OJK Tegaskan Fundamental Perbankan Nasional Tetap Kuat di Tengah Tekanan Global

oleh -1211 Dilihat
ilustrasi Perbankan

Nasional, isknews.com – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa kondisi industri perbankan nasional hingga saat ini masih berada dalam posisi yang kuat dan stabil, meskipun di tengah tekanan dan ketidakpastian ekonomi global.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyampaikan bahwa kinerja sektor perbankan tetap menunjukkan tren positif. Ia menekankan bahwa revisi outlook negatif terhadap sejumlah bank besar di Indonesia, termasuk kelompok Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), bukan disebabkan oleh lemahnya fundamental perbankan.

Menurutnya, perubahan outlook tersebut lebih dipicu oleh penyesuaian terhadap peringkat kredit sovereign Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch. Kondisi ini turut memengaruhi persepsi risiko terhadap sektor keuangan nasional, seiring dinamika makroekonomi global.

“Fundamental industri perbankan nasional sejauh ini tetap terjaga dengan baik. Pertumbuhan kredit pada Januari 2026 tercatat sebesar 9,96 persen secara tahunan, sejalan dengan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mencapai 13,48 persen,” ujar Dian.

Selain itu, kualitas aset perbankan juga tetap terkendali, tercermin dari rasio kredit bermasalah (NPL) sebesar 2,14 persen. Dari sisi permodalan, perbankan nasional memiliki rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,87 persen, sementara likuiditas berada pada level yang sangat memadai, jauh di atas ambang batas ketentuan.

Dian menambahkan, kinerja bank-bank besar, khususnya kelompok KBMI 4 dan Himbara, menunjukkan pertumbuhan yang kuat. Kredit pada kedua kelompok tersebut tumbuh double digit, masing-masing sebesar 13,34 persen dan 13,43 persen. Sementara itu, penghimpunan DPK juga meningkat signifikan, mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap sektor perbankan.

“Ketahanan permodalan Himbara berada pada level 20,32 persen, sedangkan KBMI 4 mencapai 22,33 persen. Ini memberikan ruang ekspansi yang cukup luas sekaligus menjadi bantalan dalam menghadapi potensi risiko ke depan,” jelasnya.

Dari sisi kualitas kredit, rasio NPL gross tetap berada pada kisaran rendah, yakni di bawah 1 persen hingga 3 persen, dengan Loan at Risk (LaR) yang terkendali. Kondisi ini didukung oleh penerapan manajemen risiko yang prudent serta pembentukan cadangan yang memadai.

Sepanjang tahun 2025, bank-bank besar dan Himbara juga mencatatkan kinerja laba yang positif. Hal ini mencerminkan keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, serta penguatan tata kelola dan manajemen risiko.

Di tengah ketidakpastian global, Himbara juga terus memainkan peran strategis dalam mendukung pembiayaan sektor riil dan berbagai program prioritas pemerintah. Stabilitas intermediasi perbankan dinilai tetap terjaga dengan baik.

OJK menegaskan akan terus melakukan pengawasan secara berkelanjutan guna memastikan industri perbankan tetap menjalankan prinsip kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta manajemen risiko yang memadai.

Lebih lanjut, Dian menyebut bahwa penyesuaian outlook oleh lembaga pemeringkat tidak secara langsung memengaruhi kemampuan perbankan dalam mengakses sumber pendanaan. Saat ini, peringkat kredit bank-bank besar Indonesia masih berada pada level investment grade dan didukung oleh fundamental yang solid.

Struktur pendanaan perbankan nasional juga dinilai cukup kuat karena masih didominasi oleh dana domestik, sehingga ketergantungan terhadap sumber pendanaan eksternal relatif terbatas.

“OJK bersama para pemangku kepentingan, khususnya dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), akan terus menjaga stabilitas sistem keuangan melalui koordinasi kebijakan dan penguatan pengawasan,” pungkas Dian.

Dengan kondisi tersebut, OJK optimistis sektor perbankan nasional tetap memiliki ketahanan yang baik dalam menghadapi dinamika global serta peluang untuk terus tumbuh ke depan. (AS/YM)