Musik Afrika Ikut Meramaikan Pagelaran Budaya Di Museum Radya Pustaka

oleh -832 kali dibaca

Surakarta, isknews.com – Masih dalam suasana bulan Sura, Museum Radya Pustaka menghadirkan satu pagelaran budaya kembali tepat di selasar Museum Radya Pustaka Solo. Afroo Java Jazz tadi malam hadil dalam serangkaian pagelaran Bulan Sura Bulan Budaya di Museum Radya Pustaka. Beberapa penampil mengisi acara ini dengan sajian musik bergenre  Jazz. Salah satunya dari grup musik Drumming Outloud.

Ada yang menarik dari penampilan Drumming Outloud tadi malam (4/11). Salah satu dari pemain musik di grup ini bernama Arone Siva Billa berasal dari Afrika Selatan. Arone yang baru 3 bulan  tergabung di komunitas Drumming Outloud  ini menjadi daya tarik tersendiri dari komunitas pecinta musik Afrika ini. Dengan mahirnya Arone memainkan alat musik yang disebut Timbila asal Afrika ini membuat semakin menarik dan meriah pagelaran tadi malam.

Drimming Outloud sendiri merupakan komunitas pencinta musik afrika yang beranggotakan sekitar 40an orang, dan  mulai terbentuk pada bulan September 2013. Adanya komunitas ini karena memang pencetus komunitas ini masih berkerabat tidak jauh dari Afrika. Banyak kesamaan dalam penyajian musik tradisional Afrika dan musik tradisional Indonesia, di Afrika ada lagu yang memang dinyanyikan saat pernikahan, satt pengatian, pada saat bulan purnama. Di Indonesia pun ada lagu – lagu untuk pengiring pernikahan, kematian dan ada lagu untuk penyambut bulan Ramadhan pun ada di musik tradisi Indonesia.

Saat fasilitator komunitas pecinta musik Afrika Dreaming Outloud  mengatakan, “ Saya suka musik Afrika karena musik –musik Afrika itu nadanya itu semangat, seperti memicu adrenalin saya. Dan saya sudah banyak belajar tentang lagu – lagu dan musik Afrika diberbagai daerah, salah satunya di Bali. Lalu ilmu yang saya dapatkan saya bagi dan ajarkan keteman – teman saya yang juga tertarik dengan musik  Afrika” kata Galih Nagaseno. (4/11)

“Saat ini banyak pecinta jimbe untuk dimainkan, namun mereka tidak mengetahui dasar yang benar, mereka hanya memainkan dengan berbagai variasi atau lebih bersifat kontemporer, namun tradisi dan nada yang diambil jauh dari nilai sebenarnya yang terkandung di musik tersebut” imbuhnya.

Amalia Zulfana

KOMENTAR SEDULUR ISK :