KPU Kudus Bakal Gelar Pemilihan Ketua OSIS Serentak, Jadi Simulasi Demokrasi bagi Pelajar

oleh -585 Dilihat
Peluncuran Pemilihan Ketua OSIS Serentak tingkat SLTA Tahun 2026 di Pendapa Kabupaten Kudus dihadiri perwakilan sekolah, guru, dan pelajar. Program ini diharapkan menjadi miniatur pemilu untuk membangun budaya demokrasi sejak dini. (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM).

KUDUS, ISKNEWS.COM – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kudus resmi meluncurkan program Pemilihan Ketua OSIS Serentak tingkat SLTA Tahun 2026 di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (28/7/2026). Program tersebut diharapkan menjadi sarana pembelajaran demokrasi bagi pelajar sekaligus menyiapkan pemilih pemula yang lebih memahami proses pemilu.

Peluncuran program dilakukan oleh Wakil Bupati Kudus, Belinda Birton, didampingi Ketua KPU Kudus Ahmad Amir Faisol serta dihadiri kepala sekolah dan perwakilan siswa dari berbagai SMA, SMK, MA, dan SMA LB di Kabupaten Kudus.

Wakil Bupati Kudus Belinda Birton mengatakan, program tersebut merupakan langkah positif untuk mengenalkan proses demokrasi kepada pelajar sejak dini. Menurutnya, pemilihan Ketua OSIS merupakan miniatur pelaksanaan pemilu yang mengajarkan tahapan demokrasi secara langsung.

“Melalui kegiatan ini para siswa bisa belajar bagaimana proses pemilihan berlangsung, mulai dari pembentukan panitia, tahapan pemungutan suara, hingga terpilihnya ketua OSIS. Ini menjadi pembelajaran yang baik agar mereka memahami arti demokrasi,” ujarnya.

Belinda berharap pengalaman tersebut dapat membangun budaya demokrasi di kalangan generasi muda dan berdampak terhadap meningkatnya kualitas demokrasi di Kabupaten Kudus.

Ia juga berpesan agar seluruh peserta mengikuti setiap tahapan pemilihan dengan sungguh-sungguh sehingga dapat memahami makna demokrasi secara utuh. Menurutnya, program tersebut diharapkan mampu meningkatkan partisipasi pemilih pada pemilu mendatang.

“Partisipasi pemilih di Kudus pada pemilu sebelumnya sudah mencapai sekitar 86 persen. Harapannya pada pemilu berikutnya bisa meningkat di atas angka tersebut. Kalau meningkat, berarti program seperti ini benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat,” katanya.

Sementara itu, Ketua KPU Kabupaten Kudus Ahmad Amir Faisol menyebut program Pemilihan Ketua OSIS Serentak merupakan terobosan yang diyakini menjadi yang pertama di tingkat kabupaten di Jawa Tengah.

Menurutnya, sejauh yang diketahui KPU Kudus, belum pernah ada penyelenggaraan pemilihan Ketua OSIS secara serentak di seluruh sekolah tingkat SLTA dalam satu kabupaten.

“Program ini bisa terlaksana berkat dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Kudus, termasuk adanya surat edaran yang mendorong seluruh sekolah untuk ikut berpartisipasi,” jelasnya.

Faisol mengatakan, program tersebut memiliki beberapa tujuan utama, yakni meningkatkan indeks demokrasi, mendorong partisipasi masyarakat dalam pemilu, serta mempersiapkan para pelajar yang nantinya menjadi pemilih pemula pada Pemilu 2029 agar lebih memahami proses demokrasi dan teknis penyelenggaraan pemilu.

Selain itu, pihaknya juga menanamkan pendidikan politik yang sehat kepada para siswa, termasuk menekankan pentingnya menolak praktik politik uang.

“Di lingkungan sekolah sejauh ini tidak ada tradisi politik uang. Nilai-nilai tersebut terus kami tekankan agar siswa memahami demokrasi yang jujur dan berintegritas,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, program ini akan diikuti oleh 91 sekolah tingkat SLTA yang terdiri atas SMA, SMK, MA, dan empat SMA Luar Biasa (SMALB) di Kabupaten Kudus.

Pemungutan suara dijadwalkan berlangsung pada 27 September 2026. Namun, sekolah yang memiliki kondisi khusus, seperti siswa SMK yang sedang menjalani praktik kerja lapangan atau magang, diberi keleluasaan melaksanakan pemungutan suara dalam rentang waktu tahapan yang telah ditentukan.

Setelah seluruh proses selesai, para Ketua OSIS terpilih akan dikukuhkan dalam sebuah kegiatan yang rencananya melibatkan Pemerintah Kabupaten Kudus.

Faisol menambahkan, tren partisipasi pemilih muda di Kudus terus mengalami peningkatan dalam beberapa pemilu terakhir. Karena itu, KPU ingin memastikan generasi Z dan milenial tidak bersikap apatis terhadap pelaksanaan pemilu maupun pemilihan kepala daerah di masa mendatang.

“Harapan kami, melalui program ini generasi muda semakin sadar pentingnya demokrasi, memahami proses pemilu, dan nantinya ikut berpartisipasi aktif ketika sudah memiliki hak pilih,” pungkasnya. (AS/YM)