Kudus, isknews.com – Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun ke-2, Yayasan Penggiat Konservasi Muria (Peka Muria) menggelar sarasehan bertajuk “Sinergi Pendaki dan Konservasi Pegunungan Muria”, Sabtu (12/7/2025) pagi di Joglo Migunani, Buper Bumi Abiyoso, Menawan, Kudus.
Acara ini dihadiri oleh berbagai komunitas pecinta alam dari Kudus, Jepara, dan sekitarnya, termasuk MAPALA, MRC, hingga perwakilan desa di kawasan Muria seperti Colo, Japan, Ternadi, Rahtawu, Kajar dan Menawan.
Anggota DPRD Jawa Tengah, Arif Wahyudi, menyampaikan dukungannya terhadap inisiatif konservasi yang dijalankan komunitas Peka Muria. Ia menyoroti pentingnya penataan manajemen pendakian Gunung Muria melalui penerapan Standard Operating Procedure (SOP) yang wajib ditaati pendaki.
“Gunung ini bukan tempat yang kita datangi untuk dirusak, tapi untuk dihormati. Maka SOP pendakian harus dibuat tegas, termasuk soal membawa turun sampah. Bila perlu, pendaki yang meninggalkan sampah dikenai sanksi,” tegas Arif.
Ia juga mendorong pelatihan guide atau pemandu gunung secara reguler, yang tidak hanya berdampak pada ekonomi lokal, tapi juga meningkatkan edukasi konservasi bagi para pendaki.
Ketua Peka Muria, Teguh Budi Wiyono, menjelaskan bahwa sarasehan ini digelar sebagai respons atas berbagai isu pendakian dan konservasi di Gunung Muria, termasuk kasus viral sebelumnya dan meningkatnya ancaman terhadap satwa liar seperti macan tutul dan elang Jawa.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa pendakian tak bisa dipisahkan dari konservasi. Pendaki harus memahami ekosistem Muria dan dampak aktivitas mereka terhadap lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan berbagai upaya konservasi sejak 2018, termasuk pengamatan macan tutul dan elang Jawa, serta penanaman pohon 2 hingga 4 kali setiap tahun di lahan-lahan kritis guna menjaga kelestarian mata air.
Sarasehan di Menawan akan dilanjutkan dengan diskusi internal di Tempur hingga Minggu (13/7). Salah satu rencana kerja jangka panjang Peka Muria adalah mendirikan sekolah alam yang menyasar siswa-siswa di kawasan sekitar hutan, guna menanamkan nilai konservasi sejak dini.
“Peka Muria berharap adanya sinergi yang lebih kuat antara pendaki, pengelola basecamp, pemerintah, dan komunitas lokal demi menjaga kelestarian Gunung Muria secara berkelanjutan,” tandasnya.
Dalam kesempatan itu, Budi Kusriyanto dari Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) Kudus menilai bahwa sarasehan ini merupakan momen refleksi dan evaluasi penting, terutama pascakecelakaan tragis yang menimpa pendaki perempuan beberapa waktu lalu.
“Selama ini kita luput soal regulasi. Siapa yang bertanggung jawab jika ada insiden? Bagaimana mitigasinya? Sudah saatnya pendakian di Gunung Muria punya payung hukum yang jelas,” kata Budi.
Dihubungi terpisah, Kasi Kedaruratan BPBD Kudus, Ahmad Munaji, menyatakan bahwa pihaknya juga tengah mempersiapkan langkah preventif untuk mendukung keselamatan pendakian di Gunung Muria. Salah satu langkah awal adalah pemasangan spanduk imbauan dan peringatan di sejumlah titik jalur pendakian, khususnya di jalur Natas Angin dan Puncak Songolikur.
“Rencananya hari Senin (14/7/2025) akan kami rapatkan dulu bersama pihak terkait, lalu setelah itu dilanjutkan dengan aksi penempelan imbauan. Kami akan tempelkan di titik-titik strategis,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemasangan imbauan ini akan didorong melalui fasilitasi pemerintah desa, mengingat pengelolaan jalur pendakian ke depan juga akan berbasis kewenangan desa. Harapannya, melalui upaya ini, para pendaki bisa lebih sadar terhadap risiko pendakian serta pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sekitar gunung.
Hal itu sebagai tindak lanjut rapat penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP) pendakian Gunung Muria yang telah dilaksanakan pada Rabu, 2 Juli 2025 lalu di Aula BPBD Kabupaten Kudus. (AS/YM)







