Menimbang Arah Pembelajaran di Festival Teater Pelajar Kudus

oleh -168 Dilihat

Oleh: Nur Choiruddin
Pekerja teater di MNC Media Group

Festival Teater Pelajar (FTP) Kudus selalu punya magnet tersendiri. Setiap tahun, ratusan siswa menanti ajang ini sebagai panggung ekspresi seni.

Menariknya, format festival ini juga terus berkembang.

Ada masa ketika peserta bebas memilih naskah—bahkan menulis cerita mereka sendiri. Namun, pada gelaran 2024, panitia mengambil langkah baru: semua peserta hanya boleh memilih dari lima naskah bertema surealisme.

Lima naskah itu antara lain Wabah (Hanin Dawan), Kapai-Kapai (Arifin C. Noer), Liang Langit (Asa Jatmiko), Badai Sepanjang Malam (Max Arifin), dan Arwah-Arwah (W. B. Yeats, terjemahan Suyatna Anirun).

Keputusan ini menimbulkan perdebatan hangat: lebih mendidik mana, naskah yang ditentukan panitia atau kebebasan memilih naskah sendiri?

Ketika naskah ditentukan, ada keuntungan besar. Semua kelompok berangkat dari titik yang sama, sehingga pembeda ada pada tafsir, gaya penyutradaraan, dan kreativitas di panggung. Siswa dilatih lebih teliti membaca teks, menggali makna tersembunyi, sekaligus berani menawarkan interpretasi segar.

Selain itu, naskah yang dipilih biasanya karya penulis besar, baik nasional maupun internasional. Siswa pun mendapat kesempatan mengenal tradisi teater yang kaya—dari realisme hingga surealisme, dari sastra klasik hingga modern.

Dokumentasi festival teater pelajar yang digelar oleh Djarum Bhakti Budaya tahun lalu (foto : istimewa)

Guru pembina juga lebih terbantu karena punya acuan jelas untuk membimbing. Namun, sisi lemahnya cukup terasa. Ruang eksplorasi bisa menyempit. Imajinasi siswa mungkin terbatasi, apalagi bila guru menekankan kesetiaan penuh pada teks.

Kompetisi pun berisiko berubah jadi adu teknis semata, karena mudah membandingkan satu kelompok dengan kelompok lain.

Di sisi lain, kebebasan memilih atau menulis naskah sendiri membuka dunia baru. Banyak kelompok memanfaatkan kesempatan ini untuk mengangkat cerita rakyat, menulis kisah orisinal, atau menyuarakan isu sehari-hari yang dekat dengan kehidupan pelajar.

Dari segi pendidikan, ini sangat kaya. Siswa belajar menulis, meneliti, hingga mengolah gagasan. Cerita yang lahir cenderung lebih kontekstual, relevan, dan mudah dipahami penonton seusia mereka.

Proses kreatif—dari menulis hingga pentas—memberi pengalaman utuh bagaimana sebuah karya dilahirkan. Tentu ada tantangan. Tidak semua naskah punya kualitas merata. Kadang ide bagus, tapi struktur dramatiknya lemah.

Penilaian juga lebih sulit karena tiap kelompok membawa cerita berbeda.

Selain dua model itu, ada pilihan ketiga yang tak kalah menarik: adaptasi naskah klasik sesuai realitas pelajar. Bayangkan Waiting for Godot karya Samuel Beckett dimainkan dengan setting anak sekolah yang menunggu masa depan serba tak pasti.

Atau Lysistrata karya Aristophanes ditafsir ulang sebagai kisah siswi yang melakukan “mogok” demi lingkungan sekolah. Julius Caesar bisa dibaca ulang sebagai kritik terhadap budaya perundungan, sementara Romeo dan Juliet dipentaskan sebagai kisah remaja dengan problem keluarga dan pergaulan.

Tak hanya karya dunia, naskah Indonesia pun punya potensi besar. Kisah Perlawanan Suku Naga karya W.S. Rendra, misalnya, bisa diadaptasi untuk bicara tentang ketidakadilan sosial dalam bahasa pelajar hari ini. Dengan cara ini, siswa belajar menghargai karya besar sekaligus berani menafsirkan ulang sesuai zaman.

Dalam pendidikan teater, khususnya di level SMP dan SMA, yang utama adalah proses, bukan sekadar hasil akhir. Kebebasan berkarya menumbuhkan rasa percaya diri, keberanian bereksperimen, dan kepekaan sosial.

Namun, pengalaman menggarap naskah wajib juga penting. Dari situ, siswa belajar disiplin membaca teks, mengenal tradisi sastra, serta mengasah keterampilan teknis akting dan penyutradaraan.

Artinya, kedua pendekatan ini sebaiknya saling melengkapi. FTP Kudus, misalnya, bisa menerapkan sistem bergantian: satu tahun dengan naskah wajib untuk melatih literasi teater, tahun berikutnya dengan naskah bebas agar ruang imajinasi terbuka lebar.

Pilihan adaptasi klasik juga bisa jadi warna baru.

Pada akhirnya, Festival Teater Pelajar Kudus bukan hanya ajang lomba. Lebih dari itu, ia bisa menjadi laboratorium pembelajaran seni yang seimbang—antara disiplin membaca teks, keberanian menulis, hingga kreativitas mengadaptasi.

Di atas panggung, para pelajar tidak sekadar bermain peran. Mereka belajar membaca realitas, lalu menafsirkannya dengan bahasa seni yang segar.

Dan mungkin, di situlah letak asyiknya teater: sebuah ruang belajar yang penuh kemungkinan.

KOMENTAR SEDULUR ISK :