Kudus, isknews.com – Perpustakaan Universitas Muria Kudus (UMK) menggelar Talkshow Budaya & Pariwisata Kudus 4.0 bertema “Menyatukan Inovasi Digital dan Pelestarian Budaya Menuju Pariwisata Unggul”, di lantai 3 gedung Perpustakaan setempat. Acara ini menjadi wadah bagi akademisi, pelaku pariwisata, komunitas budaya, dan generasi muda untuk membahas sinergi teknologi digital dengan pelestarian budaya lokal.
Bertempat di Pojok Kekudusan Perpustakaan UMK lantai 3, talkshow menghadirkan dua narasumber utama, yakni Kabid Kebudayaan Disbudpar Kabupaten Kudus, Arief Zuli Tanjung, S.T., M.T., dan konten kreator pariwisata, Fifi Lia Rumita, S.Pd.
Dalam sesi pemaparan, Fifi Lia Rumita menegaskan peran konten kreator sebagai jembatan antara destinasi wisata dan audiens global. Menurutnya, konten digital seperti foto, video, dan cerita interaktif dapat mempromosikan potensi Kudus tanpa batas jarak dan waktu.
“Setiap tradisi dan destinasi punya cerita dan filosofi yang perlu dipahami sebelum membuat konten. Tujuannya agar yang disampaikan tidak hanya indah secara visual, tapi juga mengedukasi,” jelasnya.
Fifi juga mengungkapkan pentingnya mengemas konten sesuai selera generasi muda, misalnya lewat short video, storytelling, atau format reels dan TikTok. Ia mengakui tantangan yang dihadapi konten kreator meliputi persaingan ketat, tren yang cepat berubah, dan keterbatasan sumber daya.
“Solusinya, riset tren terbaru, cari sudut pandang unik, dan manfaatkan teknologi editing serta analytics untuk memperluas jangkauan,” tambahnya.

Sementara itu, Arief Zuli Tanjung menekankan bahwa kemajuan teknologi perlu dimanfaatkan untuk dokumentasi, promosi, dan edukasi budaya. Inovasi seperti virtual tour destinasi budaya Kudus, digitalisasi arsip kesenian, hingga promosi event budaya di media sosial menjadi langkah strategis agar warisan budaya tidak tergeser zaman.
Penyelenggara acara, Kepala Perpustakaan Universitas Muria Kudus (UMK), Firman Al-Mubaraq, S.Hum., menjelaskan bahwa nama “Kudusan” dipilih karena ingin menjadikannya sebagai pusat informasi bagi siapa saja yang ingin mengetahui Kudus secara menyeluruh. Mulai dari aspek budaya, literasi, sejarah, hingga kuliner, semua dirangkum di satu tempat agar mudah diakses masyarakat.
“Harapannya, ketika orang ingin mencari tahu tentang Kudus, yang pertama kali terlintas di pikiran mereka adalah tempat ini. Karena itu kami menghadirkan banyak koleksi, termasuk replika makanan khas seperti soto Kudus, lentok, dan barek Kudus,” ungkapnya.
Firman menambahkan, kegiatan yang digelar di Pojok Kudusan Perpustakaan UMK kali ini mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan. Meski target awal hanya 50 peserta, jumlah yang hadir membludak hingga mencapai 60–70 orang. “Awalnya mayoritas peserta dari kalangan mahasiswa, tapi ternyata banyak juga masyarakat umum yang hadir, termasuk para penggiat budaya. Bahkan ada yang datang langsung tanpa mendaftar,” jelasnya.
Ia berharap, keberadaan kegiatan ini dapat mendekatkan generasi muda, khususnya warga Kudus, pada budaya daerahnya. “Paling tidak, mereka tetap memiliki identitas sebagai orang Kudus. Jangan sampai nilai-nilai budaya kita luntur,” pungkasnya. (AS/YM)








