Kudus, isknews.com – Siapa sangka dari aula sederhana Balai Desa Megawon, Kecamatan Jati, lahir pementasan teater yang sarat tafsir dan keberanian. Sabtu (14/2) malam, Teater 9,9 yang dibaca Songo Koma Songo berhasil membuktikan bahwa panggung kampung pun mampu menghidupkan naskah kelas berat.
Debut perdana komunitas yang dirintis Karang Taruna Desa Megawon ini langsung mencuri perhatian. Mereka memilih mementaskan RT Nol RW Nol karya Iwan Simatupang, salah satu naskah penting dalam khazanah teater modern Indonesia
Pilihan itu bukan tanpa risiko. RT Nol RW Nol dikenal sarat dengan gaya absurdis, dialog panjang, dan metafora tentang identitas serta keberadaan manusia. Dalam sejarah teater, Iwan Simatupang kerap dibandingkan dengan dramawan dunia seperti Samuel Beckett, terutama lewat karya legendarisnya Waiting for Godot.
Lakonnya berkisah tentang sekelompok gelandangan yang tinggal di kolong jembatan dan membentuk struktur pemerintahan sendiri lengkap dengan Ketua, Sekretaris, hingga Bendahara meski mereka tak pernah diakui secara administratif. RT 0 RW 0 menjadi simbol tentang mereka yang tak tercatat, tetapi tetap berusaha mempertahankan harga diri.
Selama enam bulan terakhir, para pemain menjalani proses membaca, membedah naskah, dan latihan intensif. Tantangan terbesar bukan hanya menghafal dialog, melainkan memahami kedalaman makna di balik setiap percakapan.
Lis Sofiana Putri tampil sebagai Ani, Firda Nadila sebagai Ina, Cindy Artha Marcela memerankan Ati, Muhammad Daffa Yudistira sebagai Bopeng, Roy Indriansyah Putra sebagai Kakek, dan Muhammad Ryan Adi Saputro sebagai Pincang. Sebagian dari mereka adalah pekerja yang harus membagi waktu antara mencari nafkah di siang hari dan berlatih teater pada malam hari.
Kelahiran Songo Koma Songo menjadi warna baru bagi geliat seni pertunjukan di Kudus yang beberapa tahun terakhir berjalan pelan. Di tingkat Jawa Tengah, aktivitas teater relatif lebih terasa di kota seperti Semarang dan Surakarta, terutama lewat komunitas kampus. Sementara di daerah, komunitas harus berjuang menjaga konsistensi.
Usai pementasan, sarasehan digelar bersama penonton dan pegiat teater. Zaki Zamani dari Keluarga Segitiga Teater menegaskan bahwa tantangan sesungguhnya justru dimulai setelah pentas pertama.
“Yang sulit itu menjaga semangat agar tidak padam. Komunitas harus membangun jejaring dan terus belajar,” ujarnya.
Aktris senior Pipiek Isfianti yang telah lebih dari tiga dekade berkecimpung di panggung juga mengingatkan pentingnya kedewasaan dalam proses kreatif.
“Perbedaan tafsir dan konflik itu wajar. Di situlah kita belajar. Tapi jangan sampai kesenian membuat kita lupa keluarga,” katanya.
Dukungan Pemerintah Desa Megawon menjadi bagian penting dalam perjalanan ini. Kepala Desa Nurasag memberi ruang bagi anak-anak muda untuk berproses di balai desa.
Pementasan ini mungkin sederhana dari sisi fasilitas. Namun secara makna, langkah Songo Koma Songo membuktikan bahwa kesenian tak harus lahir di kota besar. Dari aula desa, panggung absurdis itu justru terasa dekat dan memantik kagum. (Mia/YM)










