Kartini Masa Kini, Perempuan Kudus Didorong Aktif Berkebaya dan Berdaya

oleh -17 Dilihat
Foto: Dok. Diskominfo Kudus

Kudus, isknews.com – Semangat Kartini masa kini tercermin dari ajakan kepada perempuan di Kabupaten Kudus untuk tampil aktif, berdaya, sekaligus tetap menjaga budaya melalui kebiasaan berkebaya. Hal ini mengemuka dalam peringatan Hari Kartini yang digelar meriah di halaman Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (21/4/2026).

Istri Bupati Kudus yang juga Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus, Endhah Sam’ani Intakoris, menegaskan pentingnya peran perempuan, khususnya generasi muda, dalam melestarikan kebaya sebagai bagian dari identitas budaya.

Dalam sambutannya, ia secara khusus mendorong penggunaan kebaya kutu baru dalam berbagai kegiatan resmi, termasuk saat upacara Hari Kartini. Menurutnya, kebaya bukan hanya sekadar busana, tetapi juga simbol kecintaan terhadap warisan budaya Jawa.

Endhah menjelaskan, gerakan perempuan berkebaya terus digalakkan melalui komunitas Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI). Kegiatan ini rutin dilakukan setiap bulan guna membiasakan perempuan mengenakan busana tradisional dalam keseharian.

Ia berharap kebiasaan tersebut tidak hanya berhenti di kalangan komunitas, tetapi juga bisa menular kepada generasi muda. Pasalnya, keberlangsungan budaya sangat bergantung pada keterlibatan anak-anak muda.

Selain kampanye pelestarian budaya, peringatan Hari Kartini di Kudus juga diisi dengan berbagai kegiatan pendukung. Di antaranya layanan cek kesehatan gratis serta pameran produk UMKM binaan Dekranasda yang digelar di sekitar pendapa.

Menurut Endhah, kehadiran UMKM dalam kegiatan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha kecil memasarkan produknya secara lebih luas kepada masyarakat.

Lebih jauh, ia menilai gerakan berkebaya juga memiliki dampak ekonomi yang positif. Dengan meningkatnya penggunaan kebaya, maka peluang usaha bagi penjahit lokal maupun pedagang kain ikut berkembang.

Ke depan, Endhah mendorong agar budaya berkebaya bisa diterapkan lebih luas, termasuk di lingkungan sekolah. Ia bahkan membuka kemungkinan adanya kebijakan penggunaan kebaya secara berkala bagi pelajar.

Dengan upaya tersebut, ia berharap perempuan Kudus tidak hanya tampil anggun melalui kebaya, tetapi juga semakin percaya diri, berdaya, dan mampu menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :