Mbah Gamong, Si Tokoh Cikal Bakal Pasar Kliwon dan Desa Gamong

oleh -685 Dilihat
Foto: Makam Mbah Gamong di Pasar Kliwon Kudus, Rabu (25-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Gamong adalah nama sebuah Desa kecil di sebelah barat Kota Kudus. Desa yang dikenal dengan cita rasa kopi gamong yang khas ini, ternyata menyimpan sebuah kisah yang menarik.

Kisah itu, tercipta dari perjalanan hidup Mbah Gamong yang merupakan tokoh cikal bakal Desa Gamong. Menurut cerita masyarakat, Mbah Gamong bukanlah orang asli Kota Kudus, melainkan pendatang yang berasal dari Kota Cirebon. Dengan nama asli Satiran, ia merupakan salah satu murid Sunan Gunung Jati yang memiliki kehebatan dibidang bela diri.

Suatu ketika di tahun 1650 M, Sunan Gunung Jati mengutusnya ke Demak untuk suatu kepentingan. Setelah menyelesaikan tugasnya di Kota Wali, Mbah Satiran diutus oleh Raden Ngabei Demak untuk pergi ke sebuah daerah di Kabupaten Kudus yang bernama Kliwon.

Konon, di daerah itu banyak di temukan begal dan preman yang meresahkan masyarakat. Dengan mengemban amanat tersebut, Mbah Satiran pergi ke daerah Kliwon. Benar saja, sesampainya di sana, ia dihadapkan dengan ulah para preman dan begal dari daerah tersebut.

Foto: Bagian dalam makam Mbah Gamong, di Pasar Kliwon Kudus, Rabu (25-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Dengan kehebatan ilmu bela diri yang dimiliki, Mbah Satiran berhasil menaklukan begal dan preman yang ada di Kliwon. Tak hanya menaklukan preman dan begal tersebut, Mbah Satiran juga berhasil mengislamkan masyarakat di Kliwon. Kerja keras Mbah Satiran dalam menaklukan dan mengislamkan masyarakat Kliwon diapresiasi dengan pemberian gelar Raden Ngabei Tunggul Ulung.

“Setelah menyelesaikan tugasnya, Mbah Satiran bersemedi. Dalam pertapaanya tersebut, ia mendapatkan sebuah wangsit untuk berjalan ke barat dan mendapatkan tugas untuk membuka lahan di sana,” kata Hendro Hadi Saputro, Rabu (25-04-2018).

Wangsit tersebut dilaksanakan oleh Mbah Satiran, dengan berjalan menuju sebuah daerah di sebelah barat Kota Kudus. Bersama kedua istrinya, Nyi Mintarsih (berasal dari Demak -red) dan Nyi Sedah Trembayung (berasal dari Kudus -red), Mbah Satiran melakukan babat alas di daerah tersebut.

Kehidupan keluarga kecil itu begitu bahagia. Mbah Satiran sebagai kepala keluarga dikenal sebagai sosok yang penyayang pada kedua istrinya. Rasa kasih sayang Mbah Satiran ditunjukan dengan selalu membimbing dan menjaga kedua istrinya dengan baik.

“Dari karakter Mbah Satiran yang penyayang tersebut, masyarakat menjulukinya dengan nama Mbah Gaong. Nama gamong diambil dari bahasa jawa ‘Ngemong’ yang bermakna membimbing. Dari kata ngemong tersebut munculah istilah Gamong,” ungkap Hendro.

Sebagai ucapan terimakasih masyarakat atas jasa-jasa Mbah Satiran atau Mbah Gamong, namanya diabadikan sebagai nama daerah tersebut, yang kini dikenal dengan nama Desa Gamong. Di masa senjanya, Mbah Gamong dan kedua istrinya memutuskan untuk kembali ke daerah Kliwon dan menghabiskan masa tuanya di sana.

Foto: Gapura selamat datang Desa Gamong, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus, Rabu (25-04-2018). (Nila Niswatul Chusna/ISKNEWS.COM)

Kini, makam Mbah Gamong terdapat di dekat pintu masuk Blok A dan D di Pasar kliwon Kudus. Bersama seorang temannya yang tidak diketahui namanya, Mbah Gamong disemayamkan di bawah sebuah pohon beringin besar.

“Saya akui di Desa Gamong, memang tidak ditemukan makam atau petilasan dari Mbah Gamong. Untuk makamnya, sebenarnya ada dua yakni di Pasar Kliwon Kudus dan Pasar Johar Semarang,” ucapnya. Meskipun demikian, masyarakat Desa Gamong tetap meyakini dan menghargai jasa Mbah Gamong pada Desanya dengan selalu menyebutkan namanya dalam setiap doa yang dilafalkan.

Pada kesempatan tersebut, Hendro juga menyebutkan ada versi lain tentang asal Mbah Gamong. Dalam versi tersebut diceritakan jika nama asli dari Mbah Gamong adalah Noro Suma yang merupakan santri Sunan Kudus.

“Namanya orang zaman dahulu memiliki banyak nama atau julukan, sehingga saya tidak heran dengan hal semacam ini. Terlepas dari siapapun nama asli dan asal Mbah Gamong, kami masyarakat Desa Gamong tetap mengenalnya sebagai tokoh penting bagi perjalanan Desa ini,” pungkasnya. (NNC/WH)

No More Posts Available.

No more pages to load.