Pak Man, Buruh Angkut Pasar Kliwon Kudus Siap Berangkat Haji Setelah 13 Tahun Menabung

oleh -32 Dilihat
Pak Suherman, saat menjadi porter di Pasar Kliwon, Kudus. (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Seorang buruh angkut atau porter di pasar di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, siap menunaikan ibadah haji tahun ini. Dengan kegigihannya menabung, penantian selama 13 tahun akhirnya berbuah manis.
Suherman (51), warga Desa Bacin, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, bersama sang istri, Emy Setyowati (46), membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk menunaikan ibadah haji.

Bapak dua anak ini sehari-hari bekerja sebagai buruh angkut di Pasar Kliwon Kudus dengan upah sekitar Rp100 ribu hingga Rp120 ribu per hari. Dari penghasilan tersebut, ia tidak menabung di bank, melainkan menyisihkannya secara disiplin untuk kebutuhan masa depan.

“Saya dari dulu memang punya niat haji. Pelan-pelan saja, yang penting jalan terus,” ujar Suherman.

Ia menuturkan, sepulang bekerja dirinya tidak langsung beristirahat. Waktu siang hingga sore dimanfaatkan untuk mengurus pekerjaan tambahan dan memastikan penghasilannya bisa terus diputar demi kebutuhan keluarga sekaligus tabungan.

“Kalau ramai ya bisa nabung sedikit, tapi kalau sepi cukup buat makan saja. Yang penting tetap disisihkan,” imbuhnya.

Upaya panjang itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 2013, Suherman mendaftar haji bersama istrinya. Setelah menunggu selama 13 tahun, tahun ini keduanya mendapatkan panggilan berangkat melalui kuota haji susulan.

Namun, panggilan mendadak tersebut membuatnya harus segera menyiapkan dana pelunasan sekitar Rp50 juta.

“Saya sempat bingung karena waktunya mendadak. Tapi ya sudah, saya usahakan supaya bisa berangkat,” ungkapnya.

Menurut Muhammadun, rekan sesama buruh angkut di Pasar Kliwon Kudus, Suherman dikenal sebagai sosok pekerja keras yang tidak pernah mengeluh.

“Orangnya rajin, semangat, tidak mengenal lelah. Selain itu juga sering membantu teman-temannya,” ujarnya.

Ia menambahkan, sikap Suherman yang ringan tangan dan tidak mudah marah menjadi hal yang paling diingat oleh rekan-rekannya.

“Yang paling diingat itu dia nggak pernah ngamuk. Pokoknya kalau ada teman butuh bantuan, dia selalu membantu,” lanjutnya.

Keberangkatan Suherman ke tanah suci pun menjadi motivasi bagi para buruh angkut lainnya di pasar tersebut.

Kini, meski harus mengorbankan banyak hal untuk memenuhi biaya keberangkatan, Suherman dan istrinya mengaku bersyukur atas kesempatan yang datang.

Perjalanan panjang seorang buruh angkut ini menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan niat kuat mampu mengantarkan seseorang meraih impian besar, termasuk menunaikan ibadah haji ke tanah suci. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :