Kudus, isknews.com – Suasana Ramadan di Kabupaten Kudus terasa semakin semarak dengan hadirnya destinasi ngabuburit bernuansa edukasi di Museum Jenang Kudus. Museum ini tak hanya menyuguhkan sejarah jenang sebagai ikon daerah, tetapi juga menampilkan koleksi religi yang memukau, mulai dari replika Al-Qur’an jumbo hingga Al-Qur’an mini dari Turki.
Menjelang waktu berbuka, museum tampak ramai dikunjungi kalangan muda, khususnya Generasi Z. Mereka berburu spot foto menarik sekaligus membuat konten media sosial bertema “Edisi Ramadan”.
Salah satu pengunjung asal Rembang, Dyah Nurmalasari, mengaku sengaja datang bersama temannya untuk mengisi waktu ngabuburit dengan cara berbeda.
“Ada replika Al-Qur’an raksasa yang besar sekali. Tadi saya mendekat saja tingginya masih jauh dari kepala saya. Terus ada juga yang kecil sekali, itu luar biasa,” ujarnya.
Replika Al-Qur’an jumbo tersebut memiliki ukuran 4 x 3 meter saat terbuka. Dalam posisi tertutup, ukurannya 2 x 3 meter dengan ketebalan 40 sentimeter dan berat mencapai 150 kilogram. Di bagian depannya, tertata Al-Qur’an mini dari Istanbul, Turki, yang menambah daya tarik koleksi tersebut.
Tak hanya itu, di belakangnya juga dipamerkan berbagai Al-Qur’an kuno, mulai dari yang berbahan daun lontar, kulit sapi, hingga Al-Qur’an berlapis emas dan tulisan tangan. Koleksi ini menjadi salah satu wujud implementasi nilai “ngaji” dalam filosofi Gusjigang khas Kudus.
Pengunjung asal Pati, Davina Valencia Ernandia, juga mengaku terkesan dengan kemegahan koleksi tersebut. Menurutnya, ngabuburit di museum memberikan pengalaman berbeda karena selain berfoto, ia juga bisa belajar sejarah dan budaya.
Kepala Museum Jenang Kudus, Hesti Tri Hartanto, menjelaskan bahwa museum yang berdiri sejak 2017 ini memiliki sekitar 750 koleksi yang menceritakan perjalanan sejarah Kudus. Dari pintu masuk, pengunjung disambut kisah perjalanan jenang Kudus yang telah dirintis sejak 1910 dan diwariskan secara turun-temurun.
Selain koleksi religi, museum ini juga menghadirkan diorama Pasar Bubar Menara era 1930-an, replika rumah adat Joglo Pencu, ruang kaligrafi, Omah Kapal, hingga koleksi tokoh dan budaya lokal.
“Konsepnya jelajah ruang dan waktu. Jadi pengunjung tidak hanya berfoto, tetapi juga belajar sejarah dan memahami nilai-nilai budaya Kudus,” jelasnya.
Dengan perpaduan edukasi, religi, dan spot foto instagramable, Museum Jenang Kudus kini menjadi salah satu destinasi favorit masyarakat untuk mengisi waktu sore Ramadan sebelum azan Magrib berkumandang. (AS/YM)









