Jepara, ISKNEWS.COM – Curah hujan yang semakin berkurang membuat petani garam di Kecamatan Kedung, Jepara mulai menyiapkan lahan untuk produksi. Minggu ini harapannya, lahan sudah siap sehingga segera bisa dipergunakan untuk produksi. Hal ini seperti yang dilakukan oleh Suyatno, petani garam di Desa Bulak Baru Kecamatan Kedung, Senin (28-5-2018) yang merayakan tanah sebagai dasaran produksi garam.
Yatno yang menggarap lima petak sawah ini sebenarnya sudah mulai produksi beberapa waktu lalu, hanya saja karena masih beberapa kali turun hujan membuat produksi tidak maksimal. “Awal puasa lalu sebenarnya sudah sempat produksi dan sudah jadi tiga tombong. Karena hujan masih turun sehingga tidak maksimsl dan ini mengawali lagi untuk membuat garam. Tiga hari panas. Seminggu lagi sudah jadi,” katanya, Senin (28-5-2018).
Lebih lanjut Suyatno mengaku saat ini harga haram masih berkisar Rp.180 ribu per tombong. Hal ini lantaran stok garam belum banyak. Stok yang ada merupakan timbunan panen tahun lalu. Dirinya memperkirakan puncak panen garam akan terjadi pada Agustus mendatang. “Puncaknya nanti Agustus, dan saat itu harganya tentu turun karena stoknya banyak. Tetapi, kami berharap harganya tetap diatasi seratus ribu per tombong ya,” harapnya.
Suyatno memprediksi, tahun ini produksi garam akan jauh lebih banyak dibandingkan dengan tahun lalu. Hal ini, menurutnya, lantaran musim kemarau tahun ini akan lebih panjang, sehingga petani memiliki waktu yang cukup untuk memproduksi garam. “Tahun ini perkiraannya akan lebih banyak garamnya, karena kemaraunya panjang,” jelasnya.
Seperti diketahui, harga garam di Jepara tahun lalu menembus angka tersebut dalam sejarah. Tahun 2017, harga garam kwalitas satu mencapai harga Rp.2.300/kg. Harga garam saat itu, jauh melebihi harga garam tertinggi yang sempat terjadi yakni berkisar Rp.700/kg nya. Tahun ini, petani garam di Jepara berharap harga garam tetap tinggi sehingga perekonomiannya terkerek. (ZA/WH)







