Nojorono Kudus Rayakan Usia ke-94, Kompetisi Fotografi Himpun 1.700 Karya

oleh -59 Dilihat
Proses kurasi dan penjurian dilakukan secara independen oleh dewan juri, yakni Eva Agriana Ali sebagai perwakilan Pewarta Foto Indonesia (PFI) dan Agus Susanto dari Pewarta Foto Harian Kompas. (Foto: Dok. Istimewa)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Memasuki usia ke-94 tahun, PT Nojorono Tobacco International (Nojorono Kudus) mengajak masyarakat merefleksikan perjalanan panjang perusahaan melalui karya fotografi. Melalui kompetisi Berkarya Lewat Lensa, perusahaan tersebut menghimpun lebih dari 1.700 karya dari jurnalis dan masyarakat umum di berbagai daerah di Indonesia.

Kompetisi yang berlangsung pada Agustus hingga Oktober 2026 ini menjadi bagian dari peringatan perjalanan Nojorono Kudus dengan mengusung tema Mawa Daya: Merajut Karsa Selaras Dengan Waktu. Tema tersebut merefleksikan upaya perusahaan dalam menjaga nilai-nilai warisan sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Ribuan karya yang masuk menghadirkan beragam perspektif mengenai perjalanan Nojorono Kudus dalam menapaki usia ke-94 tahun. Melalui medium fotografi, para peserta menerjemahkan nilai-nilai yang diwariskan ke dalam narasi visual yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Proses kurasi dan penjurian dilakukan secara independen oleh dewan juri, yakni Eva Agriana Ali sebagai perwakilan Pewarta Foto Indonesia (PFI) dan Agus Susanto dari Pewarta Foto Harian Kompas. Penilaian mempertimbangkan orisinalitas gagasan, kekuatan visual, serta keselarasan karya dengan tema kompetisi.

Corporate Communication Head PT Nojorono Tobacco International, Eliza Susanto, menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta yang telah berpartisipasi dalam kompetisi tersebut.

“Beragam submisi yang kami terima menunjukkan bahwa sebuah perjalanan dapat dimaknai dengan banyak cara. Melalui karya para peserta, kami melihat bagaimana nilai-nilai luhur diterjemahkan sesuai konteks zamannya,” ungkap Eliza.

Menurutnya, menjaga warisan tidak hanya berarti mempertahankan nilai-nilai yang telah diturunkan, tetapi juga memastikan nilai tersebut tetap hidup, relevan, dan mampu berkembang bersama perubahan generasi.

“Bagi kami, inilah makna sesungguhnya dari Menjaga Warisan, Selaras dengan Waktu, yakni ketika nilai yang diwariskan tetap hidup, relevan, dan bertumbuh adaptif bersama generasi yang terus bergerak maju,” lanjutnya.

Ketua Umum Pewarta Foto Indonesia (PFI), Dwi Pambudo, menilai fotografi memiliki kemampuan untuk menerjemahkan perjalanan dan nilai sebuah institusi menjadi narasi visual yang mudah dipahami masyarakat sekaligus membangun keterhubungan emosional dengan khalayak.

Ia menyebut, karya-karya yang masuk menunjukkan bahwa semangat menjaga warisan sekaligus menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tidak hanya berlaku bagi perusahaan, tetapi juga dapat ditemukan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

“Banyak peserta berhasil menunjukkan bahwa merawat nilai yang diwariskan sembari menyesuaikannya dengan kebutuhan zaman bukan hanya dilakukan oleh sebuah perusahaan, tetapi juga oleh masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan,” ujar Dwi.

Dari seluruh karya yang dikurasi, terpilih 12 pemenang yang terdiri atas enam pemenang kategori wartawan dan enam pemenang kategori umum. Karya terpilih dinilai memiliki kekuatan narasi visual, keaslian, serta kualitas teknis fotografi yang mampu menerjemahkan tema kompetisi secara kuat dan bermakna.

Melalui kompetisi Berkarya Lewat Lensa, Nojorono Kudus berupaya menghadirkan ruang bagi jurnalis dan masyarakat untuk menyampaikan perspektif mereka melalui fotografi. Program ini sekaligus menjadi bagian dari refleksi perjalanan perusahaan yang berdiri pada 14 Oktober 1932 di Kudus, Jawa Tengah, dalam menjaga warisan sekaligus menyelaraskan diri dengan perkembangan zaman. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.