Pentas MARTIR: Ruang Publik Alternatif yang Menguji Kesadaran Sosial Penonton

oleh -272 Dilihat
oleh
Pementasan MARTIR (Resistensi Tiada Akhir) oleh Teater Minatani di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK). (Foto: Istimewa)

Kudus, Isknews.com – Pementasan MARTIR (Resistensi Tiada Akhir) oleh Teater Minatani di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK) menghadirkan pengalaman berbeda bagi penonton. Mengadopsi konsep Theatre of the Oppressed, pementasan ini tidak hanya menyajikan cerita, tetapi juga membuka ruang dialog dan partisipasi aktif dari audiens.

Salah satu fragmen yang menarik perhatian adalah kisah Roro Mendut yang ditafsir ulang dengan gaya punk serta narasi feminisme kontemporer. Ketika ketegangan dramatik mencapai puncaknya, fasilitator menghentikan adegan dan menawarkan tiga skenario penyelesaian: melapor ke lembaga perlindungan perempuan, membangun solidaritas komunitas, atau mencari dukungan terdekat. Penonton kemudian dipersilakan naik ke panggung untuk memberikan solusi sesuai sudut pandang masing-masing.

Dalam sesi dialog, sejumlah penonton menyoroti isu yang lebih luas, terutama minimnya minat masyarakat mempelajari sejarah resistensi serta bentuk-bentuk baru relasi kuasa di era digital yang tidak selalu hadir secara fisik, tetapi termanifestasi melalui hegemoni budaya dan kontrol opini publik. Mereka menilai pementasan ini mampu merefleksikan dinamika kekuasaan masa kini.

Fasilitator menutup forum dengan mengajak publik menyadari peran mereka sebagai warga yang berdaya, bukan hanya sebagai konsumen budaya. Perpaduan antara puitika rakyat dan pola teater partisipatif dinilai berhasil membentuk ruang publik alternatif di dalam auditorium.

Salah satu penonton menyampaikan kesan penutup, “Forum ini tidak mengukur pertunjukan, tetapi perubahan pada penonton, isu, dan pengalaman estetik sebagai warga yang berdaya.”

Pada akhir acara, seluruh peserta menuliskan komitmen untuk melakukan tindakan kecil sebagai bentuk resistensi dalam kehidupan sehari-hari. (*)

KOMENTAR SEDULUR ISK :
oleh