Jepara, isknews.com (Lintas Jepara) – Petani garam yang ada di Kecamatan Kedung, Jepara meminta pemerintah menjaga stabilisasi harga. Pasalnya, kini komoditas jenis ini harganya terus mengalami penurunan. Jika beberapa waktu lalu, harga garam bisa mencapai Rp.3 ribu/kilogram, kini harganya hanya sekitar Rp.1.125/ kilogramnya.
Selain stabilitas harga, petani garam juga meminta pemerintah memberikan insentif berupa pemberian bantuan plastik geo membran. Hal itu karena faktor produksi terbesar berasal dari material tersebut. Hal ini seperti disampaikan oleh salah seorang petani garam di Desa Bulakbaru Ahmad Adib, Senin (4/9/2017).

Menurutnya, penurunan harga lebih disebabkan dua hal. Pertama karena ini sudah memasuki puncak panen garam, yang kedua keran impor garam kan dibuka jadi otomatis memengaruhi harga. “Saat ini, garam krosok dijual per 80 kilogram. Sehingga harga yang setiap tombong adalah Rp 90 ribu sampai Rp 100 ribu,” katanya.
Adib memperkirakan, harga yang kini berlaku bisa stabil hingga memasuki musim penghujan. Namun hal itu bisa berubah ketika keran impor garam dari luar negeri dibuka besar-besaran. “Ini masih berpotensi untuk turun lagi harganya, namun ketika musim hujan harganya akan naik lagi, soalnya stok garam belum begitu banyak. Akan tetapi kalau impor dibuka lebar ya bisa lebih turun lagi,” jelasnya.
Selama ini, katanya, garam yang dihasilkan oleh petani garam di Jepara biasa dibeli oleh pembeli dari beberapa daerah seperti Solo, Belitung dan Pati yang digunakan untuk kebutuhan industri. (ZA)
KOMENTAR SEDULUR ISK :








