Kudus, isknews.com – Ketahanan sebuah daerah tak hanya dibangun lewat infrastruktur, tetapi juga melalui kesiapsiagaan masyarakat sejak dini.
Inilah yang menjadi semangat utama Pengurus Cabang Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (PC LPBI NU) Kudus dalam menggelar pelatihan khusus bagi para relawan pendidikan dan kebencanaan.
Lewat kegiatan Training of Trainer (ToT) Program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) bertema “Membangun Ketangguhan dan Keselamatan di Sekolah”, LPBI NU Kudus mendorong penguatan budaya sadar bencana di lingkungan sekolah.
Pelatihan berlangsung selama dua hari, 10–11 Juli 2025, di SMK Assa’idiyyah 2 Kudus.
Kegiatan ini diikuti oleh peserta dari unsur Banom NU dan relawan kebencanaan yang memiliki komitmen terhadap upaya pengurangan risiko bencana berbasis komunitas pendidikan.
Ketua PC LPBI NU Kudus, Suqron Hariyanto, dalam pembukaan acara menyebut bahwa pendidikan tangguh bencana adalah kunci menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga siap menghadapi ancaman alam.
“Pelatihan ini adalah langkah awal untuk melahirkan fasilitator SPAB yang akan menyebarkan pemahaman sadar bencana ke sekolah-sekolah. Ini adalah gerakan moral, kolaboratif, dan berkelanjutan,” tegas Suqron.
Dukungan juga datang dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus. Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, Sri Wahyuni, mengapresiasi inisiatif LPBI NU dan menyebut sekolah sebagai simpul penting dalam membentuk kesadaran risiko bencana sejak dini.
“Sekolah adalah ruang strategis untuk menanamkan budaya tangguh. Upaya ini harus melibatkan semua pihak—pemerintah, masyarakat, dan organisasi keagamaan seperti NU,” ujarnya.
Selama dua hari pelatihan, peserta dibekali materi penting seperti pemetaan risiko bencana, penyusunan rencana kontinjensi sekolah, manajemen tanggap darurat, hingga praktik simulasi evakuasi. Materi disampaikan oleh fasilitator dari LPBI NU Pusat dan Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB) Jawa Tengah.
Sebagai tindak lanjut, LPBI NU Kudus akan melakukan audiensi dengan dinas-dinas terkait untuk mendorong integrasi program SPAB ke dalam sistem pendidikan formal di Kabupaten Kudus.
Langkah ini tidak hanya membangun kesiapan menghadapi bencana, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab kolektif dan budaya gotong royong sebagai landasan transformasi pendidikan.
“Kami ingin sekolah-sekolah di Kudus tak hanya jadi tempat belajar, tapi juga ruang aman dan tangguh untuk menghadapi bencana,” tutup Suqron. (YM/YM)







