Maknai HUT Ke-81 RI, KKN 65 UIN Sunan Kudus Gelar Edukasi Self Love dan SWOT Personal

oleh -310 Dilihat
Foto: ist

KUDUS, ISKNEWS.COM – Menyambut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Kelompok 65 Kuliah Kerja Nyata (KKN) UIN Sunan Kudus mengajak siswa mengenali potensi dan memahami dirinya melalui edukasi Self Love dan Analisis SWOT Personal. Kegiatan tersebut berlangsung di MTs Sains Tahfidz Darul Barokah Al Quds, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Kudus, Kamis (13/8/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB itu diikuti para siswa MTs Sains Tahfidz Darul Barokah Al Quds. Edukasi tersebut menjadi sarana bagi peserta untuk memahami pentingnya menerima diri, mengenali kemampuan, serta mengembangkan potensi yang dimiliki di tengah perubahan sosial, teknologi, informasi, dan budaya.

Melalui materi Self Love dan Analisis SWOT Personal, mahasiswa KKN 65 mengajak siswa memahami bahwa mencintai diri sendiri bukan hanya tentang menerima kelebihan dan kekurangan. Lebih dari itu, self love juga berkaitan dengan kemampuan mengenali potensi, memperbaiki kelemahan, memanfaatkan peluang, serta menghadapi tantangan yang dapat menghambat perkembangan diri.

Kegiatan tersebut sekaligus dikaitkan dengan momentum HUT ke-81 RI. Jika kemerdekaan bangsa dahulu diperjuangkan untuk membebaskan Indonesia dari penjajahan, generasi muda saat ini menghadapi tantangan dalam bentuk berbeda. Di antaranya tekanan sosial, krisis identitas, ketergantungan terhadap penilaian orang lain, serta pengaruh ideologi dan budaya di era digital.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKN UIN Sunan Kudus di Desa Terban, Dr. H. Nur Said, S.Ag., M.A., M.Ag., mengajak para siswa menjadikan momentum kemerdekaan sebagai bahan refleksi terhadap kondisi diri.

“Sudahkah Anda memiliki kemerdekaan personal?” ujarnya.

Menurut Nur Said, kemerdekaan personal merupakan bagian dari makna kemerdekaan yang perlu dipahami generasi muda. Kemerdekaan tidak dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas, melainkan kemampuan mengendalikan diri, menentukan pilihan secara sadar, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan.

“Kemerdekaan sejati adalah kemerdekaan dari hawa nafsu dan kemerdekaan untuk berlomba dalam kebaikan atau fastabiqul khairat. Merdeka bukan berarti bebas tanpa arah, tetapi mampu menggunakan kebebasan untuk memilih dan memperjuangkan kebaikan,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan siswa agar memiliki sikap kritis terhadap berbagai bentuk penjajahan baru yang dapat muncul melalui ideologi, gaya hidup maupun budaya.

“Kita juga perlu merdeka dari berbagai bentuk penjajahan ideologi dan budaya yang tidak selaras dengan nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini menjadi bagian dari upaya menjaga jati diri, sekaligus wujud mencintai diri dan mencintai bangsa,” jelasnya.

Kenalkan Konsep Self Love

Materi Self Love disampaikan oleh Ummi Salamah. Dalam sesi tersebut, siswa diajak memahami bahwa mencintai diri sendiri tidak berarti bersikap egois atau menganggap diri selalu benar.

Sebaliknya, self love merupakan proses mengenali dan menghargai diri secara utuh, termasuk menerima kekurangan sekaligus memiliki kemauan untuk terus berkembang.

Para siswa juga didorong agar tidak menjadikan orang lain sebagai standar untuk menilai dirinya. Setiap individu memiliki kemampuan, karakter, bakat, serta kapasitas yang berbeda.

“Jangan pernah membandingkan diri sendiri, karena setiap individu memiliki kemampuan dengan kapasitasnya masing-masing. Orang lain belum tentu bisa menjadi dirimu, dan dirimu pun belum tentu bisa menjadi orang lain. Sebab, setiap apa pun sudah ada takarannya; apa yang sudah tertakar tidak akan pernah tertukar,” ujar Ummi Salamah.

