Kudus, isknews.com – Momentum bulan suci Ramadan membawa berkah bagi para pelaku usaha, termasuk produsen peci di Kabupaten Kudus. Salah satunya usaha peci “Kang Santri” milik M Noor Yasin yang berlokasi di Desa Honggosoco, Dukuh Karanganyar RT 3 RW 2. Menjelang Ramadan, penjualan peci di tempat ini melonjak tajam.
Aniqotul Afifah, istri pemilik usaha, mengungkapkan bahwa lonjakan permintaan mulai terasa sekitar sepekan sebelum Ramadan. Bahkan, peningkatan penjualan mencapai hingga tiga kali lipat dibandingkan hari-hari biasa.
“Mulai ramai itu sekitar seminggu sebelum puasa. Sekarang pesanan meningkat sampai tiga kali lipat,” ujarnya saat ditemui, Senin (16/3/2026).
Usaha yang dirintis sejak 2012 ini memproduksi berbagai jenis peci dengan merek “Kang Santri”. Mulai dari peci polos, motif, bordir, hingga peci anak-anak dengan berbagai desain seperti logo NU dan karakter kartun. Selain itu, pihaknya juga melayani pesanan dari sekolah-sekolah di Kudus.
Pasar produk ini tidak hanya berasal dari dalam daerah, tetapi juga menjangkau berbagai wilayah di Indonesia. Pembeli datang dari Pemalang, Rembang, Kuningan (Jawa Barat), hingga Papua. Penjualan juga dilakukan melalui marketplace seperti Shopee serta melalui para reseller.
Dalam proses produksi, usaha ini melibatkan delapan pekerja yang memiliki tugas masing-masing, mulai dari membuat pola, memotong kain, hingga menjahit. Satu penjahit mampu memproduksi sekitar 40 hingga 50 peci per hari.
“Ukuran peci yang kami buat mulai dari 0 sampai 12, dengan tinggi sekitar 8 sampai 9 sentimeter. Harganya mulai Rp50 ribu hingga Rp60 ribu, tergantung motif dan tingkat kerumitannya,” jelasnya.
Keunggulan peci “Kang Santri” terletak pada kualitas bahan dan variasi model yang beragam. Terdapat sekitar 19 motif yang ditawarkan, mulai dari motif bagian atas, bordir samping, profil, hingga laser. Salah satu tipe yang paling diminati adalah model AC tengah.
“Kami juga melayani pesanan custom, baik model maupun ukuran. Misalnya ada yang pesan ukuran tertentu dalam jumlah besar, tetap kami layani,” tambahnya.
Dalam periode menjelang Ramadan ini, pihaknya mampu menyelesaikan hingga 1.000 pesanan peci. Namun, untuk menjaga kualitas produksi, pesanan biasanya ditutup pada tanggal 10 Ramadan.
“Kalau ada pesanan setelah itu, kami sarankan setelah Lebaran saja karena masih banyak yang harus diselesaikan,” katanya.
Untuk menjaga kualitas, proses produksi dilakukan secara bertahap. Pemotongan kain dilakukan di tempat produksi, sementara proses penjahitan dikerjakan oleh pekerja di rumah masing-masing, kemudian dilakukan finishing kembali di lokasi utama.
“Quality control tetap kami lakukan secara detail agar hasilnya tetap bagus,” tegasnya.
Sementara itu, salah satu pembeli, Muslih, mengaku puas dengan produk peci tersebut. Ia menilai desain dan kualitasnya menarik. “Bagus, motifnya juga keren,” ujarnya. (AS/YM)






