Kudus, isknews.com – Pengajian kitab Tafsir Al-Qur’an yang diasuh oleh kyai Kharismatik KH Sya’roni Ahmadi Alhafidz telah dimulai sejak Rabu Legi 5 Ramadhan 1438H lalu di Masjid Al-Aqsha Menara Kudus setelah sholat subuh berjama’ah.
Setelah sholat subuh berjamah, kalangan kaum sarungan yang sedang ‘nyantri’ di pesantren yang tak jauh dari makam Sunan Kudus dan Masyarakat umum telah membanjiri lokasi area menara. Pantauan isknews.com dilokasi, mereka terlihat sangat antusias dan tidak bosan-bosannya mengais ilmu dari “yai sya’roni ahmadi”.
Berikut penjabaran dari Bahasan Surat Ali Imron Ayat 7-11 Surat Madaniyyah, Surat ke-3 yang berjumlah 200 ayat (Surat terpanjang no. 2 setelah Al-Baqarah) oleh Mohammad Bahauddin M.Hum, pada Jumu’ah pagi, (2/6/2017)
Tema : Penjelasan Sifat Ayat-Ayat Al-Qur’an Muhkam – Mutasyabih
*QS. Ali Imran [3]: 7-11*
بسم الله الرحمن الرحيم
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (7) رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ (8) رَبَّنَا إِنَّكَ جَامِعُ النَّاسِ لِيَوْمٍ لَا رَيْبَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ (9) إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ (10) كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ (11)
Artinya : (7) Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur´an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta´wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta´wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal (8) (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)” (9) “Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya”. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji (10) Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka (11) (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir´aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya
هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آَيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آَمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: Dialah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, itulah pokok-pokok isi Al qur´an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta´wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta´wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami”. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal
Tafsiran ayat di atas dalam kaca mata Tafsir Kitab Jalalain sebagai berikut:
{هُوَ الذى أَنزَلَ عَلَيْكَ الكتاب مِنْهُ ءايات محكمات} واضحات الدلالة { هُنَّ أُمُّ الكتاب} أصله المعتمد عليه في الأحكام { وَأُخَرُ متشابهات } لا تفهم معانيها كأوائل السور وجعله كله محكماً في قوله {أُحْكِمَتْ آياته} بمعنى أنه ليس فيه عيب ومتشابهاً في قوله {كِتَابَاً مَّتَشَابِهاً} بمعنى أنه يشبه بعضه بعضاً في الحسن والصدق. { فَأَمَّا الَّذِينَ فى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ } ميل عن الحق { فَيَتَّبِعُونَ مَا تشابه مِنْهُ ابتغاء } طلب { الفتنة } لجُهَّالهم بوقوعهم في الشبهات واللبس { وابتغاء تَأْوِيلِهِ } تفسيره { وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ } تفسيره { إِلاَّ الله } وحده { والراسخون } الثابتون المتمكنون { فِى العلم } مبتدأ خبره { يَقُولُونَ ءامَنَّا بِهِ } أي بالمتشابه أنه من عند الله ولا نعلم معناه { كُلٌّ } من المحكم والمتشابه { مّنْ عِندِ رَبّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ } بإدغام التاء في الأصل في الذال أي يتعظ { إِلاَّ أُوْلُواْ الألباب } أصحاب العقول ويقولون أيضاً إذا رأوا من يتبعه .
Artinya: (Dialah yang menurunkan kepadamu Al-Qur’an, diantara isisnya ada ayat-ayat yang muhkamat) jelas maksud dan tujuannya (itulah dia pokok-pokok Al-Qur’an) yakni yang menjadi pegangan dalam menetapkan (sedang yang lainya mutasyabihat) tidak dimengerti secara jelas maksudnya. Misalnya permulaan surah. Semuanya disebut sebagai ‘muhkam’ seperti dalam firman-Nya ‘uhkimat aayaatuh’ dengan makna bahwa sebagian menyamai lainya dalam keindahan dan kebenaran. (Adapun orang-orang yang dalam hatinya ada kecenderungan pada kesesatan) menyelewengan dari kebenaran, (maka mareka mengikuti ayat-ayat mutasyabihat untuk membangkitkan fitnah) dikalangan orang-orang bodoh dengan menjerumuskan mereka ke hal-hal yang syubhat dan kabur pengertianya (dan demi untuk mencari-cari takwilnya) tafsirnya (padahal tidak ada yang tahu takwil) tafsir (kecuali Allah) sendiri-Nya (dan orang-orang yang mendalam) luas lagi kokok (ilmunya) menjadi mubtada, sedangkan khabarnya (berkata, kami beriman kepada ayat-ayat mutasyabihat) bahwa ia dari Allah, sedangkan kami tidak tahu akan maksudnya, (semua itu) baik yang muhkam maupun yang mutsyabih (dari sisi Tuhan kami, dan tidak ada yang mengambil pelajaran) (kecuali orang-orang yang berakal) yang mau berfikir. Mereka juga mengucapka hal berikut bila melihat orang-orang yang mengikuti mereka.
Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas, baik dari segi kosakata, susunan kalimat, istilah-istilah yang terdapat di dalamnya, perumpamaan-perumpamaan, maupun majaz-majaznya. Al-Qur’an disusun dengan menggunakan bahasa Arab sebagaimana terlihat pada huruf-huruf yang dipergunakannya. Al-Qur’an terdiri dari 114 surat di antaranya ayat-ayatnya ada yang bersifat muhkam dan ada yang bersifat mutasyabih. Di sini diterangkan bahwa sebagian ayat Al-Qur’an adalah bersifat menentukan (muhkam) dan sebagian lagi bersifat samar/ibarat (mutasyabih).
A. Pengertian Ayat Muhkam
Kata muhkam (محكم) dari kata hakama artinya mencegah, lalu dari kata ini digubah menjadi ahkama artinya ia membuat sesuatu menjadi kuat atau stabil, makna aslinya apa yang artinya tak berubah dan tak berganti. Kuat dan stabilnya ayat ini menjadikanya jelas dan terang pengertianya sehingga tidak ada samar. Dari sinilah kata muhkam diartikan dengan
آيات محكمات أي بينات واضحات الدلالة، لا التباس فيها على أحد من الناس
Artinya bahwa ayat muhkamaat adalah ayat-ayat yang jelas dan terang pengertianya dan tidak ada kesamaran bagi siapapun. Ali bin Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat-ayat muhkamat adalah المحكمات ناسخه، وحلاله وحرامه، وحدوده وفرائضه، وما يؤمر به ويعمل به Artinya “ ayat-ayat muhkamat adalah ayat-ayat yang menasakh, ayat-ayat yang mengenai halal-haram, huduud (hukuman), hukum-hukum, apa yang diperintahkan dan apa yang harus dikerjakan.
B. Pengertian Ayat Mutasyabih
Adapun kata mutasyabih (dari kata syibh artinya menyerupai atau mirip), makna aslinya apa yang dalam beberapa bagian serupa atau mirip. Oleh karena itu, kata mutasyabihat artinya barang yang menyerupai atau mirip dengan yang lain. Dipertegas lagi dalam tafsir Ibnu Kastir bahwa pengertian ayat-ayat mutasyabihat dengan uangkapan :
اشتباه في الدلالة على كثير من الناس أو بعضهم
Artinya: ayat-ayat mutasyabihat adalah ayat-ayat yang didalamnya terdapat kesamaran pengertian bagi kebanyakan atau sebagian orang.
Adapun pendapat Muqatil bin Hayyan bahwa yang dimaksud dengan ayat-ayat mutasyabihat adalah إنهن المنسوخة، والمقدم منه والمؤخر، والأمثال فيه والأقسام، وما يؤمن به ولا يعمل به (yang dinasakh, didahulukan, diakhirkan, perumpamaan-perumpamaan, sumpah, dan apa yang harus dipercayai tetapi bukan hal yang diamalkan). Pendapat lain mengatakan bahwa ia merupakan huruf-huruf yang terpotong di awal-awal surat seperti berikut 5 ragamnya: yakni
– satu huruf (seperti: Qaaf, Nuun, dan Saad)
– dua huruf (seperti: Haa Miim, Thaa Haa, Yaa Siin)
– tiga huruf (seperti: Alif Laam Miim, Alif Laam Raa’, Thaa Siin Miim)
– empat huruf (seperti Alif Laam Miim Raa’, Alif Laam Miim Saad)
– lima huruf (seperti: Haa Miim ‘Aiin Siin Qaaf, Kaah Haa Yaa ‘Ain Saad).
Adapun penjelasan Al-Ahruf al-Muqatha’ah secara detail terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 huruf tanpa diulang, yakni ح، ر، س، ص، ط، ع، ق، ك، ل، م، ن، ه، ي، ا . Adapun macam-macam bentuknya adalah sebagai berikut:
1. Terdiri dari satu huruf yang berjumlah tiga surat, yaitu: a. [ ص ] surat Shad, b.[ ق ] surat Qaf, c. [ ن ] surat Nun
2. Terdiri dari dua huruf yang berjumlah sembilan surat, yaitu: a. [ حم ] surat al-Mu’min, b. [ حم ] surat Fussilat, c. [ حم ] surat Asy-Shura, d. [ حم ] surat az-Zukhruf, e. [ حم ] surat ad-Dukhan, f. [ حم ] surat al-Jathiya, g. [ طس ] surat al-Naml, h. [ طه ] surat Thaha, dan i. [يس ] surat Yasin.
