Lima Desa di Wilayah Kecamatan Undaan Kudus Alami Kekeringan

oleh

Kudus, isknews.com – Seperti dipetakan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus, musim kemarau panjang tahun 2019 ini membuat sejumlah wilayah di Kudus mengalami kekeringan yang dalam prediksinya akan mencapai 23 desa yang tersebar di enam Kecamatan.

Wilayah Kecamatan Undaan merupakan salah satu Kecamatan yang terdampak dari kemarau panjang, sejumlah Desa kini telah dilanda kekeringan dan sejumlah warga mengalamu kesulitan memperoleh air, baik untuk kebutuhan sehari-hari maupun untuk pertanian mereka.

Ditemui di lokasi puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (harganas) yang di gelar di Desa Terangmas, Camat Undaan Rifa’i mengakui bahwa di wilayahnya kini tercatat sudah 5 Desa mengalami kekeringan akibat kemarau panjang.

“Desa itu meliputi, Kutuk, Glagahwaru, Terangmas, Kalirejo, dan Lambangan, warga dan petani di wilayah itu memang mulai kesulitan memperoleh sumber air, baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk pertanian,” ujarnya, Selasa (17/07/2019).

TRENDING :  Bupati : Sudah Ada Semangat Gusjigang dari Warga Pada Even Tradisi Budaya di Kudus
Camat Undaan Kudus, Rifa’i SH (Foto: YM)

Rifa’i menjelaskan untuk mengantisipasi hal tersebut pihaknya meminta warga untuk lebih mengoptimalkan persedianan air yang ada di cekungan-cekungan serta meminta bantuan PDAM untuk membantu menyediakan pasokan air bersih.

“Kami sudah bicarakan ini dengan direktur PDAM Kudus, yang menurutnya tahun ini PDAM sedang menganggarkan untuk membuat tempat penampungan air baku di wilayah Desa Wonosoco dan Undaan Kiduk” jelas dia.

Menurut Rifa’i puncak kemarau diperkirakan akan terjadi pada akhir bulan Juli ini hingga Agustus nanti.

“Kami sudah instruksikan kepada jajaran kami hingga ke Kepala Desa untuk terus mengupayakan optimalisasi cadangan permukaan air dengan menjaga cadangan air tanah, ” ungkapnya.

TRENDING :  Peringati Malam Nuzulul Quran Bupati Bagikan Santunan Bagi Penyandang Cacat dan Yatim Piatu

Selain usaha sistemik itu, antisipasi kekeringan juga melibatkan masyarakat, dengan meningkatkan kesadaran mereka terhadap kelestarian lingkungan sekitar, katanya.

“Penghijauan di daerah setempat tetap harus diperhatikan, karena semakin banyak pohon yang tumbuh di daerah kering dapat menciptakan sumber air,” tandasnya.

Sementara itu, untuk mendapatkan air bersih, beberapa warga di Undaan yang sedang dilanda kekeringan dalam upayanya mendapatkan air untuk kebutuhan mandi dan mencuci dengan cara membuat empang di pekarangan yang digunakan untuk menampung air hujan sebagai persediaan saat musim kemarau.

Selain itu, ada yang berupaya membuat sumur darurat. Baik untuk mengairi sawah maupun mencukupi kebutuhan air bersih bagi keluarganya. Sumur darurat itu biasa disebut sumur gowak.

TRENDING :  DPC Kamisetebang Kudus Serahkan Bantuan Untuk Pengungsi Di Jati Wetan Dan Payaman

Seperti disampaikan oleh Sundono (55) warga Desa Glagahwaru, RT 5 RW 3, Kecamatan Undaan, Kudus. Ahli bikin sumur gowak ini mengaku telah mendapatkan order sekitar 25 sumur darurat yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan air di wilayah Undaan.

“Selama musim kemarau ini saya sudah mengerjakan pembuatan sumur gowak sekitar  25 sumur sejak bulan Juni kemarin di wilayah Kecamatan Undaan,” kata Sundon ditemui di rumahnya, Senin (15/07/2019).

Menurutnya tahun ini diperkirakan order pembuatan sumur gowak jauh lebih banyak dari tahun lalu.

“Bayangkan baru pertengahan Juli ini saja saya sudah dapat order hingga 25 sumur, sementara puncaknya kemarau baru nanti di bulan Agustus,” kata dia. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :