Kudus, isknews.com – Para pegiat literasi dan komunitas sastra dirangkul Lesbumi PCNU Kudus dengan melaunching buku Sastra Purbakala: Puisi, Narasi, dan Wacana Pemajuan Budaya. Kegiatan yang digelar di Joglo Golantepus, Kompleks PP Zainal Chusain, Ahad (1/2/2026) ini menjadi bagian dari rangkaian Lesbumi Writers Festival (LWF) sekaligus refleksi menuju 2 Abad Nahdlatul Ulama.
Peluncuran buku tidak hanya menjadi seremoni penerbitan karya, tetapi juga ruang temu yang mempertemukan penulis, komunitas literasi, dan pegiat budaya dalam dialog yang hangat dan reflektif. Acara dirangkai dengan talkshow penulis serta penampilan live music Sangita Lesbumi yang menambah suasana kontemplatif.
Ketua Lesbumi PCNU Kudus, Abud S.B Runcing, menyampaikan rasa syukur atas terbitnya buku yang telah lama menjadi gagasan bersama. Ia menuturkan bahwa Sastra Purbakala lahir dari proses panjang dialog dan perenungan kolektif di tubuh Lesbumi.
“Bismillah dan alhamdulillah, buku yang selama ini menjadi gagasan pengembangan kebudayaan akhirnya bisa kami launching. Terima kasih kepada para penuang ide dan gagasan, mulai dari KH Jadul Maula selaku Ketua Umum Lesbumi PBNU hingga H. Akhwan selaku Majelis Kebudayaan,” ungkapnya.
Menurutnya, buku tersebut merupakan endapan kegelisahan kolektif yang dituangkan dalam bentuk puisi, narasi, sekaligus strategi wacana pemajuan kebudayaan.
Talkshow menghadirkan sejumlah narasumber dengan latar belakang berbeda. Miftahurrohmah, penulis novel Gus Mantan, berbagi pengalaman proses kreatifnya. Bagus Dwi Hananto, peraih Penghargaan Sastra Badan Bahasa Kemendikdasmen 2024, mengulas sastra sebagai medium refleksi dan kritik kebudayaan. Sementara Edi Buseng, produser Ligusty Poeziya sekaligus manajer LWF, menekankan pentingnya ruang temu bagi penulis dan pegiat literasi.
Edi Buseng menilai launching buku yang dibarengi talkshow menghadirkan dialog yang hidup dan terbuka. “Launching buku bukan sekadar perayaan karya, tetapi momentum berbagi proses dan gagasan di balik penulisan,” ujarnya.
Kegiatan ini turut dihadiri H. Akhwan selaku Majelis Kebudayaan Lesbumi Kudus, Dr. H. Nur Said selaku Sekretaris PCNU Kudus, jajaran banom dan lembaga NU, serta komunitas sastra dan literasi dari berbagai kampus di Kudus.
Dalam kesempatan itu, Nur Said mengapresiasi langkah Lesbumi Kudus yang menghadirkan sastra sebagai medium refleksi ke-NU-an menjelang dua abad berdirinya NU. Menurutnya, sastra dan kebudayaan memiliki peran penting dalam merawat nilai keislaman yang inklusif dan berakar pada tradisi.
Launching buku Sastra Purbakala menjadi penanda bahwa refleksi menuju 2 Abad NU juga dapat ditempuh melalui jalan sastra, sebagai ruang sunyi untuk merawat kegelisahan, harapan, dan ingatan kolektif bersama. (AS/YM)







