Pemeriksaan Trauma Kimia Terhadap Mata

oleh -849 Dilihat

Oleh : dr. Djoko Heru Santosa, Sp.M (Dokter Spesialis Mata RS KARTIKA HUSADA KUDUS)

Kesehatan, isknews.com – Segera lakukan irigasi di lokasi cedera dengan larutan fisiologis, asam borat, air matang, ataupun air bersih (air mineral, air sumur, PDAM) selama mungkin dan paling sedikit 15-30 menit sebelum pasien dikirim. Irigasi selain ditujukan pada permukaan kornea, juga pada forniks superior maupun inferior.
Semua benda asing yang jelas tampak harus diirigasi apabila mungkin, dan bila ada sisa bahan kimia dibersihkan dengan lidi kapas basah/pinset.

Di ruang darurat dilakukan irigasi permukaan kornea, termasuk forniks konjungtiva, dengan cairan dalam jumlah besar. Selain isotonik steril (beberapa liter untuk satu mata yang cedera) diteteskan dengan selang intravena standar (drip/continous irrigation) atau spuit 20 cc disposible (manual).

Pada trauma kimia asam, pengobatan dilakukan dengan irigasi jaringan yang terkena secepatnya dan selama mungkin (paling tidak sampai setengah jam) untuk menghilangkan dan melarutkan bahan yang mengakibatkan trauma. Dapat digunakan larutan natrium bikarbonat 3%.

Pada trauma kimia basa, tindakan yang dilakukan adalah secepatnya melakukan irigasi dengan larutan garam fisiologis, dapat juga dipergunakan larutan asam borat, asam asetat 0,5%, atau buffer asam asetat pH 4,5 untuk menetralisir. Sebaiknya irigasi dilakukan selama mungkin (paling tidak sampai satu jam). Bila mungkin irigasi dilakukan pada satu jam setelah trauma. Penderita diberi sikloplegia, antibiotika topikal, bebat mata selama mata masih sakit, dan EDTA untuk mengikat basa. EDTA diberikan setelah 1 minggu trauma alkali, diperlukan untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ketujuh.

Regenerasi epitel akibat asam lemah atau alkali sangat lambat, biasanya baru sempurna setelah 3-7 hari
Mungkin diperlukan spekulum kelopak mata dan anestetik local (pantokain e.d 2% slama 5 menit) untuk mengatasi blefarospasme. Analgetik dan anestetik local serta sikloplegik hampir selalu diberikan.
Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya benda asing penyebab luka tersebut. Gunakan aplikator berujung kapas (kapas lidi) yang basah dan forceps ahli perhiasan untuk mengeluarkan benda-benda berbentuk partikel dari forniks.
Periksa pH permukaan mata dengan menaruh seberkas kertas indikator di forniks, ulangi irigasi apabila pH tidak terletak antara 7,3-7,7.

Setelah irigasi, berikan salep antibiotik spectrum luas dan bebat tekan. Antibiotik diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.
Steroid topikal (pada kasus berat grade III/IV), obat-obat anti glaukoma, dan sikloplegik diberikan selama 2 minggu pertama. Sikloplegik jangka panjang (atropin 2%) diberikan 1 tetes untuk mengurangi atau mencegah perlekatan antara iris dan lensa (sinekia anterior). Setelah 2 minggu pemakaian steroid harus berhati-hati karena obat ini menghambat reepitelialisasi.

Tetes mata askorbat (vitamin C), sitrat, atau asetilsistein (inhibitor kolagenase) untuk mengurangi perlunakan kornea.
Air mata buatan, tarsorafi, atau lensa kontak bebat diberikan apabila kornea terpajan dan ada defek epitel yang menetap.
Lakukan evaluasi terhadap pasien setiap hari dan lakukan pengobatan hingga sembuh. Penting juga untuk memonitor TIO, peningkatan TIO dapat timbul sebagai komplikasi lanjut dari trauma kimia karena terjadi penyumbatan lubang trabekulae oleh sel-sel radang.

Mungkin bisa terjadi penyulit
o Entropion.
o Sindroma mata kering (( air mata buatan, lensa kontak “bandage”, tarsorafi.
o Simblefaron (( simblefarektomi.
o Glaukoma.
o Katarak traumatika (( ekstraksi lensa.
o Ekspose/perlunakan kornea.
o Sikatrik kornea (( keratopasti.

Prognosa
Tergantung pada kompetensi pembuluh darah sclera dan konjungtiva.
Semakin banyak jaringan epitel perilimbus dan pembuluh darah sclera dan konjungtiva yang rusak, semakin buruk prognosenya.
Pada trauma kimia asam, biasanya akan normal kembali, sehingga tajam penglihatan tidak banyak terganggu. (Adv)

No More Posts Available.

No more pages to load.