Kolaborasi Nojorono–Disbudpar Kudus Angkat Caping Kalo ke Panggung Nasional

oleh -492 Dilihat
Final Festival Tari Lajur Caping Kalo Tingkat Kabupaten Kudus Tahun 2026 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus. (Foto: YM)

Kudus, isknews.com — Kolaborasi Yayasan Karya Bakti Nojorono bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus terus mendorong Caping Kalo sebagai identitas budaya daerah yang mampu menembus panggung nasional.

Upaya tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan Final Festival Tari Lajur Caping Kalo Tingkat Kabupaten Kudus Tahun 2026 di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengatakan Caping Kalo memiliki filosofi kuat karena lahir dari kreativitas masyarakat yang memadukan unsur alam seperti bambu dan aren menjadi karya budaya bernilai tinggi.

“Diharapkan nanti pada peringatan HUT ke-477 Kudus, Caping Kalo bisa menjadi Rekor MURI. Kami berharap masyarakat memakai Caping Kalo. Ini bentuk kreativitas hasil interaksi dengan alam yang dipadukan bambu dan aren hingga akhirnya menjadi Caping Kalo,” ujarnya.

Sam’ani optimistis Caping Kalo dapat menjadi ikon budaya khas Kudus yang semakin dikenal luas. Bahkan, ia menyebut penggunaan Caping Kalo mampu menghadirkan daya tarik tersendiri.

“Yang pakai Caping Kalo pasti cantik,” selorohnya yang langsung disambut riuh peserta dan tamu undangan.

Selain pelestarian budaya, Sam’ani juga menegaskan pentingnya menjaga integritas di lingkungan pemerintahan dan masyarakat. Ia mengingatkan agar tidak ada praktik pungutan liar maupun korupsi di Kabupaten Kudus.

“Kami harapkan mari menjaga integritas. Tidak boleh ada pungutan dan korupsi. Semoga Kudus menjadi kota toleransi yang beragam, termasuk lewat Caping Kalo yang semakin keren,” katanya.

Sebagai bentuk penguatan budaya lokal, Pemkab Kudus juga akan menerapkan penggunaan pakaian adat Kudus setiap tanggal 23 tiap bulan. Dalam kebijakan tersebut, kaum perempuan dianjurkan mengenakan Caping Kalo.

Sementara itu, Plh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Teguh Riyanto mengatakan Festival Tari Lajur Caping Kalo bukan sekadar perlombaan tari, melainkan ruang bersama untuk memperkuat identitas budaya Kudus di tengah perkembangan zaman.
Menurutnya,

Caping Kalo merupakan warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan filosofi kehidupan masyarakat Kudus yang dekat dengan alam serta tradisi gotong royong.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal Caping Kalo sebagai atribut budaya, tetapi juga memahami nilai dan makna yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.

Teguh menuturkan antusiasme peserta pada festival tahun ini menunjukkan budaya lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat, terutama kalangan pelajar dan komunitas seni.

Ia berharap Festival Tari Lajur Caping Kalo dapat menjadi agenda budaya tahunan yang mampu menarik wisatawan sekaligus menggerakkan sektor ekonomi kreatif di Kabupaten Kudus.

“Melalui kolaborasi dengan Yayasan Karya Bakti Nojorono, kami ingin budaya Kudus semakin dikenal luas dan memiliki daya saing di tingkat nasional,” katanya.

Dalam laporan penyelenggara, Festival Tari Lajur Caping Kalo digelar untuk melestarikan serta memperkenalkan Caping Kalo sebagai warisan budaya takbenda khas Kabupaten Kudus kepada generasi muda dan masyarakat luas.

Kegiatan yang merupakan hasil kerja sama Pemerintah Kabupaten Kudus dan Yayasan Karya Bakti Nojorono itu diikuti 92 tim dari kategori SMP, SMA, hingga umum.
(YM/YM)