Kudus, isknews.com – Kirab Bwee Gee di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Hok Hien Bio Kudus, Minggu (1/2/2026), tidak sekadar menjadi agenda ritual tahunan, tetapi juga menjelma sebagai ajang temu dan silaturahmi klenteng dari berbagai kota dan provinsi di Indonesia. Rombongan peserta datang dari beragam daerah, menandai luasnya jejaring kebersamaan komunitas Tionghoa yang terbangun melalui tradisi ini.
Peserta kirab tercatat berasal dari Jakarta, Bogor, Gresik, Surabaya, Semarang, Bekasi, Tangerang, Karawang, Rembang, Demak, Blora, Malang, hingga Gombong. Kehadiran mereka memperlihatkan bahwa perayaan Bwee Gee di Kudus telah dikenal luas dan menjadi momentum kebersamaan lintas daerah.
Penasehat Klenteng Hok Hien Bio Kudus, Liong Kuo Tjun, menyampaikan bahwa antusiasme peserta dari luar kota menjadi warna tersendiri dalam kirab tahun ini. Menurutnya, banyaknya rombongan yang hadir menunjukkan kuatnya hubungan antarklenteng yang terjalin melalui kegiatan keagamaan dan budaya tersebut.
Pada kategori Jutbio, sejumlah klenteng yang berpartisipasi di antaranya Hok Hien Bio dan Hok Ling Bio Kudus, Tay Seng Bio Jakarta, Han Tan Kong Cileungsi Bogor, Hong San Kiong Gudo, Sam Poo Sing Bio Surabaya, Zhong Yi Tang Jakarta Barat, Xing Guang Tang dan Xuan Wu Yang Gresik, Joe Hwie Kiong Rembang, Joe Tjie Kiong Karawang, Ling Hok Bio Semarang, Tjie Thian Tay Sheng Bio Tangerang, Hai Thian Shi dan Cetya Han Tan Kong Bekasi, Poo An Bio Demak, Tjeng Gie Bio Ulujami, Hok Tek Bio Blora, Lam Hay Tong serta Xi Guang Tan Semarang, hingga Eng An Kiong Malang.
Sementara itu, dalam kategori Jhe Ui, peserta kirab berasal dari Giok Hay Bio Jakarta Utara, Hien Im Kiong Bogor, Tay Zi Kiong Malang, Lian Hua She Semarang, Kwan Im Kiong dan Teng San Kiong Bekasi, Kwan Sing Bio serta Cetya Bakti Suci Semarang, Guang Sheng Tang Gombong, serta Hok Siu Kwan Semarang.
Kirab menempuh rute sekitar lima kilometer dengan titik awal dan akhir di Hok Hien Bio Kudus. Rombongan melintasi Jalan Ahmad Yani, Jalan Pemuda, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Tanjung, Jalan Sunan Kudus, Jalan Mangga, hingga kawasan Alun-alun Simpang 7 di depan Pendopo Kabupaten Kudus dan Masjid Agung Kudus.
Liong Kuo Tjun menjelaskan, Bwee Gee merupakan wujud ungkapan syukur kepada Dewa Bumi yang diyakini memberi perlindungan dan keberkahan. Harapan tersebut turut dipanjatkan untuk perjalanan tahun 2025 agar senantiasa diberi keselamatan dan kesejahteraan.
Selain menjadi ritual keagamaan, kirab ini juga memperkuat hubungan sosial antarwarga dan komunitas Tionghoa di Kudus. Tradisi tersebut diharapkan terus lestari dan menjadi bagian dari warna kebudayaan di Kota Kretek yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Perayaan Bwee Gee berlangsung selama dua hari, mulai 31 Januari hingga 1 Februari 2026. Hari pertama diisi dengan rangkaian ritual, sedangkan puncaknya terjadi pada Minggu pagi saat kirab mengelilingi kota dan disaksikan warga di sepanjang jalur yang dilalui. (AS/YM)







