Catatan Redaksi :
Kudus, isknews.com – Ada angka yang harus kita hadapi dengan jujur, meski terasa pahit. Berdasarkan laporan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) yang dirilis Perpustakaan Nasional RI, Kabupaten Kudus mencatatkan skor 64,63. Angka ini menempatkan kita di bawah rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang mencapai 74,36. Lebih mengkhawatirkan lagi, tingkat kegemaran membaca kita berada di angka 51,19, selisih yang cukup lebar jika dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 66,77.
Data ini bukan sekadar statistik di atas kertas. Ini adalah sebuah alarm.
Literasi: Lebih dari Sekadar Mengeja
Literasi adalah kemampuan mengolah informasi. Ketika angka literasi rendah, terjadi efek domino yang melumpuhkan. Masyarakat menjadi rentan terhadap berita palsu (hoaks), sulit memahami prosedur kerja yang kompleks, hingga rendahnya daya saing ekonomi. Di tingkat akar rumput, literasi yang rendah berbanding lurus dengan rendahnya kemampuan berpikir kritis.
Tantangan Asesmen Sumatif dan Masa Depan Anak
Tantangan ini menjadi kian mendesak menjelang tahun ajaran baru. Dengan diberlakukannya kembali Asesmen Sumatif Akhir Jenjang (ASAJ) dan Asesmen Nasional (AN), anak didik kita tidak lagi hanya diuji seberapa banyak mereka menghafal, melainkan seberapa dalam mereka mampu melakukan penalaran literasi dan numerasi.
Tanpa pondasi literasi yang kuat, Asesmen Nasional bukan lagi sekadar potret mutu pendidikan, melainkan menjadi tembok tinggi yang menghalangi potensi anak-anak kita untuk berkembang. Kita tidak ingin generasi muda Kudus yang dikenal sebagai pekerja keras, justru kalah sebelum bertanding hanya karena mereka tidak terbiasa mendalami teks dan logika.
Bukan Sekadar Tugas Guru, Tapi Gerakan Semesta
Literasi bukan hanya tanggung jawab Dinas Pendidikan atau para guru di sekolah. Ini adalah tanggung jawab kita semua pemilik rumah tangga, pelaku bisnis, hingga pengelola media:
- Orang Tua: Adalah pustakawan pertama di rumah. Satu buku yang dibacakan bersama anak jauh lebih berharga daripada berjam-jam waktu layar gawai yang sia-sia.
- Lingkungan: Kita butuh lebih banyak ruang publik yang ramah baca, bukan sekadar ruang publik yang “Instagramable“.
- Komunitas: Mari kita jadikan diskusi buku atau literasi digital sebagai tren baru di tengah masyarakat.
Sebuah Seruan Kesadaran
Kudus telah lama dikenal sebagai kota yang mandiri dan religius. Mari kita lengkapi kebanggaan itu dengan menjadi masyarakat yang literat. Data di atas adalah garis start kita untuk berlari lebih kencang, bukan alasan untuk berkecil hati.
Mari kita ubah angka 51,19 itu menjadi sebuah gerakan masif. Demi masa depan anak-anak kita, demi tegaknya marwah kota ini, mari kita mulai membaca lagi. Karena setiap halaman yang kita buka adalah jendela yang kita sediakan bagi mereka untuk melihat dunia yang lebih luas.
Rangkuman Data untuk Referensi Visual (Tabel):
| Indikator | Skor Kudus | Rata-Rata Jateng | Rata-Rata Nasional |
| IPLM (Indeks Pembangunan Literasi) | 64,63 | 74,36 | 69,42 |
| TGM (Tingkat Kegemaran Membaca) | 51,19 | 71,31 | 66,77 |
Sumber: Diolah dari Data Perpusnas RI & Disarsipus Kabupaten Kudus (2024).











