Kudus, isknews.com – Di tengah tantangan zaman yang kian kompleks, Ma’had Riyadhul Qur’an Kudus hadir sebagai lembaga pendidikan yang berkomitmen mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang berakidah lurus, berakhlak mulia, serta memiliki jiwa kepemimpinan dan kemandirian.
Pimpinan pondok, Musyafa’, menjelaskan bahwa cikal bakal lingkungan pendidikan tersebut diawali dengan berdirinya masjid pada tahun 2015 yang mulai difungsikan pada 2016. Seiring berjalannya waktu, muncul gagasan untuk mendirikan pondok tahfizh yang lebih terstruktur.
“Alhamdulillah, pada 9 Februari 2021 atau 27 Jumadil Akhir 1442 Hijriah, kami resmi mendirikan Ma’had Riyadhul Qur’an sebagai pondok tahfizh untuk masyarakat yang ingin menghafalkan Al-Qur’an,” ujar Musyafa’.
Ia menuturkan, nama Riyadhul Qur’an memiliki makna “taman-taman Al-Qur’an”, yang menggambarkan harapan agar pondok ini menjadi tempat tumbuhnya generasi pecinta Al-Qur’an. Sejak berdiri pada 2021, jumlah santri terus mengalami peningkatan.
“Saat ini total santri sekitar 180 anak, putra dan putri. Untuk putra sekitar 90 lebih, sedangkan putri hampir 90,” jelasnya.
Berlokasi di Desa Bae, Kudus, dengan luas lahan kurang lebih tiga hektare, lingkungan pondok masih didominasi area terbuka dan persawahan. Suasana yang asri dan tenang dinilai sangat mendukung proses belajar dan menghafal Al-Qur’an.
Musyafa’ menyebutkan, terdapat lima fokus utama pendidikan di ma’had tersebut. Pertama tahfizh Al-Qur’an, kedua pembinaan akhlak, ketiga penguatan akidah Ahlussunnah wal Jama’ah, keempat kepemimpinan, dan kelima kewirausahaan.
“Lima fokus ini yang sedang terus kami ramu dan kuatkan. Fokus utamanya tetap tahfizh, tapi kami ingin santri juga punya karakter kuat dan bekal keterampilan,” terangnya.
Jenjang pendidikan di pondok mencakup tingkat SMP dan SMA dengan sistem terpadu antara program tahfizh dan sekolah formal berbasis PKBM. Para santri mengikuti pendidikan akademik sekaligus pembelajaran diniyah dalam satu paket.
Santri yang belajar di Ma’had Riyadhul Qur’an tidak hanya berasal dari Kudus dan sekitarnya seperti Jepara, Pati, dan Demak, tetapi juga dari luar Jawa, seperti Kalimantan, Sulawesi, Lampung, hingga Bekasi.
Dalam bidang tahfizh, pondok menargetkan hafalan 30 juz dalam waktu enam tahun. Namun, menurut Musyafa’, tidak sedikit santri yang mampu menyelesaikan hafalan sebelum masa tersebut.
Kegiatan harian santri dimulai sejak dini hari. Mereka dibangunkan sekitar pukul 03.30 WIB untuk melaksanakan tahajud, dilanjutkan salat Subuh berjamaah dan halaqah Al-Qur’an. Aktivitas berlanjut dengan kerja bakti membersihkan lingkungan pondok, sarapan, hingga kegiatan sekolah dan tahfizh.
Menariknya, pondok ini tidak mempekerjakan petugas kebersihan. Seluruh kebersihan area ditangani langsung oleh para santri sebagai bagian dari pendidikan karakter.
“Kami sengaja tidak mengambil tenaga kebersihan. Semua ditangani santri agar mereka terbiasa mandiri dan bertanggung jawab. Ini juga bagian dari pembentukan kepemimpinan,” ungkapnya.
Pada sore hari, santri mengikuti latihan pidato dan ceramah secara bergiliran, kemudian kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, komputer, hingga bela diri. Malam harinya diisi dengan halaqah Al-Qur’an, belajar mandiri, dan persiapan hafalan untuk esok hari.
Untuk penguatan kewirausahaan, pihak pondok tengah merancang program yang lebih terarah, termasuk rencana tahun pengabdian setelah lulus SMA. Beberapa bidang yang mulai diperkenalkan antara lain komputer, desain, penulisan konten, pertanian, dan peternakan.
“Harapan kami, santri tidak hanya menjadi hafizh yang saleh, tetapi juga mampu berkontribusi di masyarakat dengan jiwa wirausaha dan kepemimpinan Islami,” tuturnya.
Dengan manajemen yang terus dikembangkan, Ma’had Riyadhul Qur’an berupaya menjadi lembaga pendidikan yang menanamkan keimanan kokoh, akhlak mulia, serta melahirkan generasi Qur’ani yang siap menjadi pemimpin umat di masa depan. (AS/YM)