3. Terdiri dari tiga huruf yang berjumlah tiga belas surat. Enam surat yang diawali dengan alif lam mim dan lima surat yang diawali dengan alif lam ra’, yaitu: a. [ الم ] surat al-Baqarah, b. [ الم ] surat ali Imran,c . [ الم ] surat al-Ankabut, d. [ الم ] surat ar-Rum, f. [الم ] surat luqman, g. [ الم ] surat as-sajdah, h. [الر ] surat Yunus, i. [الر ] surat Hud, j. [الر ] surat Yusuf, k. [الر ] surat Ibrahim, l. [ الر ] surat al-Hijr, m. [طسم ] surat as-Syu’ara, dan n. [ طسم ] surat al-Qashash.
4. Terdiri dari empat huruf, yaitu: a. [ المص] surat al-A’raf,dan b. [ المر] surat ar-Ra’ad.
5. Terdiri dari lima huruf, yaitu: a. [ كهيعص ] surat Maryam, dan b.[حم عسق ] surat al-Syura
Dengan demikian, ayat-ayat mutasyabihaat adalah lawan dari ayat-ayat muhkamaat. Dan pendapat yang paling baik adalah pendapat Muhammad bin Ishaq bin Yasar, ketia ia mengatakan (منه ءايات محكمات) “Diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamaat”, maka ayat-ayat muhkamaat itu adalah hujjah Allah, pegangan bagi hamba dan penolak bantahan yang bathil; ayat-ayat yang tidak mengenal tashrif (penyimpangan) dan tahrif (perubahan) dari apa yang ditetapkan atasnya.
Lebih lanjut, Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata, “ayat-ayat mutasyabihaat dalam hal kebenaran itu tidak boleh ada tashrif, tahrif, dan takwil di dalamya. Dengan ini Allah menguji hamba-hamba-NYa sebagaimana Dia telah menguji mereka dalam masalah halal-haram. Agar demikian, benar-benar ayat-ayat tersebut disimpangkan kepada sesuatu yang bathil dan tidak pula dirubah dari kebenaran.
Sahabat Abdullah bin Abbas menjelaskan tafsir Al-Qur’an ada 4 bagian yaitu:
1. Setiap orang bisa menafsirkan (ما لا يعذر أحد بجهله). Umumnya ayat-ayat yang gaya bahasanya masih umum dan wajar sehingga setiap orang bisa menafsirkan contoh ayat قل هو الله أحد tanpa harus mentakwil kita bisa memahaminya bahwa Allah itu satu dan Maha Esa.
2. Setiap orang yang faham bahasa Arab (ما تعرفه العرب من كلامه) contohnya Nabi Musa ketika didanggu Allah وما تلك بيمينك ياموسى قَالَ هِيَ عَصَايَ أَتَوَكَّأُ عَلَيْهَا وَأَهُشُّ بِهَا عَلَى غَنَمِي وَلِيَ فِيهَا مَآَرِبُ أُخْرَى
3. Setiap orang yang Alim/ ulamak (ما تعلمه العلماء) seperti ayat yang menjelaskan kata قروء dalam ayat وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنْفُسِهِنَّ ثَلاثَةَ قُرُوءٍ tidak ada yang bisa menafsirkan kata ini sebelum orang tadi alim dan membelajari beberapa cabang ilmu bahasa Arab untuk bisa menentukan maknanya. Atau ayat قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا هو خير مما يجمعون artosipun : Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.
Ayat ini yang mengetahui hanya orang alim. Fadlal dan rahmatnya Allah yang dimaksud adalah Nabi Muhammad.
Kanjeng Nabi punya beberapa nama sebanyak 201 antara lain namanya adalah Rahmat dan Fadhal. Bahagia atas fadhal dan rahmatnya Allah (Nabi Muhammad) itu lebih baik dari pada isi dunia atau harta yang disimpan. Contoh pamannya Nabi Muhammad yang kita kenal nama Abu Lahab yang sudah dinass menempati neraka selamanya, namun karena Abu Lahab pernah bahagia saat kelahiran Nabi Muhammad (ponakanya) dengan memerdekakan budak, maka ia setiap hari senin di Neraka Jahim mendapat nikmat mendapat minum yang keluar ruas-ruas jarinya. Dalilnya:
إذا كان هذا كافر جاء ذنبه ** بتبت يداه في الجحيم مخلدا
أتى أنه في يوم الإثنين دائما ** يخفف عنه للسرور بأحمد
فما الظن بالعبد الذي طول عمره ** بأحمد مسرورا ومات موحدا
Artinya:
Jika orang kafir ini (abu lahab) dicela dalam surat “tabbat yadaa” ia kekal dalam neraka jahim..
Dalam satu hadist disebutkan bahwasanya setiap hari senin ia diringankan siksanya karena gembira mendengar kelahiran muhammad SAW..
Maka bagaimana dengan seorang hamba yang seluruh usianya merasa bahagia dan gembira dengan kelahiran muhammad SAW dan mati dalam keadaan membawa tauhid??
4. Tiada yang mengetahui tafsiran kecuali Allah (ما لا يعلمه إلا الله) : umumnya berisi ayat-ayat yang menjelaskan tentang sesuatu yang ghaib seperti kapan terjadinya hari kiamat, ayat-ayat yang berisi huruf muqatta’ah dan lain sebagainya.
Oleh karenya berangkat dari pemaparan sahabat Abdullah bin Abbas, bisa dikatakan bahwa jangan berani dan main-main dalam mengartikan ayat-ayat mutasyabihat sebelum ada indicator yang sangat kuat untuk dijadikan hujjah.
Oleh karena itu Allah berfirman (فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغ) artinya: Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan yaitu kesesatan dan keluar dari kebenaran menuju kebatilan, maka mereka hanya mengambil ayat-ayat mutasyabihat saja yang memungkinkan bagi mereka untuk merubahmya kepada maksud-maksud mereka yang rusak, lalu mereka menempatkan ayat-ayat tersebut sesuai dengan maksud-maksud mereka, dikarenakan lafazhnya memiliki kemungkinan (atas) kandungan tersebut.
Selanjutnya Allah memberitahukan mengenai keadaan orang-orang yang mendalam ilmunya itu, mereka berdoa kepada Rabb
رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ
Artinya: (Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)”
Tafsiran ayat di atas dalam kaca mata Tafsir Kitab Jalalain sebagai berikut:
{ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا } تُمِلْها عن الحق ابتغاء تأويله الذي لا يليق بنا كما أزغت قلوب أولئك {بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا } أرشدتنا إليه { وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ } من عندك { رَحْمَةً } تثبيتاً { إِنَّكَ أَنتَ الوهاب}
Artinya: (Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan) jangan diselewengkan dari kebenaran dengan mencari-cari tafsirnya yang tidak layak sebagaimana dialami oleh mereka (sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami ) bimbingan ke arah perkara yang benar, (dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau) keteguhan hati; (karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi) karunia.
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَنْ تُغْنِيَ عَنْهُمْ أَمْوَالُهُمْ وَلا أَوْلادُهُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا وَأُولَئِكَ هُمْ وَقُودُ النَّارِ (10) كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ (11)
Artinya: (10) Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka, sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah bahan bakar api neraka (11) (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir´aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya
Allah memberitahukan keadaan orang-orang kafir, bahwa mereka semua sebagai bahan bakar api Neraka. (يوم لا ينفع الظالمين معذرتهم ولهم اللعنة ولهم سوء الدار) “pada hari yang permintaan maaf orang-orang zhalim tidak berguna. Bagi mereka laknat dan bagi mereka pula tempat tinggal yang buruk (Q.S Al-Mu’min: 52) apa yang diberikan kepada mereka di dunia berupa harta kekayaan dan anak tidak lagi bermanfaat bagi mereka di sisi Allah. Tidak pula dapat menyelamatkan mereka dari adzab dan pedihnya siksaan yang dijanjikan-Nya, sebagaimana yang difirmankan-Nya, (فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ) artinya: Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir (Q.S. At-Taubah: 55)
Firman Allah :
كَدَأْبِ آلِ فِرْعَوْنَ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا فَأَخَذَهُمُ اللَّهُ بِذُنُوبِهِمْ وَاللَّهُ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: (keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum Fir´aun dan orang-orang yang sebelumnya; mereka mendustakan ayat-ayat Kami; karena itu Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosa mereka. Dan Allah sangat keras siksa-Nya.
Adh-Dhahak mengatakan dari Ibnu Abbas: Seperti apa yang dikerjakan oleh pengikut Fir’au. Demikian juga yang diriwayatkan dari ikrimah, mujahid, abu malik, adh-dhahak dan yang lainya. Diantara mereka ada yang mengatakan: “seperti kebiasaan yang dilakukan pengikut Fir’aun”. Ada juga yang mengatakan: “seperti yang diperbuat oleh para pengikut Fir’aun.
Dengan demikian makna ayat di atas adalah bahwa harta kekayaan dan anak-anak orang-orang kafir itu tidak lagi bermanfaat bagi mereka, bahkan sebaliknya akan menghancurkan dan menyiksa mereka, sebagaimana yang dialami oleh para pengikut Fir’aun dan orang-orang sebelum mereka, yaitu yang mendustakan Rasul dan apa yang dibawa oleh mereka dari ayat-ayat Allah dan hujjah-hujjahnya. (AJ)











