Hujan Ekstrem Mengancam, BMKG Kerahkan Pesawat Modifikasi Cuaca

oleh -286 Dilihat
Foto: BMKG

Kudus, isknewscom – Ancaman hujan ekstrem yang berpotensi memicu banjir dan longsor mendorong Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan pesawat untuk melakukan operasi modifikasi cuaca di wilayah Jawa Tengah. Langkah ini diambil sebagai upaya mitigasi bencana hidrometeorologi yang kian meningkat di puncak musim hujan.

Operasi modifikasi cuaca tersebut dijadwalkan berlangsung selama lima hari, mulai 15 hingga 19 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan menekan intensitas hujan ekstrem agar tidak jatuh di wilayah daratan yang padat penduduk.

Dalam pelaksanaannya, BMKG menggunakan pesawat khusus yang menyebarkan bahan higroskopis berupa garam di atas permukaan laut. Bahan tersebut berfungsi mempercepat proses kondensasi uap air sehingga hujan turun lebih awal di lautan dan tidak bergerak menuju wilayah daratan.

Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah, Goeroeh Tjiptanto, menjelaskan bahwa modifikasi cuaca dilakukan untuk mengendalikan pergerakan awan hujan agar tidak masuk ke kawasan permukiman. Dengan cara ini, potensi banjir dan longsor akibat hujan ekstrem di daratan dapat diminimalkan.

“Titik utama operasi berada di wilayah utara Pulau Jawa. Kita upayakan agar hujan jatuh di lautan, bukan di daratan. Kalau hujan turun di laut, masih bisa kita antisipasi dengan memberikan peringatan dini kepada nelayan,” ujar Goeroeh saat ditemui di Kabupaten Kudus, Jumat (16/1/2026).

Ia menambahkan, durasi operasi modifikasi cuaca bersifat fleksibel dan dapat diperpanjang menyesuaikan kondisi atmosfer. Evaluasi cuaca dilakukan secara berkala setiap tiga hari untuk melihat efektivitas operasi tersebut.

“Setiap tiga hari kita lakukan evaluasi dan pemutakhiran data. Rencana awal memang 15 sampai 19 Januari 2026, tapi bisa saja lebih singkat atau justru diperpanjang, tergantung perkembangan cuaca,” terangnya.

Menurut Goeroeh, hasil pantauan pada hari kedua pelaksanaan menunjukkan adanya penurunan intensitas hujan ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Tengah. Ia berharap, upaya ini mampu menekan dampak bencana yang saat ini masih terjadi.

“Januari memang puncak musim hujan. Curah hujan cukup tinggi dan prediksi kami kondisi ini berlangsung sepanjang Januari 2026,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca merupakan langkah jangka pendek untuk mengurangi curah hujan di wilayah rawan bencana. Di beberapa daerah lain, seperti Sumatera, operasi serupa bahkan melibatkan banyak armada pesawat dalam jangka waktu panjang.

“Untuk Jawa Tengah, atas arahan BMKG, sementara ini kita kerahkan satu pesawat yang terus melakukan operasi modifikasi cuaca. Harapannya, meskipun cuaca mendung, hujan yang turun tidak berintensitas lebat,” ujarnya.

Sebagai informasi, cuaca ekstrem telah menyebabkan banjir di sekitar 38 desa di Kabupaten Kudus. Tercatat sekitar 47 ribu warga terdampak, dengan 1.800 orang di antaranya terpaksa mengungsi di sejumlah posko pengungsian. Pemerintah berharap operasi modifikasi cuaca ini dapat membantu mempercepat penanganan sekaligus mencegah meluasnya dampak bencana di wilayah terdampak. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.