasi jalan di Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Minggu (19/7/2026). (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Kirab Tradisi Saparan 2026 di Desa Ngembal Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, berlangsung meriah pada Minggu (19/7/2026). Mengusung tema “Merawat Budaya, Melestarikan Lingkungan”, kirab yang menjadi puncak rangkaian Tradisi Saparan ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya leluhur, tetapi juga media edukasi bagi masyarakat untuk semakin peduli terhadap kelestarian lingkungan.

Peserta kirab yang berasal dari berbagai RT di Desa Ngembal Kulon menampilkan beragam kreasi kostum, gunungan, hingga miniatur bertema lingkungan. Melalui penampilan tersebut, warga menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, tidak mencemari sungai, hingga menjaga sumber daya air demi keberlangsungan generasi mendatang.

Kepala Desa Ngembal Kulon, Moh. Khanafi, mengatakan tema lingkungan sengaja diangkat agar masyarakat tidak hanya menikmati kemeriahan kirab, tetapi juga memahami pentingnya menjaga alam sebagai tanggung jawab bersama.

“Alhamdulillah, puncak rangkaian Saparan hari ini berupa kirab dengan tema lingkungan. Hampir seluruh RT menyampaikan rasa syukur melalui kreasi yang mengangkat pesan tentang menjaga kebersihan, membuang sampah pada tempatnya, tidak membuang sampah ke sungai, serta menjaga kualitas air agar tetap bisa dinikmati anak cucu kita,” ujarnya.

Menurut Khanafi, pelestarian lingkungan tidak dapat hanya dibebankan kepada pemerintah, baik pemerintah kabupaten, desa, maupun tingkat RT. Dibutuhkan kesadaran dan partisipasi seluruh masyarakat agar kebiasaan menjaga lingkungan benar-benar menjadi budaya.

“Harapan kami, pesan-pesan yang disampaikan melalui kirab ini bisa masuk ke pikiran masyarakat dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah,” katanya.

Selain mengusung pesan lingkungan, Tradisi Saparan juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur Desa Ngembal Kulon, yakni Mbah Rujoko Sumo, Mbah Nyai Jumat (Simbah Nyai Djuwed), dan Mbah Poncowati. Melalui doa bersama yang digelar sebelumnya, masyarakat memanjatkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan sekaligus memohon keselamatan agar terhindar dari berbagai musibah.

“Dengan rasa syukur ini kami berharap masyarakat Ngembal Kulon diberikan kesehatan, dimudahkan rezekinya, serta anak-anak tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berakhlakul karimah,” ungkapnya.

Khanafi juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pengurus makam leluhur, ketua RT dan RW, PKK, Karang Taruna, pelaku UMKM, hingga masyarakat yang bergotong royong menyukseskan acara. Ia menyebut penyelenggaraan Tradisi Saparan merupakan hasil swadaya warga yang telah berlangsung selama lima tahun berturut-turut.

“Terima kasih kepada seluruh warga Ngembal Kulon yang telah berpartisipasi. Kreativitas warga, mulai dari kostum hingga gunungan yang ditampilkan, sangat luar biasa. Semangat kebersamaan inilah yang ingin terus kami jaga,” tambahnya.

Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Kudus, Sulistyo Utomo, menilai Tradisi Saparan tidak hanya memiliki nilai budaya dan spiritual, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian masyarakat desa.

“Seperti yang disampaikan Pak Kades, kegiatan ini luar biasa. Selain melestarikan budaya dan mengirim doa kepada leluhur, saya melihat dampak ekonominya juga sangat besar. Pedagang kecil dan pelaku UMKM bisa berjualan, masyarakat datang berbondong-bondong sehingga roda ekonomi desa ikut bergerak,” ujarnya.

Ia berharap Tradisi Saparan dapat terus diselenggarakan setiap tahun karena mampu melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tingkat RT hingga pelaku usaha kecil.

“Ini menjadi contoh kegiatan desa yang mampu menggerakkan ekonomi dari tingkat paling bawah. Semoga tradisi ini terus dilestarikan sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi budaya, tetapi juga kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.

Diketahui, Tradisi Saparan 2026 sendiri berlangsung selama empat hari, mulai 16 hingga 19 Juli 2026. Berbagai kegiatan digelar untuk memeriahkan acara, di antaranya pembukaan dan Gebyar UMKM, lomba mewarnai, prosesi penyerahan Kambing Saparan, panggung budaya, doa bersama di Makam Simbah Buyut Poncowati, pembagian nasi barokah, pertunjukan qosidah, hingga ditutup dengan Kirab Tradisi Saparan sebagai puncak acara.

Selain melestarikan budaya, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat kebersamaan warga sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui pemberdayaan UMKM Desa Ngembal Kulon. (AS/YM)