Pemkab Kudus Gelontorkan Rp9,37 Miliar untuk Perbaikan 58 Sekolah, Termasuk SDN 1 Mejobo

oleh -142 Dilihat
Kusnan salah seorang pelaksana renovasi ruang kelas SD Mejobo 1 Kudus dari penyedia jasa CV Margin Utama (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Pemerintah Kabupaten Kudus melalui Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) mengalokasikan anggaran sebesar Rp9,37 miliar dari APBD 2025 untuk merehabilitasi 58 sekolah yang mengalami kerusakan.

Program ini mencakup 49 SD dan 9 SMP yang tersebar di berbagai kecamatan.

Kabid Pendidikan Dasar Disdikpora Kudus, Anggun Nugroho, mengatakan bahwa hingga awal Agustus, sekitar 20 sekolah sudah memulai proses rehabilitasi.

Pekerjaan difokuskan pada perbaikan atap, lantai, hingga peninggian bangunan guna mengantisipasi banjir di musim hujan.

“Sudah 20 paket sekolah dasar yang berkontrak dan renovasinya mulai jalan,” ujarnya, Jumat (8/8/2025).

Salah satu sekolah yang tengah diperbaiki adalah SDN 1 Mejobo. Selama proses rehabilitasi yang dimulai 15 Juli 2025 dan ditargetkan rampung dalam 60 hari kerja, siswa kelas I dan II harus belajar di ruang perpustakaan dan ruang serbaguna.

Menurut guru kelas, Siti Komariyah, kondisi bangunan sudah dikeluhkan sejak tiga tahun terakhir karena atap bocor dan banjir masuk kelas setiap musim hujan.

“Memang kondisinya sudah rusak, banjir sampai masuk kelas, atap juga bocor,” ujarnya.

Rehabilitasi SDN 1 Mejobo menelan anggaran Rp187,8 juta yang bersumber dari APBD murni 2025.

Perbaikan mencakup atap, lantai, dan peninggian pondasi untuk mencegah genangan air.

Selain dana reguler, Pemkab Kudus juga mengalokasikan Rp700 juta dari APBD Perubahan untuk pemeliharaan rutin di sekolah-sekolah yang membutuhkan perbaikan mendesak namun tidak masuk program bantuan reguler.

Beberapa proyek lain juga memanfaatkan dana tak terduga, seperti SDN 2 Purwosari yang mendapat Rp422 juta untuk perbaikan atap kelas yang ambrol.

Anggun menegaskan, seluruh proyek rehabilitasi diupayakan rampung tepat waktu agar kegiatan belajar mengajar bisa berjalan optimal.

“Kami ingin guru mengajar tanpa khawatir kondisi bangunan, dan siswa pun lebih fokus belajar,” tegasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :