Kudus, isknews.com – Selama bulan Ramadan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menyesuaikan pola penyediaan Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menghadirkan paket siap saji yang dirancang lebih tahan lama hingga waktu berbuka puasa.
Kepala SPPG, Yeni Krismadewi, menjelaskan bahwa pada Ramadan pihaknya tidak lagi menggunakan menu basah seperti hari biasa. Sebagai gantinya, menu dikemas dalam bentuk makanan kering atau semi kering yang tetap layak konsumsi saat berbuka.
“Kalau biasanya kami menggunakan menu basah, selama Ramadan ini kami siapkan paket siap saji. Jadi ada makanan yang lebih tahan lama sampai waktu berbuka dan tetap aman dikonsumsi,” ujarnya.
Untuk menu hari ini, paket yang dibagikan terdiri dari roti sando, susu, dan telur rebus. Sementara dalam satu pekan ke depan, variasi menu akan mencakup lemper serta bolu kukus.
Yeni menegaskan bahwa seluruh menu telah melalui perhitungan Angka Kecukupan Gizi (AKG) oleh ahli gizi. Komposisi makanan tetap memperhatikan keseimbangan nutrisi, mulai dari karbohidrat hingga protein.
“Semua sudah dihitung kebutuhan gizinya oleh ahli gizi. Jadi tetap ada unsur karbohidrat dan proteinnya,” jelasnya.
Terkait distribusi, ia menyebutkan bahwa pembagian dilakukan setiap hari tanpa sistem rapelan. Pendistribusian dimulai pukul 08.00 WIB dengan menyasar sekolah-sekolah terlebih dahulu.
Pengiriman diawali ke jenjang TK, kemudian berlanjut ke SD, SMP, dan SMA. Setelah itu, paket MBK juga didistribusikan kepada kelompok 3B, yakni balita (belita), ibu hamil (bumil), dan ibu menyusui (busui).
Adapun total sasaran penerima mencapai 3.596 orang yang tersebar di delapan sekolah dan kelompok 3B di Desa Bae dan Desa Gondangmanis. Beberapa sekolah penerima di antaranya SMP 1 Bae, SMP 2 Bae, SMA 2 Bae, TK ABA, SD 1 Gondangmanis, SD 4 Gondangmanis, SD 5 Gondangmanis, serta SD Kayuapu.
Yeni menambahkan, pihaknya juga membuka ruang evaluasi melalui PIC masing-masing sekolah. Apabila terdapat masukan, termasuk indikasi alergi pada siswa, hal tersebut akan dikaji kembali bersama ahli gizi sebelum dilakukan penyesuaian menu.
Untuk menu seperti lemper yang akan dikonsumsi saat berbuka, ia memastikan daya tahannya tetap terjaga karena melalui dua kali proses pengukusan. Selain itu, isian yang digunakan berupa abon ayam yang relatif lebih awet.
“Menu sudah kami uji coba terlebih dahulu. Biasanya satu minggu sebelumnya kami lakukan trial, umumnya di hari Sabtu atau Minggu, sebelum benar-benar didistribusikan,” ungkapnya.
Sementara itu, Guru SMP 1 Bae yang juga PIC MBG, Supriyatno, berharap program MBK selama Ramadan ini dapat terus berjalan lancar dan memberi manfaat nyata bagi para siswa. Ia menginginkan agar kualitas menu dan ketepatan distribusi tetap terjaga sehingga anak-anak bisa berbuka dengan asupan yang sehat dan bergizi.
Selain itu, ia juga berharap kolaborasi antara sekolah dan SPPG semakin solid demi mendukung tumbuh kembang serta daya tahan tubuh siswa selama menjalankan ibadah puasa. (AS/YM)










