Lewat “Sesat Arah”, Mahasiswa UMK Hidupkan Novel Partikel dalam Tafsir Baru di Atas Panggung

oleh -445 Dilihat
Foto: istimewa

KUDUS, ISKNEWS.com – Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Muria Kudus (UMK) menghadirkan tafsir baru atas novel Partikel karya Dee Lestari melalui pementasan teater bertajuk “Sesat Arah” di Gedung Auditorium UMK, Rabu (8/7/2026) malam. Di bawah arahan sutradara Jessy Segitiga, pertunjukan tersebut tidak sekadar memindahkan cerita novel ke panggung, tetapi menghadirkan interpretasi baru tentang pencarian jati diri, hubungan manusia dengan alam, serta makna kehidupan.

Pementasan mengisahkan perjalanan Zara, seorang perempuan yang harus menghadapi kehilangan sang ayah, Firas. Sosok ayah yang selama ini menjadi sumber pandangan hidupnya itu justru menjadi titik awal perjalanan batin Zara dalam mencari jawaban atas berbagai pertanyaan tentang kehidupan, harapan, dan arti keberadaan manusia.

Cerita berkembang melalui perjalanan Zara menelusuri berbagai tempat, mulai dari desa, kota hingga hutan. Setiap ruang yang dihadirkan di atas panggung justru memperlihatkan bahwa pencarian makna tidak selalu berujung pada jawaban yang pasti. Diselingi dialog ringan dan humor, pertunjukan mampu menjaga perhatian penonton sekaligus mengajak mereka larut dalam kegelisahan tokoh utama.

Menggunakan konsep panggung arena, para pemain tampil dekat dengan penonton sehingga menghadirkan pengalaman pertunjukan yang lebih intim. Tata artistik sederhana dengan dominasi bambu, simbol hutan, dan representasi berbagai makhluk hidup memperkuat pesan mengenai keterkaitan manusia dengan alam.

Sutradara Jessy Segitiga menegaskan bahwa “Sesat Arah” bukanlah adaptasi yang menyalin utuh isi novel Partikel. Menurutnya, pementasan tersebut merupakan ruang kreatif untuk menghadirkan relevansi baru antara karya sastra, dunia pendidikan, realitas sosial, dan pengalaman para pemain yang mayoritas merupakan calon guru.

“Teater bukan sekadar pertunjukan, tetapi cara membaca kehidupan. Sebagaimana partikel, kami ingin menghadirkan ruang penafsiran ulang terhadap berbagai persoalan manusia,” ujarnya.

Jessy menjelaskan, simbol-simbol lingkungan yang ditampilkan sepanjang pertunjukan menjadi bagian penting dari gagasan adaptasi tersebut. Baginya, perjalanan manusia tidak selalu lurus menuju tujuan, melainkan dipenuhi keraguan, kehilangan, hingga kesesatan yang justru memperkaya pengalaman hidup.

“‘Sesat’ bukan berarti gagal menemukan arah. Justru keberanian memasuki wilayah baru itulah yang membuat seseorang menemukan pengalaman dan makna yang lebih dalam,” katanya.

Ia menambahkan, pertunjukan ini juga menjadi media refleksi mengenai pencarian identitas, relasi manusia dengan alam, hingga berbagai pertanyaan hidup yang belum tentu memiliki jawaban tunggal.

Salah seorang pemeran, Suhaibatul Musdalifah, mengaku memperoleh banyak pelajaran selama mengikuti proses latihan hingga pementasan. Sebagai mahasiswa calon guru, ia menilai pengalaman berteater membantunya memahami karakter manusia sekaligus melatih kemampuan berekspresi dan berempati.

“Awalnya saya cukup kaget karena harus memainkan dua karakter sekaligus. Setelah mendalami peran, akhirnya saya menemukan feel-nya. Rasanya sangat menyenangkan bisa berproses bersama teman-teman,” ungkapnya.

Melalui pementasan “Sesat Arah”, Suhaibatul berharap penonton tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga diajak merenungkan pentingnya menjaga hubungan harmonis dengan sesama dan alam. Menurutnya, teater tersebut memang tidak menawarkan jawaban pasti, melainkan mengajak setiap orang menikmati proses pencarian makna dalam perjalanan hidupnya. (AS/YM)