Kudus, isknews.com – Tragedi yang menimpa Jovita (21), warga Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Kudus, yang ditemukan meninggal dumia oleh Tim SAR akibat terjatuh saat mendaki Gunung Natas Angin, mengundang respon serius dari Pemerintah Kabupaten Kudus.
Insiden terjadi pada Selasa (24/6/2025) lalu, saat Jovita bersama dua rekannya, tengah menuruni jalur ekstrem yang dikenal sebagai Jalur Naga.
Ketiganya memulai perjalanan sejak pukul 07.00 WIB dan tiba di Desa Rahtawu pukul 08.00 WIB. Setelah mendaki hingga puncak Natas Angin pada pukul 13.00 WIB, dalam perjalanan turun Jovita terperosok ke jurang dan mengalami luka fatal.
Sebagai bentuk perhatian dan langkah evaluatif, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris dengan membonceng sepeda motor dengan salah seorang awak media meninjau langsung Pos Pendakian Rahtawu pada Minggu (29/6/2025).
Bertemu dengan sejumlah pemuda dan karang Taruna pengelola jalur pendakian baik yang ke Natas Angin maupun yang menuju Puncak 29, bupati memberikan arahan tentang pentingnya pembenahan manajemen pendakian, terutama di jalur-jalur berisiko tinggi.
“Kami hadir ke Rahtawu sebagai bentuk kepedulian, sekaligus memberikan edukasi. Terutama kepada pemerintah desa dan petugas pos pendakian, agar menerapkan sistem pencatatan identitas yang ketat, memeriksa perlengkapan dan bekal pendaki, serta memastikan kesiapan fisik dan usia pendaki sebelum naik,” ujar Bupati.
Ia juga menegaskan bahwa setiap petugas harus memantau manajemen pendakian secara menyeluruh, mulai dari pencatatan identitas, pemeriksaan logistik dan kelayakan bekal, kelengkapan seperti jas hujan, lampu sorot, hingga pengawasan terhadap barang-barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah.
“Pendaki sebaiknya memperhatikan batas usia dan kondisi fisik. Jalur Naga Natas Angin sangat ekstrem dan perlu persiapan khusus serta pendampingan,” kata Sam’ani Intakoris.
Bupati Sam’ani juga mengusulkan adanya penambahan fasilitas pendukung di jalur pendakian, seperti papan peringatan, pos pengawasan, hingga gelang GPS sebagai alat bantu dalam kasus pendaki tersesat untuk mempercepat proses pencarian dan evakuasi oleh tim SAR.
Salah seorang pendaki asal Demak, Nuri Putri (16), mengaku mendapatkan pengarahan yang cukup ketat dari petugas pos pendakian sebelum memulai perjalanan. Ia diingatkan soal pentingnya menjaga kebersihan dan membawa turun kembali sampah dari bekal yang dibawa.
“Saya berangkat pukul 05.00, sampai Pos 6 sekira pukul 08.00,” kata Nuri yang mendaki bersama temannya, Alayna.
Sementara itu, penjaga Pos Pendakian Natas Angin, Stefanus Suryano, menyampaikan bahwa untuk sementara waktu jalur menuju puncak masih ditutup sebagai bentuk belasungkawa atas insiden tersebut.
“Pendaki hanya bisa sampai di Pos 6 atau petilasan Soekarno. Perkiraan pembukaan jalur ke puncak pada 2 Juli 2025, tapi belum tahu pasti. Kalau ada pembaruan, kami informasikan,” jelasnya.
Menurut catatan pos, puluhan pendaki telah terdaftar pada Minggu (29/6/2025), sebagian besar bertujuan mendaki hingga Pos 5 atau petilasan Abiyoso untuk kepentingan spiritual.
“Karena memang ini masih bulan Sura (Muharam), yang mendaki kebanyakan para peziarah,” tambah Stefanus.
Sebagai tindak lanjut, Bupati Sam’ani menyatakan Pemkab akan menggandeng BUMDes dan Karang Taruna desa setempat untuk mengelola jalur pendakian secara profesional, termasuk pelatihan pemandu lokal dan edukasi keselamatan.
“Mari kita rawat alam, kita jaga keselamatan, dan jadikan Gunung Muria sebagai kebanggaan wisata Kudus yang mendukung ekonomi lokal,” pungkasnya. (YM/YM)