Menurutnya, pemahaman terhadap diri sendiri dapat membantu seseorang membangun kepercayaan diri, menentukan tujuan hidup, mengembangkan potensi, hingga mempersiapkan pilihan pendidikan dan karier.

Nur Said menambahkan, self love perlu diarahkan menjadi energi untuk bertumbuh dan memberikan manfaat.

“Mencintai diri bukan berarti sekadar menerima diri apa adanya. Mencintai diri berarti berani membebaskan diri dari segala sesuatu yang menghambat pertumbuhan, mengembangkan potensi, dan memilih jalan kebaikan,” jelasnya.

Siswa Diajak Analisis Potensi Diri

Setelah materi Self Love, kegiatan dilanjutkan dengan Analisis SWOT Personal yang disampaikan Ahmad Faizal Fajar.

Ia mengenalkan empat unsur SWOT, yakni Strengths atau kekuatan, Weaknesses atau kelemahan, Opportunities atau peluang, serta Threats atau ancaman.

Melalui metode tersebut, siswa diajak memetakan kondisi dirinya secara lebih objektif. Mereka diminta mengenali berbagai kekuatan yang dimiliki, mulai dari bakat, kemampuan, minat hingga keunggulan personal.

Selain itu, siswa juga diarahkan untuk mengidentifikasi kelemahan yang berpotensi menghambat pencapaian tujuan. Kelemahan tersebut kemudian dapat dijadikan bahan evaluasi dan diperbaiki secara bertahap.

Tidak hanya faktor internal, peserta juga diajak melihat kondisi di luar dirinya. Berbagai peluang yang tersedia di lingkungan dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan keterampilan, sedangkan ancaman perlu dikenali agar dapat diantisipasi.

Dalam sesi refleksi, siswa menjawab sejumlah pertanyaan mengenai kelebihan dan bakat yang dimiliki, kebiasaan yang perlu diperbaiki, peluang pengembangan keterampilan, hingga berbagai hambatan yang sedang dihadapi.

Madrasah Sambut Positif

Kepala MTs Sains Tahfidz Darul Barokah Al Quds, Suharyani, S.Ag., menyambut positif kegiatan yang diberikan mahasiswa KKN 65 UIN Sunan Kudus tersebut.

Ia mengatakan, madrasah hingga saat ini belum memiliki guru Bimbingan dan Konseling (BK). Karena itu, kegiatan yang dibawa mahasiswa KKN dinilai memberikan tambahan wawasan bagi siswa mengenai pendampingan dan pengembangan diri.

“Di MTs ini belum ada guru BK. Dengan adanya KKN ini, kami mendapatkan ajaran dan wawasan terkait bimbingan konseling yang dapat diberikan kepada anak-anak,” ujarnya.

Menurutnya, pemahaman mengenai bimbingan konseling penting bagi siswa karena mereka membutuhkan pendampingan untuk mengenali diri, mengembangkan potensi, sekaligus menghadapi berbagai persoalan selama proses pendidikan.

Bagi KKN 65 UIN Sunan Kudus, edukasi tersebut tidak hanya berfokus pada pemahaman self love. Kegiatan juga diarahkan untuk membangun generasi muda yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri, nilai, dan tanggung jawab sosial.

Kemerdekaan personal dalam konteks tersebut dimaknai sebagai kemampuan untuk mengenali diri, mengendalikan hawa nafsu, menentukan arah hidup, mengembangkan potensi, menjaga jati diri, serta menggunakan kebebasan untuk berlomba dalam kebaikan.

Semangat tersebut dirangkum KKN 65 melalui pesan “Let’s Be Your Best Version!”. Menjadi versi terbaik bukan berarti harus menjadi seperti orang lain, melainkan menemukan potensi terbaik dalam diri, mengembangkannya secara bertanggung jawab, dan mengarahkannya untuk memberikan manfaat bagi lingkungan.

Menjelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, pesan tersebut menjadi ajakan bagi generasi muda untuk tidak hanya memaknai kemerdekaan sebagai kebebasan bangsa, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun dan memerdekakan diri.

Sebab, mencintai diri menjadi langkah awal untuk mengenali potensi, mengembangkan kemampuan, dan pada akhirnya memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat serta bangsa. (AS/YM)