Pedagang Pakaian Pasar Kliwon Blok D Lawan Sepinya Omzet dengan Pawai Merdeka

oleh -926 Dilihat
Peringati HUT RI ke 80, Pedagang Pasar Kliwon Blok D lantai 1 Timur, menggelar pawai keliling blok pasar pada Minggu (18/8/2025). (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Ratusan pedagang Pasar Kliwon Blok D lantai 1 Timur, yang sebagian besar berjualan pakaian jadi, menggelar pawai keliling blok pasar pada Minggu (18/8/2025).

Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati HUT ke-80 Republik Indonesia sekaligus menjadi aksi keprihatinan atas merosotnya omzet pedagang tradisional akibat persaingan dengan platform marketplace dan lapak dagang di media sosial.

Ketua panitia pawai, Setio Budi, menjelaskan bahwa kegiatan ini menjadi cara para pedagang untuk mempromosikan dagangan secara langsung kepada masyarakat.

“Kami ingin mengangkat kembali nama Pasar Kliwon. Jangan sampai kalah sama online. Ini bentuk keprihatinan sekaligus promosi dagangan agar pembeli kembali datang,” ujarnya.

Rute pawai dimulai dari Blok Makmur Jaya, berlanjut ke Jalan Tengah, masuk ke Blok A, lalu melewati Jalan Cidera Susiyanto hingga kembali ke area Blok G bagian timur.

Para pedagang yang ikut dalam pawai ini sebagian besar membawa serta dagangan mereka, mulai dari celana kolor, daster, hingga pakaian sehari-hari yang selama ini menjadi ciri khas dagangan di Pasar Kliwon.

Menurut panitia, jumlah peserta yang ikut mencapai sekitar 70–100 pedagang. Mereka berharap kegiatan ini bisa menjadi daya tarik tersendiri, mengingat pengunjung pasar kian menurun dalam beberapa tahun terakhir.

“Keluhan utama pedagang adalah sepinya pembeli. Sekarang orang lebih banyak belanja lewat marketplace atau sosial media. Kalau dibiarkan, daya beli di pasar tradisional semakin menurun,” kata Setio Budi.

Ia menambahkan, omzet pedagang mengalami penurunan hingga 50 persen dibandingkan beberapa tahun sebelumnya.

“Dulu dalam setahun bisa ribuan potong pakaian laku, sekarang jauh berkurang. Ini yang membuat pedagang resah,” imbuhnya.

Meski ada upaya sebagian pedagang untuk ikut berjualan secara daring, namun keterbatasan usia dan keterampilan membuat mayoritas pedagang senior kesulitan mengikuti tren tersebut.

“Kalau pedagang tua itu jarang bisa main online. Hanya anak muda saja yang bisa. Jadi kami lebih memilih mempromosikan langsung dengan cara-cara seperti ini,” terang Setio.

Selain sebagai ekspresi keprihatinan, pawai ini juga ditujukan untuk mengingatkan pemerintah agar memberi perhatian lebih pada keberlangsungan pasar tradisional.

“Harapan kami sederhana, jangan sampai Pasar Kliwon yang dianggap pasar terbesar di Kudus justru tenggelam dan kalah dengan online. Pemerintah harus hadir melindungi pedagang kecil,” tegas Setio.

Menurut Sukini (55), pemilik kios Okky Jaya, semenjak kehadiran platform dagang di dunia maya, pihaknya mengalami penurunan omzet hingga sekitar 70 persen.

Ia berharap iklim kunjungan ke Pasar Kliwon, yang dulu sempat disebut sebagai pasar terbesar di Pantura Timur, bisa kembali bergairah seperti sebelumnya.

“Kami hanya ingin Pasar Kliwon ramai lagi, seperti dulu,” ujarnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :